Kutukan Bayern Munchen di semifinal Liga Champions kembali berlanjut setelah mereka gagal membalikkan keadaan melawan PSG pada musim 2025/2026. Hasil ini memperpanjang rekor buruk Die Roten setiap kali tertinggal pada leg pertama fase empat besar kompetisi elite Eropa tersebut.
Kutukan Bayern Munchen kembali menjadi sorotan setelah mereka tersingkir secara dramatis dari Liga Champions. Bermain di Allianz Arena, wakil Jerman itu hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan PSG pada leg kedua semifinal.
Hasil tersebut membuat Bayern Munich kalah agregat 5-6 dari Paris Saint-Germain. Sebelumnya Bayern kalah 4-5 pada leg pertama yang berlangsung di Paris.
Kegagalan ini terasa semakin menyakitkan karena Bayern kembali gagal bangkit setelah tertinggal di leg pertama semifinal. Dalam sejarah Liga Champions, mereka memang belum pernah sukses membalikkan keadaan dalam situasi tersebut.
Padahal Bayern datang ke musim ini dengan ambisi besar mengangkat trofi Liga Champions. Kehadiran pemain seperti Harry Kane membuat harapan suporter semakin tinggi.
Namun pada akhirnya, Bayern kembali harus menghentikan langkah mereka di fase semifinal. PSG menjadi tim terbaru yang memperpanjang catatan buruk raksasa Bundesliga tersebut.
Rekor Buruk Bayern di Semifinal Liga Champions
Kegagalan Bayern musim ini bukan kejadian pertama dalam sejarah klub. Rekor buruk mereka di semifinal Liga Champions ternyata sudah berlangsung sangat lama.
Setiap kali kalah pada leg pertama semifinal, Bayern selalu gagal melakukan comeback. Statistik itu kini kembali bertambah setelah tersingkir dari PSG.
Kutukan tersebut pertama kali terjadi pada musim 1999/2000. Saat itu Bayern kalah agregat 2-3 dari Real Madrid.
Empat belas tahun kemudian, Real Madrid kembali menjadi mimpi buruk Bayern. Pada semifinal musim 2013/2014, klub asal Spanyol itu menang telak dengan agregat 5-0.
Kekalahan tersebut menjadi salah satu hasil paling menyakitkan bagi Bayern di era modern. Mereka gagal menunjukkan dominasi sebagai juara bertahan Eropa saat itu.
Masalah serupa terus muncul pada musim-musim berikutnya. Bayern terlihat kesulitan bangkit ketika berada dalam tekanan besar di semifinal.
Pada musim 2014/2015, giliran Barcelona yang menghentikan langkah Bayern. Klub Catalan menang agregat 5-3 setelah tampil efektif di leg pertama.
Setahun kemudian, Bayern kembali mengalami nasib pahit. Mereka tersingkir dari semifinal setelah kalah aturan gol tandang melawan Atletico Madrid.
Agregat sebenarnya berakhir imbang 2-2. Namun Bayern gagal lolos karena aturan gol tandang yang saat itu masih berlaku.
PSG Jadi Luka Baru untuk Die Roten
Musim 2025/2026 menghadirkan cerita serupa bagi Bayern Munchen. Mereka kembali harus mengakui keunggulan lawan setelah kalah di leg pertama semifinal.
PSG tampil sangat agresif pada pertemuan pertama di Paris. Duel tersebut bahkan menghasilkan sembilan gol dalam pertandingan yang berlangsung sangat terbuka.
Bayern sebenarnya masih memiliki harapan besar saat kembali ke Allianz Arena. Dukungan puluhan ribu suporter membuat atmosfer pertandingan terasa sangat panas.
Namun harapan itu langsung mendapat pukulan cepat. Ousmane Dembele mencetak gol pada menit ketiga untuk membawa PSG unggul.
Gol cepat tersebut membuat Bayern semakin tertekan. Mereka membutuhkan lebih banyak gol untuk membalikkan agregat.
Sepanjang pertandingan, Bayern memang tampil menyerang. Akan tetapi efektivitas penyelesaian akhir menjadi masalah besar bagi tim asuhan Vincent Kompany.
Kontroversi VAR juga sempat memanaskan laga. Bayern meminta penalti setelah bola mengenai tangan Joao Neves di kotak penalti PSG.
Namun wasit tetap melanjutkan pertandingan. Keputusan tersebut memicu protes keras dari pemain dan suporter Bayern.
Di penghujung laga, Harry Kane sempat mencetak gol penyama kedudukan menjadi 1-1. Sayangnya gol itu tidak cukup untuk menyelamatkan Bayern dari eliminasi.
PSG akhirnya memastikan tiket final dengan agregat 6-5. Sang juara bertahan pun sukses melangkah ke partai puncak secara beruntun.
Mentalitas Bayern Mulai Dipertanyakan
Kegagalan berulang di semifinal mulai memunculkan pertanyaan besar soal mentalitas Bayern Munchen. Banyak pihak menilai mereka kesulitan tampil maksimal dalam tekanan besar.
Secara kualitas skuad, Bayern tetap termasuk salah satu tim terbaik Eropa. Mereka memiliki pemain berpengalaman di hampir setiap lini permainan.
Namun saat menghadapi situasi tertinggal di semifinal, performa mereka sering menurun. Hal itu terlihat kembali dalam duel melawan PSG.
Lini pertahanan Bayern juga menjadi sorotan besar sepanjang musim ini. Mereka terlalu mudah kebobolan saat menghadapi lawan dengan kualitas serangan tinggi.
Pada leg pertama saja, Bayern kebobolan lima gol dari PSG. Situasi itu membuat beban mereka semakin berat saat tampil di kandang sendiri.
Selain itu, organisasi pertahanan mereka terlihat kurang konsisten dalam momen penting. Beberapa kesalahan kecil akhirnya memberikan dampak sangat besar.
Di sisi lain, lini depan Bayern sebenarnya cukup produktif. Harry Kane kembali menunjukkan kualitasnya sebagai striker utama tim.
Namun ketajaman lini serang tidak mampu menutupi kelemahan pertahanan. Bayern tetap gagal mencapai final meski mampu mencetak lima gol dalam dua leg semifinal.
Harapan Harry Kane Kembali Tertunda
Kegagalan Bayern juga menjadi pukulan besar bagi Harry Kane. Striker asal Inggris itu kembali gagal meraih trofi Liga Champions pertamanya.
Sejak bergabung dengan Bayern, Kane memang membawa ekspektasi besar. Banyak pihak berharap ia mampu membantu klub kembali mendominasi Eropa.
Musim ini Kane tampil cukup tajam sepanjang kompetisi. Akan tetapi performa individunya belum cukup membawa Bayern ke final.
Bagi para pendukung Bayern, eliminasi kali ini terasa sangat menyakitkan. Mereka berharap Allianz Arena bisa menjadi tempat kebangkitan tim menuju final.
Namun kutukan semifinal kembali menghancurkan harapan tersebut. Bayern sekali lagi gagal bangkit setelah tertinggal di leg pertama.
Kini Die Roten harus kembali mengevaluasi performa mereka di kompetisi Eropa. Jika tidak segera memperbaiki kelemahan, kutukan semifinal itu bisa terus berlanjut pada musim-musim berikutnya.






