Piala Dunia 2026 semula diprediksi menjadi turnamen terbesar dalam sejarah sepak bola dunia. Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko mendapat kehormatan sebagai tuan rumah bersama untuk edisi dengan format baru 48 tim.
Namun, menjelang satu bulan laga pembuka, tanda-tanda penurunan antusiasme mulai terlihat. Penjualan tiket belum mencapai target dan tingkat pemesanan hotel di sejumlah kota tuan rumah juga melambat.
Piala Dunia 2026 sebelumnya diperkirakan memberi dampak ekonomi sangat besar. FIFA dan Organisasi Perdagangan Dunia bahkan memproyeksikan nilai ekonomi global mencapai US$80,1 miliar atau sekitar Rp1.320 triliun.
Amerika Serikat diprediksi menjadi negara dengan keuntungan terbesar karena menggelar 78 dari total 104 pertandingan. Final turnamen juga akan berlangsung di MetLife Stadium pada 19 Juli 2026.
Meski demikian, kondisi di lapangan kini mulai memunculkan banyak pertanyaan mengenai realisasi target besar tersebut.
Janji Besar FIFA Mulai Dipertanyakan
FIFA sejak awal mempromosikan Piala Dunia 2026 sebagai momentum besar bagi perkembangan sepak bola global. Format baru 48 tim dianggap mampu meningkatkan daya tarik turnamen.
Selain itu, jumlah pertandingan yang lebih banyak diprediksi memberi dampak ekonomi besar bagi negara tuan rumah. Pemerintah federal hingga kota penyelenggara sudah mengeluarkan dana besar untuk infrastruktur dan keamanan.
Asosiasi Perjalanan Amerika Serikat bahkan memperkirakan wisatawan internasional menghabiskan lebih dari US$5.000 per orang selama turnamen berlangsung. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding wisatawan biasa.
Akan tetapi, ekspektasi tersebut belum sepenuhnya terlihat menjelang kick-off. Beberapa indikator menunjukkan minat wisatawan dan penonton belum mencapai angka yang diharapkan.
Situasi ini mulai memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku industri pariwisata dan olahraga. Banyak pihak mempertanyakan apakah Piala Dunia 2026 benar-benar mampu memenuhi proyeksi ekonomi besar dari FIFA.
Selain faktor ekonomi global, kebijakan internal Amerika Serikat juga dinilai memberi dampak terhadap minat wisatawan asing.
Penjualan Tiket dan Hotel Mengalami Penurunan
Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebelumnya sempat menyebut seluruh pertandingan sudah terjual habis pada Februari lalu. Namun, pernyataan tersebut kemudian dipertanyakan karena tiket masih tersedia di situs resmi FIFA.
Harga tiket di pasar penjualan ulang juga mengalami penurunan cukup signifikan. Tiket pertandingan Arab Saudi melawan Cabo Verde misalnya turun dari US$234 menjadi sekitar US$160.
Penurunan harga tersebut menunjukkan permintaan pasar belum stabil. Selain itu, sejumlah pertandingan lain juga mengalami tren serupa di platform penjualan ulang.
Kondisi tidak jauh berbeda terjadi di sektor hotel. Tarif kamar di beberapa kota tuan rumah turun hampir sepertiga dibanding harga tertinggi sebelumnya.
Asosiasi Hotel dan Penginapan Amerika Serikat mengungkap banyak pelaku industri belum puas dengan tingkat pemesanan saat ini. Sekitar 80 persen hotel disebut masih berada di bawah target.
Kansas City bahkan mengalami kondisi lebih buruk. Permintaan kamar hotel di kota tersebut disebut lebih rendah dibanding musim panas biasa.
Selain hotel, data perjalanan internasional juga menunjukkan penurunan minat wisatawan Eropa menuju Amerika Serikat. Pemesanan penerbangan untuk Juli turun 14 persen dibanding tahun sebelumnya.
Situasi tersebut membuat kekhawatiran mengenai atmosfer turnamen semakin meningkat. Piala Dunia biasanya selalu identik dengan lonjakan wisatawan dan stadion penuh penonton.
Kebijakan Visa Amerika Jadi Sorotan
Banyak pihak menilai kebijakan imigrasi Amerika Serikat menjadi salah satu penyebab utama menurunnya minat wisatawan asing. Proses visa yang rumit dianggap menyulitkan pendukung dari berbagai negara.
Presiden dan CEO U.S. Travel Association, Geoff Freeman, menilai wisatawan datang bukan hanya untuk sepak bola. Mereka juga ingin menikmati pengalaman liburan selama berada di Amerika Serikat.
Namun, aturan perjalanan yang semakin ketat membuat sebagian wisatawan memilih menunda rencana keberangkatan. Selain itu, proses administrasi visa dinilai terlalu panjang dan tidak praktis.
Lebih dari 120 kelompok bahkan mengeluarkan peringatan bagi pengunjung internasional. Mereka meminta wisatawan berhati-hati saat bepergian ke Amerika Serikat.
Presiden Hotel Association of New York City, Vijay Dandapani, juga mengkritik kebijakan visa pemerintah federal. Menurutnya, aturan tersebut menghambat pertumbuhan jumlah tamu hotel menjelang Piala Dunia 2026.
Kondisi ini tentu menjadi tantangan besar bagi FIFA dan negara tuan rumah. Sebab, keberhasilan Piala Dunia tidak hanya bergantung pada pertandingan di lapangan.
Harga Tiket Dinilai Terlalu Mahal
Selain persoalan visa, harga tiket juga menjadi sorotan utama. Banyak pendukung sepak bola menilai harga tiket Piala Dunia 2026 terlalu tinggi.
Analisis The Guardian menunjukkan tiket termurah edisi 2026 sekitar enam kali lebih mahal dibanding rata-rata turnamen periode 2006 hingga 2022. Kenaikan tersebut dipicu sistem dynamic pricing yang digunakan FIFA.
Sistem itu membuat harga tiket berubah sesuai permintaan pasar. Akibatnya, harga sejumlah pertandingan melonjak sangat tinggi.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan ikut mengkritik harga tiket pertandingan pembuka timnas Amerika Serikat melawan Paraguay. Harga tiket laga tersebut mencapai sekitar US$1.000.
Trump mengaku tidak tertarik membayar tiket semahal itu. Pernyataannya langsung memicu perdebatan di kalangan penggemar sepak bola.
Meski menghadapi banyak kritik, FIFA tetap optimistis turnamen akan berjalan sukses. Organisasi sepak bola dunia tersebut berharap penjualan tiket meningkat mendekati hari pertandingan.
Selain itu, FIFA yakin antusiasme suporter internasional akan kembali naik saat atmosfer Piala Dunia mulai terasa. Namun, situasi saat ini tetap menjadi perhatian besar menjelang dimulainya turnamen terbesar sepak bola dunia tersebut.






