Kontroversi VAR di semifinal Liga Champions kembali memicu perdebatan besar di kalangan pecinta sepak bola Eropa. Sejumlah keputusan penting dalam laga Bayern Munchen vs PSG dan Arsenal vs Atletico Madrid menjadi sorotan karena dianggap memengaruhi hasil akhir pertandingan.
Kontroversi VAR di semifinal Liga Champions muncul dalam dua laga penentuan menuju final musim 2025/2026. Banyak pihak mempertanyakan konsistensi keputusan wasit, terutama terkait insiden handball dan potensi penalti.
Arsenal berhasil lolos ke final setelah menyingkirkan Atletico Madrid dengan agregat 2-1. Sementara itu, Paris Saint-Germain sukses melewati hadangan Bayern Munich usai menang agregat 6-5.
Namun, perjalanan menuju final tidak lepas dari kontroversi. Sejumlah keputusan wasit dan VAR memancing reaksi keras dari pemain, pelatih, hingga suporter kedua kubu yang kalah.
Perdebatan terbesar datang dari situasi yang melibatkan potensi penalti dan kartu merah. Selain itu, aturan handball terbaru kembali membuat banyak penonton kebingungan.
Bayern Munchen Protes Keputusan Wasit
Kontroversi pertama terjadi dalam laga Bayern Munchen melawan PSG di Allianz Arena. Duel panas tersebut berlangsung ketat sejak menit awal dan menghadirkan beberapa keputusan penting.
Pada menit ke-29, bek PSG Nuno Mendes dianggap melakukan handball saat menghentikan serangan Bayern. Insiden itu langsung memicu protes keras dari pemain tuan rumah.
Situasi menjadi semakin panas karena Mendes sebelumnya sudah menerima kartu kuning. Jika handball itu dianggap pelanggaran, maka PSG seharusnya kehilangan satu pemain.
Para pemain Bayern meminta wasit Joao Pinheiro memberikan kartu kuning kedua. Namun keputusan di lapangan justru berbeda dari harapan mereka.
Wasit malah memberikan tendangan bebas kepada PSG. Setelah berdiskusi dengan asisten wasit, Pinheiro menilai Konrad Laimer lebih dulu melakukan handball dalam proses serangan.
Keputusan itu langsung menimbulkan tanda tanya besar. Tayangan ulang televisi tidak memperlihatkan bukti yang benar-benar jelas soal handball Laimer.
Meski begitu, keputusan wasit tetap berlaku. Asisten wasit dianggap memiliki posisi pandang terbaik saat insiden terjadi.
Yang paling menarik, VAR tidak memiliki kewenangan untuk meninjau potensi kartu kuning kedua. Oleh karena itu, keputusan sepenuhnya berada di tangan perangkat pertandingan di lapangan.
Situasi tersebut membuat kubu Bayern semakin frustrasi. Mereka merasa dirugikan dalam laga penting yang menentukan tiket ke final Liga Champions.
Mengapa Bayern Tidak Mendapat Penalti?
Kontroversi berikutnya terjadi hanya dua menit setelah insiden Nuno Mendes. Kali ini Bayern kembali meminta penalti setelah bola mengenai tangan Joao Neves di kotak terlarang.
Insiden bermula ketika Vitinha mencoba menyapu bola dari tekanan pemain Bayern. Bola kemudian mengenai tangan Neves dalam jarak yang sangat dekat.
Pemain Bayern langsung mengelilingi wasit sambil meminta penalti. Publik Allianz Arena juga ikut memberikan tekanan besar kepada perangkat pertandingan.
Namun wasit kembali menolak klaim tersebut. Setelah ditinjau VAR, keputusan awal tetap dipertahankan.
Berdasarkan regulasi terbaru IFAB, keputusan itu dianggap sesuai aturan. Handball tidak otomatis dianggap pelanggaran jika bola berasal dari sentuhan rekan setim sendiri dalam jarak dekat.
Selain itu, tidak ada unsur kesengajaan dari Joao Neves. Tangannya berada dalam posisi natural saat bola mengenainya.
Aturan tersebut memang sering memunculkan kebingungan. Banyak suporter merasa keputusan handball dalam sepak bola modern semakin sulit dipahami.
Meski demikian, secara teknis keputusan wasit dinilai benar. Karena itu, VAR tidak memiliki alasan kuat untuk mengintervensi keputusan di lapangan.
Bayern akhirnya harus menerima kenyataan pahit. Mereka gagal lolos ke final setelah hanya bermain imbang 1-1 melawan PSG di leg kedua.
Atletico Madrid Juga Tuntut Penalti
Drama VAR tidak hanya terjadi di Allianz Arena. Laga Arsenal melawan Atletico Madrid di Emirates Stadium juga menghadirkan kontroversi besar.
Bukayo Saka mencetak gol tunggal kemenangan Arsenal pada menit ke-44. Gol tersebut memastikan The Gunners lolos ke final untuk pertama kalinya dalam 20 tahun.
Namun Atletico Madrid merasa dirugikan oleh dua keputusan penting di babak kedua. Mereka menilai seharusnya mendapatkan penalti dalam dua situasi berbeda.
Insiden pertama bermula dari kesalahan William Saliba saat mengantisipasi bola udara. Giuliano Simeone berhasil merebut posisi dan masuk ke kotak penalti.
Saat hendak melepaskan tembakan, Gabriel Magalhaes melakukan tekanan dari belakang. Simeone kehilangan keseimbangan hingga gagal menembak dengan sempurna.
Pemain Atletico langsung meminta penalti kepada wasit Daniel Siebert. Namun setelah komunikasi dengan VAR, pertandingan tetap dilanjutkan.
Wasit menilai kontak tersebut masih dalam batas wajar. Selain itu, Gabriel dianggap berhasil melakukan recovery dengan bersih.
Tidak lama berselang, Atletico kembali memprotes keputusan wasit. Kali ini insiden melibatkan Antoine Griezmann dan Riccardo Calafiori.
Namun wasit lebih dulu meniup pelanggaran Marc Pubill terhadap Gabriel Magalhaes. Karena pelanggaran awal sudah terjadi, potensi penalti otomatis gugur.
Keputusan itu kembali membuat kubu Atletico marah. Pelatih Diego Simeone terlihat beberapa kali memprotes keputusan perangkat pertandingan.
VAR Tetap Memunculkan Perdebatan
Rangkaian insiden di semifinal Liga Champions kembali membuktikan bahwa VAR belum mampu menghapus kontroversi sepenuhnya. Teknologi memang membantu wasit mengambil keputusan penting, tetapi interpretasi aturan tetap menjadi masalah utama.
Perbedaan sudut pandang antara wasit, VAR, pemain, dan suporter membuat perdebatan terus muncul. Apalagi pertandingan semifinal Liga Champions selalu menghadirkan tekanan besar.
Bayern Munchen dan Atletico Madrid merasa sejumlah keputusan penting merugikan mereka. Sebaliknya, Arsenal dan PSG berhasil memanfaatkan situasi untuk mengamankan tiket final.
Pada akhirnya, hasil pertandingan tidak berubah. Arsenal dan PSG tetap akan bertemu di final Liga Champions 2025/2026 yang digelar di Budapest.






