Pemenang dan pecundang babak playoff Liga Champions 2025/2026 menjadi sorotan setelah fase krusial ini resmi berakhir. Format baru dengan tambahan satu ronde langsung menghadirkan tekanan tinggi bagi banyak tim elite. Akibatnya, sejumlah raksasa harus berjuang ekstra demi mengamankan tiket 16 besar.
Keputusan UEFA memperluas peserta membuat jalur gugur semakin panjang. Klub seperti Real Madrid dan Paris Saint-Germain tidak bisa melaju dengan mudah. Selain itu, tim unggulan lain justru tersandung saat peluang terbuka lebar.
Fase ini menyajikan kombinasi kejutan, penampilan individu gemilang, dan kehancuran menyakitkan. Oleh karena itu, daftar pemenang dan pecundang menjadi cermin dinamika kompetisi musim ini.
Pemenang: Vinicius Junior Bangkit di Momen Penting
Sorotan utama tertuju pada Vinicius Junior saat Real Madrid menghadapi Benfica. Laga berlangsung dalam atmosfer panas dan penuh tekanan. Absennya Kylian Mbappe membuat beban serangan bertumpu pada winger asal Brasil tersebut.
Madrid sempat kesulitan mengimbangi intensitas lawan. Namun, Vinicius menunjukkan ketenangan saat peluang emas datang. Ia mencetak gol penentu dalam kemenangan 2-1 yang memastikan agregat 3-1.
Gol tersebut lahir dari kerja sama cepat dengan Federico Valverde. Penyelesaian akhirnya melewati Anatoliy Trubin tanpa ragu. Selebrasi penuh emosi menjadi simbol kebangkitannya musim ini.
Kontribusi itu menegaskan kapasitasnya sebagai pemain kunci. Yang terpenting, ia menjawab tekanan dengan performa konkret. Madrid pun melangkah ke babak berikutnya dengan kepercayaan diri terjaga.
Pecundang: Raksasa Serie A Berguguran
Wakil Italia mengalami malam pahit di fase ini. Inter Milan kalah 1-2 di kandang dari Bodo/Glimt setelah sebelumnya tumbang 1-3 di Norwegia. Kekalahan tersebut mengejutkan banyak pihak.
Finalis musim lalu itu gagal menjaga stabilitas permainan. Selain itu, detail kecil dalam pertahanan sering merugikan mereka. Hasil akhir memperlihatkan margin tipis yang tidak mampu mereka atasi.
Juventus juga tersingkir setelah kalah agregat 5-7 dari Galatasaray. Mereka sempat memberi perlawanan, namun defisit leg pertama terlalu besar. Kesalahan individu kembali menjadi faktor penentu.
Napoli bahkan finis di posisi ke-30 pada fase liga. Juara bertahan domestik itu tidak mampu menjaga konsistensi di level Eropa. Oleh karena itu, hanya Atalanta yang tersisa sebagai harapan Italia.
Pemenang: Bodo/Glimt Guncang Panggung Eropa
Bodo/Glimt menjadi kisah paling mengejutkan musim ini. Klub Norwegia tersebut tampil berani menghadapi tim besar. Mereka bermain disiplin dan efektif sepanjang dua leg melawan Inter.
Sebelumnya, Bodo/Glimt sudah mengalahkan Manchester City dan Atletico Madrid di fase liga. Catatan itu membuktikan kualitas mereka bukan kebetulan. Tim asuhan Kjetil Knutsen memadukan organisasi rapi dan transisi cepat.
Keberhasilan menyingkirkan Inter mempertegas status mereka sebagai underdog berbahaya. Karena efisiensi peluang yang tinggi, mereka mampu memaksimalkan momen krusial. Kini, tiket 16 besar menjadi pencapaian bersejarah.
Langkah tersebut juga menunjukkan bahwa struktur tak selalu menentukan hasil. Dengan strategi tepat, klub dari liga kecil bisa bersaing. Fakta ini menjadi warna tersendiri di kompetisi musim ini.
Pecundang: Dortmund Kehilangan Kendali
Borussia Dortmund tersingkir dengan cara yang menyakitkan. Setelah unggul 2-0 di leg pertama, mereka gagal menjaga konsistensi. Keunggulan itu hilang akibat kesalahan sendiri.
Peluang emas dari Serhou Guirassy yang terbuang menjadi titik balik. Atalanta kemudian memanfaatkan celah pertahanan dengan efektif. Situasi semakin buruk ketika penalti dan dua kartu merah muncul di akhir laga.
Agregat 4-1 untuk Atalanta menutup perjalanan Dortmund. Musim domestik mereka juga tidak stabil. Jarak poin dari Bayern Munich semakin lebar.
Kegagalan ini mencerminkan inkonsistensi sepanjang musim. Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh menjadi kebutuhan mendesak bagi manajemen klub.
Pecundang: Mamadou Coulibaly dan Momentum yang Hilang
AS Monaco hampir menciptakan kejutan saat bertandang ke markas Paris Saint-Germain. Gol Maghnes Akliouche memberi harapan besar. Namun, situasi berubah drastis dalam hitungan menit.
Mamadou Coulibaly menerima dua kartu kuning dalam tiga menit. Keputusan ceroboh tersebut membuat timnya bermain dengan sepuluh orang. PSG langsung memanfaatkan keunggulan jumlah pemain.
Gol dari Marquinhos dan Khvicha Kvaratskhelia memastikan kelolosan juara bertahan. Monaco kembali gagal karena kartu merah, seperti pekan sebelumnya. Momentum yang sudah dibangun runtuh begitu cepat.
Insiden ini menunjukkan pentingnya disiplin dalam laga besar. Satu kesalahan kecil bisa mengubah arah kompetisi. Pada fase gugur, detail seperti itu sering menentukan nasib tim.
Drama dan Tekanan Format Baru
Format baru Liga Champions menambah lapisan tekanan. Tim elite tidak lagi memiliki ruang kesalahan. Setiap leg menjadi pertaruhan besar.
Sebagian klub mampu beradaptasi dengan cepat. Namun, lainnya terlihat kewalahan menghadapi jadwal padat. Karena itu, kualitas mental menjadi faktor utama.
Fase playoff musim ini membuktikan bahwa reputasi tidak menjamin kelolosan. Kejutan, drama, dan kehancuran berjalan berdampingan. Kompetisi semakin terbuka bagi siapa pun yang siap secara taktik dan mental.
Dengan daftar 16 besar kini lengkap, perhatian beralih ke undian berikutnya. Tantangan akan semakin berat. Namun, fase playoff sudah meninggalkan cerita kuat tentang siapa yang mampu bertahan dan siapa yang runtuh di bawah tekanan.






