Wali Kota Madrid melontarkan kritik keras kepada UEFA setelah Atletico Madrid tersingkir dari Liga Champions 2025/2026. Ia menilai Arsenal tidak hanya menghadapi Atletico Madrid, tetapi juga mendapatkan keuntungan dari keputusan kontroversial perangkat pertandingan.
Arsenal memastikan tiket final Liga Champions setelah mengalahkan Atletico Madrid dengan agregat 2-1. Kemenangan tersebut diraih usai The Gunners menang tipis 1-0 di Emirates Stadium.
Gol tunggal kemenangan dicetak Bukayo Saka menjelang akhir babak pertama. Hasil itu membawa Arsenal kembali ke final Liga Champions setelah penantian selama dua dekade.
Namun, keberhasilan Arsenal justru memunculkan polemik besar di Spanyol. Wali Kota Madrid, Jose Luis Martinez-Almeida, menuding UEFA berlaku tidak adil terhadap Atletico Madrid sepanjang pertandingan semifinal tersebut.
Ia bahkan menyebut Atletico bukan hanya melawan Arsenal di lapangan. Menurutnya, klub asuhan Diego Simeone juga harus menghadapi keputusan-keputusan yang menguntungkan lawan.
Pernyataan keras tersebut langsung memicu perdebatan luas di media sosial. Banyak pihak mendukung kritik Martinez-Almeida, sementara sebagian lainnya menilai tuduhan tersebut terlalu berlebihan.
Penunjukan Wasit Jadi Sorotan Utama
Martinez-Almeida pertama kali menyoroti keputusan UEFA dalam memilih wasit pertandingan. Ia mempertanyakan alasan penunjukan wasit asal Jerman untuk memimpin laga klub Spanyol.
Menurutnya, keputusan itu menimbulkan konflik kepentingan yang tidak seharusnya terjadi di semifinal Liga Champions. Apalagi Spanyol dan Jerman sedang bersaing memperebutkan slot tambahan Liga Champions musim depan.
Situasi tersebut membuat tuduhan bias semakin berkembang. Martinez-Almeida menilai UEFA seharusnya memilih perangkat pertandingan dari negara netral.
Ia menganggap penunjukan wasit Jerman membuka ruang kecurigaan publik. Oleh karena itu, keputusan-keputusan kontroversial sepanjang laga semakin mudah diperdebatkan.
“Begitu melihat hasil undian, saya sempat berpikir kami akan melawan Arsenal, tapi saya salah. Kami harus bermain melawan UEFA,” ujar Martinez-Almeida kepada media Spanyol.
Ia juga menyebut UEFA tidak menginginkan Atletico tampil di final Liga Champions musim ini. Pernyataan itu langsung menjadi perhatian besar di dunia sepak bola Eropa.
Selain wasit utama, Martinez-Almeida turut menyoroti keberadaan wasit VAR dari negara yang sama. Menurutnya, hal itu semakin memperkuat dugaan adanya keberpihakan dalam pertandingan.
Polemik tersebut berkembang cepat karena laga berjalan sangat ketat. Atletico merasa beberapa keputusan penting tidak berpihak kepada mereka.
Kontroversi VAR Warnai Duel Arsenal vs Atletico
Laga Arsenal melawan Atletico memang menghadirkan sejumlah momen kontroversial. Salah satunya terjadi ketika Atletico meminta penalti pada babak kedua.
Insiden itu melibatkan Riccardo Calafiori dan Giuliano Simeone di kotak penalti Arsenal.
Awalnya pemain Atletico meminta penalti karena menganggap terjadi pelanggaran. Namun wasit membatalkan situasi tersebut setelah melihat indikasi offside dalam proses serangan.
Keputusan itu memicu kemarahan kubu Atletico Madrid. Mereka merasa tayangan ulang yang ditampilkan tidak cukup jelas untuk memastikan offside.
Martinez-Almeida juga menyoroti minimnya tayangan ulang dari pihak penyiar resmi pertandingan. Ia menilai publik tidak memperoleh sudut kamera yang memadai untuk melihat insiden tersebut.
Menurutnya, situasi itu justru memperbesar kecurigaan terhadap UEFA. Banyak suporter Atletico kemudian ikut mempertanyakan transparansi tayangan pertandingan.
“Sangat tidak masuk akal tidak ada satu pun tayangan ulang mengenai offside Giuliano padahal itu adalah penalti yang jelas,” kata Martinez-Almeida.
Ia juga menilai keputusan tersebut terlalu cepat diambil tanpa penjelasan memadai kepada publik. Oleh karena itu, polemik VAR terus menjadi pembahasan utama setelah laga selesai.
Selain insiden tersebut, Atletico juga beberapa kali memprotes keputusan kecil sepanjang pertandingan. Namun wasit tetap melanjutkan laga tanpa mengubah keputusan awal.
Arsenal Tetap Tampil Solid di Tengah Kontroversi
Terlepas dari polemik yang berkembang, Arsenal tetap menunjukkan performa disiplin sepanjang pertandingan. Tim asuhan Mikel Arteta tampil sangat rapi dalam bertahan.
Arsenal juga mampu memanfaatkan peluang penting melalui Bukayo Saka. Gol pemain timnas Inggris itu menjadi pembeda utama dalam duel semifinal.
Selain Saka, lini pertahanan Arsenal juga tampil solid menghadapi tekanan Atletico. William Saliba dan Gabriel Magalhaes beberapa kali mematahkan serangan lawan.
Kiper David Raya juga tampil cukup tenang sepanjang pertandingan. Ia berhasil menjaga konsentrasi saat Atletico meningkatkan intensitas serangan.
Arsenal memang tidak mendominasi penguasaan bola sepenuhnya. Namun mereka tampil efektif dalam mengatur tempo permainan.
Selain itu, pengalaman bermain di laga besar mulai terlihat dalam skuad muda Arsenal. Tim asal London Utara tersebut mampu menjaga fokus hingga peluit panjang berbunyi.
Kemenangan ini menjadi pencapaian penting bagi Arsenal. Mereka akhirnya kembali ke final Liga Champions setelah terakhir tampil pada musim 2005/2006.
Kini Arsenal tinggal menunggu lawan di partai puncak antara Paris Saint-Germain atau Bayern Munich.
UEFA Belum Berikan Tanggapan Resmi
Hingga saat ini, UEFA belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan dari Wali Kota Madrid. Organisasi sepak bola Eropa itu juga belum mengomentari polemik VAR dalam semifinal tersebut.
Meski demikian, kontroversi ini diperkirakan masih akan terus dibahas dalam beberapa hari ke depan. Terutama karena pertandingan semifinal Liga Champions selalu mendapat perhatian besar dunia.
Di sisi lain, Atletico Madrid harus segera mengalihkan fokus ke kompetisi domestik. Mereka masih memiliki agenda penting di La Liga musim ini.
Sementara itu, Arsenal mulai bersiap menghadapi final Liga Champions yang akan berlangsung di Budapest. Atmosfer kepercayaan diri mereka meningkat setelah menyingkirkan Atletico.
Walau kontroversi terus berkembang, hasil pertandingan tetap tidak berubah. Arsenal resmi melangkah ke final dan menjaga mimpi meraih gelar Liga Champions pertama dalam sejarah klub.






