El Clasico kembali memanas jelang pertemuan Real Madrid kontra Barcelona akhir pekan ini. Sorotan besar tertuju kepada Alvaro Arbeloa yang untuk pertama kalinya datang ke Camp Nou sebagai pelatih kepala Real Madrid.
Nama Alvaro Arbeloa memang tidak pernah lepas dari kontroversi saat menghadapi Barcelona. Mantan bek Real Madrid itu memiliki sejarah panjang penuh tensi dengan rival abadinya tersebut sejak era Jose Mourinho.
Situasi semakin menarik karena Barcelona berpeluang mengunci gelar La Liga musim ini. Di sisi lain, Arbeloa sedang berada dalam tekanan besar setelah rumor pergantian pelatih kembali muncul di Madrid.
Pertandingan nanti bukan sekadar perebutan tiga poin. Duel tersebut juga membawa kembali memori panas rivalitas Real Madrid dan Barcelona dalam satu dekade terakhir.
Rivalitas Arbeloa dengan Barcelona Sudah Lama Memanas
Real Madrid dan Barcelona selalu menghadirkan duel penuh emosi. Dalam periode itu, Alvaro Arbeloa menjadi salah satu figur paling vokal dari kubu Madrid.
Sebagai pemain, Arbeloa dikenal memiliki gaya bermain agresif. Ia beberapa kali terlibat benturan keras dengan pemain Barcelona di atas lapangan.
Puncak rivalitas itu muncul pada era kepelatihan Jose Mourinho antara 2010 hingga 2013. Saat itu, hampir setiap El Clasico diwarnai konflik besar.
Arbeloa menjadi salah satu pemain paling loyal kepada Mourinho. Karena itu, ia sering tampil dengan emosi tinggi dalam pertandingan melawan Barcelona.
Salah satu momen paling terkenal terjadi pada final Supercopa de Espana 2017. Ketika Cristiano Ronaldo menerima kartu merah, Arbeloa langsung meluapkan kemarahannya di media sosial.
Ia menilai keputusan wasit merugikan Real Madrid. Selain itu, Arbeloa juga menyindir Barcelona melalui unggahan bernada kontroversial.
Komentar tersebut semakin memperkuat citranya sebagai figur Madrid yang keras terhadap Barcelona. Hingga sekarang, hubungan Arbeloa dengan rival utama Los Blancos tetap dipenuhi tensi tinggi.
Era Mourinho Membentuk Karakter Arbeloa
Masa kepemimpinan Mourinho di Madrid memang menjadi salah satu periode paling panas dalam sejarah El Clasico. Intensitas pertandingan saat itu jauh melampaui rivalitas biasa.
Arbeloa merasa kekalahan telak 0-5 dari Barcelona pada 2010 menjadi titik balik besar bagi Madrid. Menurutnya, selebrasi lima jari Gerard Pique membuat skuad Madrid tersulut emosi.
Kekalahan tersebut meninggalkan luka mendalam di ruang ganti Madrid. Karena itu, setiap pertemuan berikutnya melawan Barcelona selalu berjalan keras.
Pada final Copa del Rey 2011, Arbeloa kembali menjadi pusat perhatian. Ia terlihat menginjak David Villa dalam salah satu duel panas di lapangan.
Insiden itu memicu kritik besar terhadap dirinya. Namun beberapa waktu kemudian, Arbeloa justru menanggapinya dengan candaan.
Ketegangan tidak hanya terjadi di lapangan. Perseteruan antara pemain kedua tim juga berlanjut melalui media sosial dan wawancara publik.
Selain itu, Arbeloa beberapa kali menuduh Barcelona mendapat keuntungan dari keputusan wasit. Pernyataan tersebut semakin memperbesar konflik antarkedua kubu.
Perang Sindiran Arbeloa dan Gerard Pique
Hubungan buruk Arbeloa dengan Gerard Pique menjadi salah satu cerita paling terkenal dalam rivalitas El Clasico. Keduanya beberapa kali saling menyerang lewat komentar publik.
Pada 2015, Madrid didiskualifikasi dari Copa del Rey karena memainkan Denis Cheryshev yang tidak memenuhi syarat. Saat itu, Pique mengejek situasi tersebut di media sosial.
Arbeloa kemudian membalas sindiran tersebut dengan komentar sarkastis. Ia menyebut suatu hari nanti Pique cocok tampil di acara komedi.
Balasan Pique justru lebih tajam. Bek Barcelona itu mengatakan Arbeloa bukan temannya dan hanya sekadar kenalan biasa.
Pique juga menyindir kualitas permainan Arbeloa secara terbuka. Komentar tersebut langsung memancing reaksi besar dari pendukung Madrid.
Perseteruan keduanya terus berlangsung dalam beberapa tahun berikutnya. Bahkan setelah pensiun, Arbeloa masih sering mengkritik Barcelona di ruang publik.
Selain membahas wasit, ia juga beberapa kali menyinggung kasus Negreira yang melibatkan Barcelona. Karena itu, namanya kembali ramai dibicarakan menjelang El Clasico terbaru.
Arbeloa Kini Hadapi Tekanan Sebagai Pelatih Madrid
Kini situasinya berbeda bagi Arbeloa. Ia tidak lagi datang sebagai pemain, melainkan sebagai pelatih kepala Real Madrid.
Namun karakter kerasnya tampaknya belum berubah. Arbeloa tetap menunjukkan sikap tegas setiap kali membahas Barcelona dan rivalitas El Clasico.
Tekanan terhadap dirinya juga semakin besar. Laporan media Spanyol menyebut manajemen Madrid sedang mempertimbangkan opsi pelatih baru musim depan.
Nama Jose Mourinho bahkan kembali dikaitkan dengan kursi pelatih Madrid. Situasi itu membuat masa depan Arbeloa belum sepenuhnya aman.
Meski begitu, Arbeloa tetap fokus menghadapi laga melawan Barcelona. Ia memahami pertandingan ini bisa menentukan nasibnya sebagai pelatih.
Selain itu, duel nanti berpotensi menjadi panggung pesta juara Barcelona. Karena itu, Madrid tentu ingin merusak momentum rival abadinya tersebut.
Camp Nou dipastikan menghadirkan atmosfer panas sepanjang pertandingan. Tekanan besar akan mengiringi setiap keputusan Arbeloa di pinggir lapangan.






