Friday, May 29, 2026
No menu items!
asia9QQ  width=
HomeLiga Champions8 Kekalahan Paling Menyesakkan Arsenal di Liga Champions, dari Kontroversi Van Persie...

8 Kekalahan Paling Menyesakkan Arsenal di Liga Champions, dari Kontroversi Van Persie hingga Magis Lionel Messi

Arsenal di Liga Champions kembali menjadi perbincangan menjelang final musim 2025/2026. Meski sukses menjuarai Premier League, Arsenal masih menyimpan catatan pahit di kompetisi elite Eropa yang belum pernah berhasil mereka menangkan sepanjang sejarah klub.

Sejak tampil pertama kali pada musim 1998/1999, The Gunners beberapa kali mendekati fase akhir turnamen. Namun, berbagai drama, keputusan kontroversial, dan penampilan luar biasa lawan kerap menggagalkan ambisi mereka meraih trofi paling bergengsi di Eropa.

- Advertisement -
asia9QQ

Final 2006 yang Masih Membekas

Malam paling menyakitkan bagi Arsenal tentu terjadi pada final Liga Champions 2006. Saat itu mereka menghadapi Barcelona di Stade de France dengan peluang besar mencetak sejarah.

Situasi berubah cepat ketika Jens Lehmann menerima kartu merah pada menit ke-18. Meski bermain dengan 10 pemain, Arsenal justru mampu unggul lebih dulu melalui sundulan Sol Campbell.

Akan tetapi, Barcelona terus menekan sepanjang babak kedua. Samuel Eto’o dan Juliano Belletti kemudian mencetak gol yang membalikkan keadaan. Oleh karena itu, Arsenal harus menerima kekalahan 2-1 saat trofi sudah terlihat begitu dekat.

Lionel Messi Jadi Mimpi Buruk Arsenal

Nama Lionel Messi memiliki tempat khusus dalam daftar luka Arsenal di Liga Champions. Pada perempat final musim 2009/2010, Barcelona menghancurkan harapan The Gunners lewat penampilan luar biasa sang megabintang Argentina.

Arsenal sempat memimpin melalui Nicklas Bendtner di Camp Nou. Namun, Messi langsung mengambil alih jalannya pertandingan dan mencetak empat gol dalam kemenangan 4-1 Barcelona.

Setahun kemudian, Arsenal kembali bertemu Barcelona pada babak 16 besar. Kali ini kontroversi muncul setelah Robin van Persie menerima kartu kuning kedua karena menendang bola beberapa saat setelah peluit berbunyi.

Keputusan wasit memicu perdebatan panjang. Bermain dengan 10 orang membuat Arsenal kehilangan momentum. Barcelona akhirnya menang 3-1 dan lolos dengan agregat 4-3.

Rival Inggris Pernah Menghancurkan Mimpi Arsenal

Kegagalan Arsenal tidak selalu datang dari raksasa Spanyol. Pada perempat final musim 2003/2004, Chelsea menjadi tim yang menghentikan perjalanan mereka.

Saat itu Arsenal sedang menikmati musim luar biasa di Premier League. Mereka bahkan menutup musim tanpa satu pun kekalahan. Namun, pencapaian tersebut tidak berlanjut di Liga Champions.

Setelah unggul lewat Jose Antonio Reyes di Highbury, Arsenal kehilangan kendali pertandingan. Frank Lampard menyamakan kedudukan sebelum Wayne Bridge mencetak gol kemenangan pada menit-menit akhir.

Hasil tersebut membuat Chelsea melaju dengan agregat 3-2. Yang terpenting, kekalahan itu menghentikan peluang Arsenal meraih gelar Eropa pada salah satu musim terbaik mereka.

Luka lain datang pada semifinal 2009 melawan Manchester United. Arsenal berharap bisa membalikkan keadaan pada leg kedua di Emirates Stadium.

Harapan itu langsung sirna setelah Ji-Sung Park dan Cristiano Ronaldo mencetak dua gol cepat. Ronaldo bahkan menambah satu gol lagi sebelum Robin van Persie memperkecil ketertinggalan melalui penalti.

Kekalahan 3-1 membuat Arsenal tersingkir dengan agregat 4-1. Selain itu, hasil tersebut menjadi salah satu malam paling mengecewakan dalam sejarah Emirates Stadium.

Tersingkir Saat Berada di Posisi Menguntungkan

Beberapa kegagalan Arsenal terasa semakin menyakitkan karena mereka sebenarnya berada dalam posisi yang cukup baik sebelum tersingkir.

Pada perempat final musim 2000/2001, Arsenal datang ke markas Valencia dengan modal kemenangan 2-1. Banyak pihak memperkirakan mereka akan lolos ke semifinal.

Namun, Arsenal gagal memanfaatkan sejumlah peluang emas. John Carew kemudian mencetak gol yang membuat agregat menjadi 2-2. Valencia lolos berkat keunggulan gol tandang.

Nasib serupa terjadi saat menghadapi Monaco pada babak 16 besar musim 2014/2015. Arsenal tampil buruk pada leg pertama di Emirates Stadium dan kalah 3-1.

Meskipun menang 2-0 di Prancis, mereka tetap tersingkir karena aturan gol tandang. Arsene Wenger bahkan mengakui timnya melakukan terlalu banyak kesalahan pada pertandingan pertama.

Bayern Munchen Menambah Deretan Kekecewaan

Arsenal kembali merasakan kepedihan pada Liga Champions musim 2023/2024. Setelah bermain imbang 2-2 pada leg pertama, mereka datang ke Allianz Arena dengan rasa percaya diri tinggi.

Bayern Munchen ternyata mampu memanfaatkan keunggulan bermain di kandang. Tim asal Jerman tersebut tampil disiplin dan terus menekan pertahanan Arsenal.

Joshua Kimmich akhirnya menjadi pembeda melalui sundulan pada babak kedua. Gol itu memastikan kemenangan 1-0 Bayern sekaligus mengakhiri perjalanan Arsenal dengan agregat 3-2.

Kekalahan tersebut menambah panjang daftar malam pahit Arsenal di Liga Champions. Meski kini kembali menjadi kekuatan utama di Inggris, sejarah membuktikan bahwa perjalanan mereka di Eropa selalu penuh tantangan dan drama yang sulit dilupakan.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
asia9sports

Most Popular

Recent Comments