Timnas Belanda tersingkir dari Piala Dunia 2026 pada Selasa di Stadion Monterrey, Meksiko, setelah kalah dari Maroko lewat adu penalti pada babak 32 besar. Hasil ini menghentikan langkah Oranye lebih cepat dibanding edisi sebelumnya, saat mereka mencapai perempat final.
Belanda datang ke fase gugur dengan modal meyakinkan. Mereka lolos sebagai juara Grup F dan selalu mencetak minimal dua gol dalam tiga laga fase grup. Namun, performa itu tidak berlanjut saat menghadapi Maroko.
Ini menjadi penampilan ke-12 Belanda di Piala Dunia. Meski selalu lolos dari fase grup setiap kali tampil, Belanda belum pernah menjadi juara. Prestasi terbaik mereka tetap tiga kali menjadi finalis pada 1974 di Jerman Barat, 1978 di Argentina, dan 2010 di Afrika Selatan.
Pada Piala Dunia 2026, langkah Belanda justru terhenti di babak 32 besar. Fase ini merupakan babak gugur baru setelah FIFA menambah peserta dari 32 menjadi 48 tim.
“Dia tampak seperti pelatih Italia, bermain agar tidak kalah”
Perubahan pendekatan Belanda
Belanda menjalani fase grup dengan permainan atraktif. Mereka tampil menyerang dan produktif sepanjang laga di Grup F. Namun, pendekatan itu berubah saat menghadapi Maroko.
Ronald Koeman memilih formasi 5-2-3. Saat menyerang, skema itu berubah menjadi 3-4-3. Keputusan itu berbeda dari pola 4-3-3 yang sebelumnya dipakai Belanda.
Tijjani Reijnders, yang selalu menjadi starter bersama Frenkie de Jong dan Ryan Gravenberch, kali ini dicadangkan. Koeman justru menambah satu pemain belakang dengan memasukkan Nathan Ake.
Nathan Ake berdiri sejajar dengan Virgil van Dijk dan Jan Paul van Hecke. Micky van de Ven bermain lebih melebar di kiri, sedangkan sisi kanan tetap ditempati Denzel Dumfries.
Maroko sendiri tampil dengan identitas permainan yang jelas. Runner-up Grup C itu memakai formasi 4-2-3-1 dan mampu memberi perlawanan seimbang kepada Belanda yang berstatus juara Grup F. Kedua tim sama-sama mengoleksi tujuh poin di fase grup, hasil dari dua kemenangan dan satu seri.
Gol Gakpo tak cukup
Belanda sempat unggul lebih dulu pada menit ke-72 melalui Cody Gakpo. Namun, gol itu lahir setelah Koeman kembali memakai kekuatan utama Oranye dengan formasi 4-3-3.
Wout Weghorst, yang baru masuk setelah hydration break, langsung memberi dampak. Ia mengirim pre-assist kepada Crycensio Summerville, sebelum bola diteruskan kepada Gakpo untuk menjadi gol.
Belanda hampir mengamankan kemenangan. Namun, Maroko menyamakan skor pada menit ke-90+1 melalui Issa Diop, yang menyelesaikan umpan Chemsdine Talbi. Skor 1-1 bertahan hingga waktu normal usai.
Laga kemudian berlanjut ke babak tambahan waktu dan adu penalti. Pada fase penentuan itu, Maroko keluar sebagai pemenang lewat Ismael Saibari sebagai eksekutor penentu.
Statistik menurun drastis
Secara permainan, Belanda tidak tampil seperti saat fase grup. Statistik Sofascore menunjukkan laga melawan Maroko menjadi pertandingan dengan penguasaan bola terendah Belanda di Piala Dunia 2026, yakni hanya 30 persen.
Rendahnya penguasaan bola itu juga berdampak pada produktivitas serangan. Belanda hanya melepaskan enam tembakan sepanjang pertandingan.
Catatan itu jauh berbeda dibanding tiga laga sebelumnya. Pada fase grup, Belanda rata-rata mencatat 60,6 persen penguasaan bola dan 13,3 tembakan per laga.
Perubahan pendekatan membuat Belanda menjauh dari kekuatan terbaiknya. Setelah tampil tajam di fase grup, Oranye justru gagal menjaga identitas permainan mereka saat memasuki laga hidup-mati melawan Maroko.
Sumber: ANTARA






