Saturday, July 18, 2026
No menu items!
asia9QQ  width=
HomePiala DuniaAlasan Piala Dunia Menggelar Perebutan Peringkat Ketiga, Berbeda dengan Euro

Alasan Piala Dunia Menggelar Perebutan Peringkat Ketiga, Berbeda dengan Euro

Piala Dunia 2026 tetap mempertahankan laga perebutan peringkat ketiga, sementara Euro sudah menghapus format itu sejak 1984. Fakta itu kembali menjadi sorotan pada Jumat, 17 Juli 2026, di Jakarta, ketika duel Prancis melawan Inggris dijadwalkan berlangsung usai keduanya kalah di semifinal.

Prancis tersingkir setelah kalah 0-2 dari Spanyol. Sementara Inggris takluk dramatis 1-2 dari Argentina. Kedua tim itu kini harus memainkan partai perebutan tempat ketiga, sebuah laga yang masih dianggap penting oleh FIFA.

- Advertisement -
asia9QQ

FIFA mempertahankan pertandingan ini karena beberapa alasan. Salah satu yang paling menonjol adalah faktor komersial. Setiap laga tambahan di Piala Dunia memberi pemasukan dari penjualan tiket, hak siar televisi, dan iklan.

Laga itu juga mengisi jeda antara semifinal dan final. Dengan begitu, penyelenggara tetap memiliki pertandingan besar yang bisa disajikan kepada penonton di seluruh dunia.

Selain aspek bisnis, pertandingan perebutan tempat ketiga juga berpengaruh pada peringkat FIFA. Karena berstatus laga resmi, hasil pertandingan itu memiliki nilai lebih tinggi dibanding laga uji coba.

Kemenangan dalam laga ini bisa menambah poin ranking FIFA. Tambahan poin itu dapat berpengaruh terhadap penempatan unggulan dalam undian kompetisi internasional, termasuk kualifikasi Piala Dunia dan UEFA Nations League.

Bagi pemain, partai ini juga menjadi kesempatan terakhir menutup turnamen dengan hasil positif. Setelah gagal ke final, tim yang menang setidaknya bisa membawa pulang medali perunggu.

FIFA juga menyiapkan perbedaan hadiah uang untuk posisi ketiga dan keempat. Tim peringkat ketiga mendapat 29 juta dolar AS. Adapun tim peringkat keempat menerima 27 juta dolar AS.

Sejarah panjang di Piala Dunia

Laga perebutan peringkat ketiga sudah ada sejak Piala Dunia 1934. Pada edisi itu, Jerman mengalahkan Austria dengan skor 3-2 untuk merebut posisi ketiga.

Pada Piala Dunia 1930, pertandingan tersebut belum dimainkan. Amerika Serikat kemudian ditetapkan sebagai peringkat ketiga berdasarkan selisih gol yang lebih baik dibanding Yugoslavia.

Laga itu kembali hadir pada Piala Dunia 1938. Namun, format tersebut sempat ditiadakan pada edisi 1950 karena babak akhir memakai sistem grup. Sejak Piala Dunia 1954, perebutan tempat ketiga selalu menjadi bagian dari turnamen.

Pertandingan ini juga melahirkan sejumlah catatan bersejarah. Pada edisi 2002, striker Turki Hakan Sukur mencetak gol ke gawang Korea Selatan dalam 11 detik.

Rekor itu masih menjadi gol tercepat sepanjang sejarah Piala Dunia. Sementara pada Piala Dunia 1958, penyerang Prancis Just Fontaine mencetak empat gol saat mengalahkan Jerman Barat 6-3.

Torehan itu membuat Fontaine menutup turnamen dengan 13 gol. Hingga kini, angka tersebut masih menjadi rekor gol terbanyak oleh satu pemain dalam satu edisi Piala Dunia.

Laga perebutan tempat ketiga juga sering memengaruhi persaingan Golden Boot. Beberapa pemain seperti Eusebio (1966), Salvatore “Toto” Schillaci (1990), Davor Suker (1998), dan Thomas Muller (2010) menambah gol mereka di pertandingan itu sebelum menjadi top skor turnamen.

Pada Piala Dunia 2026, duel Prancis melawan Inggris juga menjadi kesempatan terakhir bagi Kylian Mbappe dan Harry Kane. Keduanya masih bisa menambah koleksi gol dalam persaingan Golden Boot.

Euro memilih menghapus laga ini

Meski punya sejarah panjang di Piala Dunia, laga perebutan tempat ketiga tidak lepas dari kritik. Sejumlah tokoh sepak bola menilai pertandingan itu tidak perlu dimainkan.

Melansir The Athletic, mantan pelatih Belanda Louis van Gaal pernah menilai laga itu seharusnya dihapus. Menurut dia, pertandingan tersebut tidak adil bagi tim yang sudah tampil bagus sepanjang turnamen.

Van Gaal menilai tim yang kalah di semifinal berisiko pulang dengan dua kekalahan beruntun. Hal serupa juga pernah diungkapkan mantan pelatih Inggris Gareth Southgate menjelang laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2018 melawan Belgia.

Southgate menyebut pertandingan itu bukan laga yang ingin dimainkan tim mana pun. Legenda Inggris Alan Shearer juga pernah mengkritik keberadaan partai tersebut karena dianggap tidak diperlukan.

Berbeda dari FIFA, UEFA memilih menghapus laga perebutan peringkat ketiga mulai Euro 1984. Keputusan itu diambil setelah evaluasi atas penyelenggaraan sebelumnya.

UEFA menilai pertandingan tersebut kurang menarik perhatian penonton. Minat terhadap laga itu juga rendah, sementara para pemain harus menjalani satu pertandingan tambahan setelah kelelahan akibat jadwal turnamen yang padat.

Sejak saat itu, dua tim yang kalah di semifinal Euro langsung mengakhiri turnamen sebagai semifinalis. Mereka tidak lagi memainkan laga tambahan untuk menentukan posisi ketiga.

Perbedaan kebijakan itu kini tetap menjadi ciri khas dua turnamen besar tersebut. Piala Dunia mempertahankan perebutan peringkat ketiga sebagai tradisi dan bagian dari sistem penghargaan, sedangkan Euro memilih fokus langsung ke final.

Sumber: ANTARA News

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
asia9sports

Most Popular

Recent Comments