FIFA kembali disorot pada Jumat, 17 Juli 2026, setelah aksi pemain Argentina membentangkan spanduk “Las Malvinas son Argentinas” di Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat memicu tuntutan penyelidikan dari Inggris.
Insiden itu terjadi tak lama setelah Argentina mengalahkan timnas Inggris dalam semifinal Piala Dunia 2026. Aksi tersebut dinilai menambah daftar kontroversi politik yang membayangi turnamen ini.
“yang lebih penting adalah sikap FIFA untuk menunjukkan diri sebagai badan sepak bola yang memang milik dunia, yang tidak boleh memfavoritkan sebuah tim atau seorang pemain”
Dalam laporan ANTARA, Piala Dunia 2026 disebut sebagai salah satu edisi yang paling terpolitisasi. Situasi itu dinilai bertolak belakang dengan citra turnamen yang disebut paling inklusif.
Gejala itu, menurut sumber yang sama, sudah terlihat sejak awal. Mulai dari penolakan visa oleh pemerintah Amerika Serikat kepada seorang wasit FIFA, hingga perlakuan diskriminatif Amerika Serikat terhadap timnas Iran.
Kontroversi terbaru muncul dari para pemain Argentina. Mereka membentangkan spanduk bertuliskan “Las Malvinas son Argentinas” yang berarti “Malvinas adalah milik Argentina”.
Spanduk itu dibawa oleh sejumlah pemain yang juga berkarier di Liga Inggris. Mereka adalah bek tengah Manchester United Lisandro Martinez dan bek tengah Tottenham Hotspur Cristian Romero.
Selain dua nama itu, gelandang serang Real Betis Giovani Lo Celso dan mantan gelandang AS Roma Leandro Paredes juga disebut terlibat. Aksi mereka kemudian memicu reaksi resmi dari pemerintah Inggris.
Menteri Perdagangan Inggris Peter Kyle, yang juga anggota Partai Buruh, melaporkan insiden itu kepada FIFA. Laporan itu disampaikan tidak lama setelah laga semifinal antara Argentina dan Inggris selesai.
Kyle mendesak FIFA untuk menyelidiki kasus tersebut. Jika FIFA merespons serius, para pemain yang terlibat berpotensi dilarang tampil pada final melawan Spanyol.
Netizen juga menyinggung Lionel Messi dalam seremoni itu. Ia disebut turut berada di belakang rekan-rekannya saat spanduk tersebut dibentangkan.
Tak lama kemudian, Downing Street 10 mengeluarkan pernyataan keras kepada publik Inggris. Kantor Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer menegaskan posisi negaranya soal wilayah itu.
“Piala Dunia mungkin bukan milik kita (Inggris), tapi Kepulauan Falkland sudah jelas milik kita.”
Inggris menyatakan status Kepulauan Falkland sudah final. Menurut mereka, warga kepulauan itu ingin tetap menjadi bagian dari Inggris.
Wilayah yang disebut Argentina sebagai Malvinas itu telah menjadi wilayah seberang lautan Inggris sejak 1841. Kepulauan tersebut sempat diinvasi pasukan Argentina pada 2 April 1982.
Tiga hari kemudian, pemerintah Inggris di bawah pimpinan PM Margareth Thatcher mengerahkan gugus tugas angkatan laut. Langkah itu memicu konfrontasi militer terbuka dengan Argentina.
Perang berlangsung selama 74 hari sebelum angkatan bersenjata Argentina menyerah pada 14 Juni 1982. Setelah itu, Kepulauan Falkland kembali berada di bawah kendali Inggris.
Kasus terbaru ini menempatkan FIFA dalam tekanan baru. Badan sepak bola dunia itu kini dituntut menunjukkan konsistensi atas komitmennya untuk tetap apolitik.
Sumber: ANTARA






