Crystal Palace akhirnya mencatat sejarah besar pada musim 2025/2026 dengan sukses menjuarai UEFA Conference League usai mengalahkan Rayo Vallecano 1-0 di final yang berlangsung di Leipzig, Jerman, Kamis 28 Mei 2026. Keberhasilan tersebut sekaligus menegaskan sentuhan luar biasa Oliver Glasner di Selhurst Park.
Gol tunggal Jean-Philippe Mateta pada awal babak kedua memastikan trofi Eropa pertama dalam sejarah Crystal Palace. Selain itu, kemenangan tersebut melengkapi musim bersejarah The Eagles setelah sebelumnya meraih FA Cup dan Community Shield.
Pencapaian itu terasa sangat spesial bagi Palace. Sebab, hingga awal 2025, klub tersebut belum pernah memenangkan trofi besar sepanjang sejarah mereka.
Kini, hanya dalam waktu sekitar satu tahun, Crystal Palace berubah menjadi salah satu kisah paling mengejutkan di sepak bola Inggris dan Eropa. Oleh karena itu, nama Oliver Glasner langsung mendapat pujian besar dari berbagai pihak.
Oliver Glasner Mengubah Mentalitas Crystal Palace
Kesuksesan Crystal Palace tidak datang secara instan. Oliver Glasner harus menghadapi banyak tekanan sejak awal musim.
Palace sempat mengalami periode sulit di berbagai kompetisi. Mereka tersingkir secara mengejutkan dari Macclesfield di Piala FA dan tampil buruk di Premier League.
Selain itu, ruang ganti tim mulai terguncang setelah Marc Guehi pindah ke Manchester City. Situasi semakin rumit ketika Glasner mengumumkan akan meninggalkan klub pada akhir musim.
Hubungan sang pelatih dengan manajemen juga sempat memanas. Glasner bahkan mengkritik petinggi klub secara terbuka di depan media.
Tekanan semakin besar saat Palace hanya meraih satu kemenangan dalam 11 pertandingan. Beberapa suporter mulai kehilangan kesabaran terhadap performa tim.
Namun, Glasner tetap mampu menjaga fokus skuadnya. Di tengah situasi sulit, ia terus membangun mentalitas kuat di dalam ruang ganti.
Keunggulan utama Glasner memang tidak hanya soal taktik. Pelatih asal Austria itu terkenal piawai menjaga semangat dan kepercayaan diri pemain.
Para pemain senior Palace juga mengambil peran penting. Mereka sepakat menghentikan energi negatif dan fokus mengejar target di Conference League.
Keputusan Palace mempertahankan Glasner akhirnya menjadi titik balik musim mereka. Perlahan, performa tim mulai membaik sejak Februari 2026.
Cedera dan Konflik Tidak Menghentikan Palace
Crystal Palace menghadapi banyak masalah sepanjang musim. Cedera pemain inti terus mengganggu stabilitas tim.
Daniel Munoz mengalami cedera lutut serius dalam periode penting musim ini. Selain itu, Daichi Kamada juga harus menepi karena masalah hamstring.
Ismaila Sarr sempat meninggalkan klub untuk tampil di Piala Afrika. Situasi tersebut membuat opsi lini serang Palace menjadi terbatas.
Jean-Philippe Mateta juga hampir meninggalkan klub pada Januari. AC Milan sempat mencoba merekrut penyerang asal Prancis tersebut sebelum transfer gagal terjadi.
Meski begitu, Glasner tetap mampu menjaga keseimbangan tim. Ia melakukan beberapa perubahan penting dalam struktur permainan Palace.
Salah satu keputusan terbaiknya adalah memberikan tanggung jawab lebih besar kepada Paddy McCarthy. Langkah itu membantu Palace memperbaiki organisasi pertahanan dan situasi bola mati.
Hasil positif mulai terlihat ketika Palace mengalahkan Brighton pada Februari. Kemenangan tersebut menjadi awal kebangkitan mereka di berbagai kompetisi.
Selain itu, para pemain mulai menunjukkan kepercayaan diri lebih tinggi. Momentum itu terus berlanjut hingga akhir musim.
Conference League Jadi Awal Kebangkitan Palace
UEFA Conference League awalnya dianggap sekadar kompetisi pelengkap bagi Crystal Palace. Mereka bahkan merasa “terdampar” di turnamen itu setelah gagal bermain di Liga Europa.
Masalah kepemilikan multi-klub yang melibatkan John Textor dan Lyon membuat Palace harus turun kasta ke Conference League. Namun, situasi itu justru menjadi awal perjalanan bersejarah mereka.
Pada fase awal, Palace sempat kesulitan menghadapi tim defensif seperti AEK Larnaca, Zrinjski Mostar, dan KuPS. Meski demikian, mereka perlahan berkembang sepanjang turnamen.
Titik balik terbesar hadir saat Palace menghancurkan Fiorentina 3-0 di perempat final. Kemenangan tersebut meningkatkan kepercayaan diri skuad secara drastis.
Pengalaman Glasner di kompetisi Eropa juga menjadi faktor penting. Sebelumnya, ia pernah membawa Eintracht Frankfurt menjuarai Liga Europa 2022.
Pengalaman itu membantu Palace menghadapi tekanan laga besar. Glasner tahu bagaimana menjaga fokus tim dalam pertandingan sistem gugur.
Sesudah mengalahkan Fiorentina, Palace berhasil menyingkirkan Shakhtar Donetsk di semifinal. Mereka kemudian melaju ke final menghadapi Rayo Vallecano.
Final Conference League Tegaskan Kualitas Glasner
Partai final di Leipzig berlangsung ketat sejak awal laga. Rayo Vallecano mampu memberi tekanan besar pada babak pertama.
Crystal Palace tampil tanpa Chris Richards di lini belakang. Namun, Glasner kembali menunjukkan kualitasnya dalam membaca permainan.
Ia meminta tim bermain lebih agresif setelah turun minum. Perubahan ritme itu langsung memberi dampak besar bagi jalannya pertandingan.
Adam Wharton mulai menemukan ruang di lini tengah. Gelandang muda tersebut kemudian melepaskan tembakan keras yang ditepis Augusto Batalla.
Bola rebound langsung disambar Jean-Philippe Mateta menjadi gol kemenangan Palace pada menit ke-51. Stadion langsung dipenuhi selebrasi para pemain dan suporter The Eagles.
Sesudah peluit panjang berbunyi, Glasner melakukan selebrasi sliding di atas rumput Leipzig. Momen tersebut mengingatkan publik pada selebrasinya saat menjuarai Liga Europa bersama Frankfurt.
Selain itu, Glasner juga mengangkat trofi bersama Steve Parish. Adegan tersebut menjadi simbol membaiknya hubungan mereka setelah sempat mengalami konflik sepanjang musim.
Warisan Besar Oliver Glasner di Selhurst Park
Oliver Glasner meninggalkan Crystal Palace dengan status legenda klub. Ia bukan hanya menghadirkan trofi, tetapi juga mengubah mentalitas tim secara menyeluruh.
Sebelum kedatangannya, Palace identik sebagai klub papan tengah Premier League. Kini, mereka berhasil menjadi juara Eropa dan memiliki identitas permainan yang kuat.
Keberhasilan itu terasa lebih istimewa karena diraih di tengah banyak masalah. Cedera, konflik internal, kritik suporter, hingga performa buruk sempat menghantam Palace sepanjang musim.
Namun, Glasner mampu membawa tim bangkit dari situasi sulit. Oleh karena itu, musim 2025/2026 akan selalu dikenang sebagai era terbaik dalam sejarah Crystal Palace.
Dari klub tanpa trofi hingga juara Eropa, semuanya terjadi dalam waktu singkat. Di balik kisah luar biasa tersebut, ada satu nama yang menjadi arsitek utama: Oliver Glasner.






