PSS Sleman resmi menerima sanksi denda dari Komite Disiplin PSSI setelah terjadinya sejumlah pelanggaran dalam laga final Pegadaian Championship 2025/2026 melawan Garudayaksa FC. Manajemen Super Elang Jawa menegaskan bahwa keputusan tersebut akan menjadi bahan evaluasi penting menjelang tampil di Super League musim depan.
Sanksi itu muncul setelah pertandingan yang digelar di Stadion Maguwoharjo, Sleman, pada 9 Mei 2026. Meski suasana pertandingan berlangsung meriah karena keberhasilan promosi, Komdis PSSI tetap menilai sejumlah insiden sebagai pelanggaran terhadap regulasi kompetisi.
PSS Sleman Hormati Keputusan Komdis PSSI
PSS Sleman memilih menerima keputusan yang telah ditetapkan Komite Disiplin PSSI. Melalui pernyataan resmi klub, manajemen menegaskan sikap menghormati seluruh proses yang berlangsung dalam kompetisi profesional.
Menurut pihak klub, setiap keputusan yang diambil regulator merupakan bagian dari konsekuensi yang harus diterima oleh seluruh peserta kompetisi. Oleh karena itu, PSS tidak menjadikan sanksi tersebut sebagai polemik yang berkepanjangan.
Manajemen juga menilai kejadian ini sebagai momen evaluasi bersama. Tidak hanya bagi klub, tetapi juga seluruh elemen yang terlibat dalam perjalanan tim sepanjang musim.
Keberhasilan kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia memang memunculkan euforia besar. Namun, PSS mengingatkan bahwa antusiasme tersebut tetap harus berjalan seiring dengan kepatuhan terhadap aturan yang berlaku.
Selain itu, klub menegaskan pentingnya menjaga ketertiban dan keamanan dalam setiap pertandingan. Langkah tersebut dinilai penting untuk mendukung perkembangan sepak bola yang lebih profesional.
Rincian Denda yang Dijatuhkan Komdis
Komite Disiplin PSSI menjatuhkan total denda sebesar Rp140 juta kepada PSS Sleman. Hukuman tersebut berasal dari beberapa pelanggaran yang terjadi selama dan setelah pertandingan final berlangsung.
Laga kontra Garudayaksa FC sendiri disaksikan oleh 16.456 penonton yang memadati Stadion Maguwoharjo. Atmosfer pertandingan berlangsung meriah karena tingginya antusiasme pendukung tuan rumah.
Denda pertama bernilai Rp15 juta diberikan akibat pelemparan benda ke dalam area lapangan. Beberapa botol air minum kemasan dilaporkan berasal dari sejumlah sektor tribune stadion.
Selain botol air, terdapat pula paper roll yang dilemparkan ke area pertandingan. Insiden tersebut masuk dalam kategori pelanggaran yang mendapat perhatian dari Komdis PSSI.
Sementara itu, sanksi terbesar berasal dari penggunaan flare dan petasan. Komdis menjatuhkan denda sebesar Rp125 juta atas tindakan tersebut.
Penyalaan flare dan petasan terjadi setelah pertandingan berakhir. Aksi itu dilakukan di beberapa bagian tribune stadion sebagai bentuk perayaan keberhasilan PSS kembali ke kompetisi tertinggi.
Meski berlangsung dalam suasana gembira, tindakan tersebut tetap dianggap melanggar aturan keamanan pertandingan. Karena alasan itu, Komdis memutuskan memberikan hukuman yang cukup besar.
Euforia Promosi Berujung Pelanggaran
Keberhasilan PSS Sleman promosi ke Super League menjadi salah satu momen penting bagi klub. Setelah melewati perjalanan panjang sepanjang musim, Super Elang Jawa akhirnya berhasil kembali ke level tertinggi sepak bola nasional.
Atmosfer perayaan yang tercipta di Stadion Maguwoharjo menunjukkan besarnya dukungan suporter terhadap tim. Ribuan pendukung memadati stadion untuk menyaksikan laga final tersebut.
Namun, euforia yang berlebihan justru memunculkan beberapa tindakan yang melanggar regulasi. Penggunaan flare, petasan, dan pelemparan benda menjadi sorotan utama setelah pertandingan selesai.
Situasi tersebut menjadi pengingat bahwa dukungan kepada tim harus tetap berjalan dalam koridor aturan. Yang terpenting, keselamatan seluruh pihak yang berada di stadion harus selalu menjadi prioritas utama.
PSS memahami bahwa kecintaan suporter menjadi kekuatan besar bagi klub. Meski demikian, manajemen berharap dukungan tersebut dapat diwujudkan dengan cara yang lebih tertib pada masa mendatang.
Fokus Menatap Super League 2026/2027
Setelah menerima sanksi tersebut, PSS langsung mengalihkan fokus ke persiapan musim depan. Klub ingin memastikan pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh elemen yang terlibat.
Manajemen mengajak suporter, panitia pelaksana, stakeholder, dan masyarakat untuk membangun kesadaran bersama. Tujuannya adalah menciptakan atmosfer pertandingan yang aman dan nyaman sepanjang kompetisi.
Selain itu, PSS berharap seluruh pihak memiliki komitmen yang sama dalam menjaga nama baik klub. Kerja sama yang kuat dinilai menjadi modal penting menghadapi tantangan Super League 2026/2027.
Dengan evaluasi yang dilakukan sejak dini, Super Elang Jawa berharap dapat berkembang lebih baik. Tidak hanya di dalam lapangan, tetapi juga dalam aspek profesionalisme dan tata kelola pertandingan pada musim mendatang.






