Sunday, June 28, 2026
No menu items!
asia9QQ  width=
HomeLiga IndonesiaTimo Scheunemann: Pembinaan MLSC Sejalan dengan Arah Pengembangan FIFA

Timo Scheunemann: Pembinaan MLSC Sejalan dengan Arah Pengembangan FIFA

Pelatih kepala MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All-Stars 2026 Timo Scheunemann menyebut pembinaan MLSC selaras dengan rencana FIFA, Minggu (28/6/2026), di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah.

Timo menilai format pembinaan sepak bola putri usia muda yang diterapkan MLSC sudah sejalan dengan arah pengembangan yang disiapkan FIFA. Ia menyinggung rencana FIFA yang akan menghadirkan Piala Dunia U15 putra dan putri setiap tahun.

“FIFA sudah mempunyai rencana ke depannya, setiap tahun ada Piala Dunia U15 putra dan putri. Dan itu sistemnya seperti Piala Gothia, mainnya 9 lawan 9, persis seperti kita di sini (MLSC),”

- Advertisement -
asia9QQ

Pernyataan itu disampaikan Timo saat ditemui pada ajang MLSC All-Stars 2026. Program MLSC yang digagas Bakti Olahraga Djarum Foundation memang fokus pada pembinaan talenta muda pesepak bola putri di Indonesia.

Dalam program ini, para pemain muda dari berbagai daerah bersaing untuk merebut gelar juara MLSC All-Stars. MLSC All-Stars 2026 menjadi edisi kedua yang memakai format 9 vs 9.

Format tersebut dipilih untuk meningkatkan level kompetisi sebelum pemain melangkah ke jenjang yang lebih profesional. Dari sisi pertandingan, durasi laga kini menjadi 2 x 20 menit dengan waktu istirahat 10 menit.

Pada edisi sebelumnya, pertandingan dimainkan 2 x 15 menit dengan jeda turun minum 5 menit. Sementara itu, ukuran lapangan tetap 50 x 35 meter dengan gawang berukuran 2 x 5 meter.

MLSC juga menambah kuota pemain di setiap tim. Jika sebelumnya satu tim berisi 14 pemain, kini jumlahnya menjadi 16 pemain dengan empat ofisial pendamping.

Timo menjelaskan sistem pembinaan MLSC sejalan dengan perkembangan sepak bola putri dunia. Menurut dia, saat ini ada dua pendekatan yang berkembang dalam pembinaan sepak bola putri.

Pendekatan pertama datang dari perspektif Belanda-Jerman. Dalam pendekatan itu, sepak bola putri diharapkan dimainkan di lapangan sekecil mungkin, dengan jumlah pemain lebih sedikit, tetapi durasi lebih lama.

Pendekatan kedua berasal dari Inggris-Amerika. Dalam pandangan ini, sepak bola putri didorong secepat mungkin menuju format 11 lawan 11.

“Saya melihat falsafah yang akan menang adalah Inggris-Amerika, karena memang secara esensi dan dari pengalaman sebagai peminat, semakin banyak sentuhan bola semakin bagus,” katanya.

Timo yang juga menjadi pelatih Tim Nasional Putri Indonesia U17 menilai pembinaan kelompok usia yang dijalankan MLSC untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) sudah tepat. Menurut dia, jalur itu cocok untuk mengantar pemain menuju level berikutnya, yakni U15.

Ia juga menyinggung keberadaan turnamen Hydroplus Super League untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dengan tahapan itu, transisi pemain dinilai semakin terarah.

“Jadi sudah pas banget. Begitu di (para atlet menuju) U18, mereka sudah bermain 11 lawan 11. Jadi kita sudah sinkron sama apa yang dilakukan FIFA,” katanya.

Dengan format 9 lawan 9 di level dasar dan transisi menuju 11 lawan 11 pada kelompok usia lebih tinggi, MLSC dinilai sudah berada pada jalur yang sesuai. Sistem itu disebut Timo sinkron dengan arah pembinaan yang sedang disiapkan FIFA untuk sepak bola usia muda putri.

Sumber: ANTARA

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
asia9sports

Most Popular

Recent Comments