Friday, February 3, 2023
No menu items!
Google search engine
HomeLiga IndonesiaMasa Depan Liga 1 Indonesia Semakin Suram

Masa Depan Liga 1 Indonesia Semakin Suram

Duka telah mencengkeram dunia sepakbola Indonesia setelah tragedi berdarah di Stadion Kanjuruhan yang merenggut 135 nyawa. Insiden itu membuat para pesepakbola “keluar dari pekerjaan” lagi karena semua pertandingan ditangguhkan untuk batas waktu yang tidak ditentukan. Penangguhan liga merupakan salah satu rekomendasi dari Kelompok Pencari Fakta Independen Bersama Tragedi Kanjuruhan (TGIPF). Inilah Awal Mula Masa Depan Liga 1 Indonesia yang nampak Semakin Suram.

Dalam rekomendasinya, TGIPF meminta pemerintah untuk tidak mengizinkan liga sepak bola profesional di bawah PSSI, yaitu Liga 1 Indonesia Musim 2022/2023, Liga 2 Indonesia Musim 2022/2023, dan Liga 3 Indonesia Musim 2022/2023, hingga PSSI mengalami perubahan besar dalam pengelolaan dan penyelenggaraan pertandingan sepak bola dan siap. TGIPF menilai semua pemangku kepentingan saling menghindar dalam kasus Malang.

Semua dilindungi oleh aturan dan kontrak yang sah secara formal. Dalam hal ini, menurut mereka, PSSI harus bertanggung jawab secara hukum dan etika. Pertanggungjawaban berupa pengunduran diri manajemen. Untuk menjaga kesinambungan pemerintahan PSSI dan menyelamatkan sepak bola nasional, TGIPF meminta para pemangku kepentingan PSSI untuk mempercepat Majelis Umum atau mengadakan Majelis Umum Luar Biasa (KLB).

Liga 1 Indonesia Semakin Suram

KLB mengharapkan PSSI menghasilkan kepemimpinan dan manajemen yang berintegritas, profesional, akuntabel, dan tidak ada benturan kepentingan. Mahfud MD, Ketua TGIPF dan Menko Polhukam, terang-terangan mencemooh manajemen PSSI yang tidak mau mundur. Dia mengatakan pengunduran diri itu adalah panggilan moral, bukan hukum, untuk campur tangan.

Namun, jika partai tidak mengundurkan diri, partai tersebut dapat dianggap tidak bermoral. PSSI dengan tegas menolak usulan TGIPF untuk melakukan restrukturisasi kepengurusan melalui KLB. Ahmad Riyadh, anggota Komite Eksekutif PSSI, menegaskan apa yang dibuat TGIPF hanyalah sebuah rekomendasi. Meski keputusannya tetap berdasarkan aturan yang ada.

Menurutnya, KLB adalah hak anggota PSSI. Jika anggota meminta untuk menerapkan KLB, PSSI baru akan menahannya. Setelah masa kepengurusan PSSI berakhir pada 2023, PSSI akan tetap menggelar kongres. Hal ini sejalan dengan piagam FIFA dan berharap pemerintah Indonesia tidak mencampuri urusan rumah tangga mereka. Ego yang masih saja ada dalam diri PSSI, 130an nyawa melayang itu belum cukup kah? Moral yang masih kurang.

Masa Depan Liga 1 Indonesia Musim 2022/2023 Semakin Suram

Masa Depan Liga 1 Indonesia Semakin Suram
Masa Depan Liga 1 Indonesia Semakin Suram

Melihat hal tersebut, nampaknya permainan sepak bola Indonesia akan sulit untuk diadakan kembali dalam waktu dekat. Di satu sisi, sebagai perwakilan pemerintah, TGIPF tentu mengharapkan para pesepakbola untuk mengikuti saran mereka. Selain itu, tim mendapat mandat penuh dari Presiden Jokowi. Alasan moral adalah jalan mereka melakukan penyelidikan tersebut, meski ego PSSI masih menjadi masalah.

Sementara itu, PSSI menegaskan pemerintah tidak bisa mencampuri pengelolaan yang ada saat ini, termasuk KLB. Yang terpenting, mereka kini serius menangani manajemen tim nasional sepak bola. Kontradiksi ini membuat masa depan Liga 1 Indonesia Musim 2022/2023 semakin tidak menentu. Untuk saat ini, semua pihak hanya bisa menunggu. Tapi jika ini terus berlanjut, pesepakbola pasti akan menjadi korban.

Klub juga meminta kepastian tentang kembalinya liga. Selain itu, mereka juga memiliki tanggung jawab yang cukup besar. Ada pemain, pelatih, dan ofisial tim yang harus diurus. Alhasil, beberapa klub langsung memecat timnya demi menghemat uang. Tanpa latihan, keadaan tim harus kembali dari nol. Tidak hanya itu, pelatih juga harus mengubah rencana mereka hingga liga dipastikan akan dilanjutkan.

Selain itu, ada masalah sponsorship yang juga harus diyakinkan oleh klub. Harus diakui bahwa kehadiran sponsor sangat penting untuk mendukung klub. Tetapi jika liga tidak bergulir, tentu saja rugi karena sponsor juga tidak akan masuk. Belum lagi masalah kontrak pemain dan pelatih yang mungkin harus direvisi karena penundaan jadwal pertandingan.

Tentu saja, semua pemangku kepentingan harus mulai mencari jalan keluar. Jangan sampai para pesepakbola menjadi korban, seperti yang mereka alami di masa pandemi lalu. Harus ada pihak yang berwawasan luas agar tidak semakin banyak pihak yang menjadi korban. Semoga sepakbola di negeri ini benar-benar bertransformasi bahkan tidak berhenti. Catatan untuk pemangku kekuasaan Sepak Bola di Negeri ini, “Selamatkan Sepak Bola Indonesia”! (*)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments