Guardiola keluhkan krisis cedera yang melanda Man City setelah rangkaian hasil buruk di berbagai kompetisi. Pelatih asal Spanyol itu akhirnya angkat bicara dengan nada keras, karena menilai kritik publik tidak melihat kondisi tim secara menyeluruh. Menjelang laga Liga Inggris melawan Wolves, Pep Guardiola menegaskan bahwa masalah utama timnya bukan taktik, melainkan keterbatasan pemain akibat cedera berkepanjangan.
Situasi ini muncul setelah kekalahan menyakitkan di derbi Manchester dan hasil mengejutkan saat bertandang ke Norwegia. Manchester City dinilai tampil jauh dari standar, namun Guardiola menolak narasi bahwa timnya kehilangan arah. Oleh karena itu, ia memilih membela skuadnya yang menurutnya sedang berada dalam kondisi tidak ideal.
Guardiola Bela Skuad yang Babak Belur
Pelatih Pep Guardiola menunjukkan rasa frustrasi ketika menanggapi kritik atas kekalahan Manchester City dari Bodo/Glimt. Ia menilai banyak pengamat meremehkan kualitas lawan tanpa memahami konteks pertandingan. Menurut Guardiola, Bodo/Glimt adalah tim yang sangat solid, terutama ketika bermain di kandang sendiri.
Guardiola bahkan menyebut bahwa banyak pihak tidak benar-benar menonton pertandingan tersebut. Ia menyoroti organisasi permainan lawan yang disiplin dan rapat. Selain itu, struktur 4-4-2 yang diterapkan Bodo/Glimt membuat City kesulitan menembus pertahanan.
Yang terpenting, Guardiola menegaskan bahwa timnya kehilangan elemen penting dalam laga tersebut. Absennya pemain sayap murni membuat serangan City tidak berkembang. Tanpa kemampuan duel satu lawan satu di sisi lapangan, ruang serang menjadi sangat terbatas.
Kondisi tersebut, menurut Guardiola, bukan kesalahan perencanaan taktik. Ia menilai keterbatasan pilihan pemain memaksa tim bermain dengan cara yang tidak ideal. Oleh karena itu, hasil akhir dianggap sebagai konsekuensi dari situasi tersebut.
Jadwal Padat Jadi Akar Masalah
Guardiola kemudian mengarahkan sorotan pada jadwal kompetisi yang semakin padat. Ia menyebut jadwal tersebut tidak berkelanjutan bagi kebugaran pemain. Dalam pandangannya, krisis cedera yang dialami Manchester City merupakan dampak langsung dari akumulasi beban pertandingan.
Pelatih asal Spanyol itu mengungkapkan bahwa timnya menghadapi masalah fisik serius. Setidaknya tujuh pemain dipastikan absen, sementara total 11 pemain mengalami kendala kebugaran. Situasi ini membuat rotasi hampir mustahil dilakukan.
Guardiola menegaskan bahwa timnya bisa bertahan dalam kondisi darurat untuk waktu singkat. Namun, ketika masalah itu berlangsung lama, fondasi permainan menjadi goyah. Ia menyebut situasi tersebut sebagai sesuatu yang tidak mungkin diatasi dalam jangka panjang.
Selain itu, Guardiola menyinggung perjalanan panjang tim dalam beberapa musim terakhir. Mulai dari kompetisi domestik, Eropa, hingga turnamen internasional, beban fisik pemain terus menumpuk. Oleh karena itu, cedera dinilai sebagai konsekuensi yang sulit dihindari.
Kondisi Cedera Pemain Kunci
Menjelang laga kontra Wolves, Guardiola memberikan pembaruan kondisi skuad yang cukup mengkhawatirkan. Bek andalan Josko Gvardiol dipastikan menepi lama setelah mengalami patah tulang. Cedera tersebut membutuhkan operasi dan membuatnya absen selama beberapa bulan.
Selain itu, Ruben Dias juga belum bisa kembali ke lapangan. Di sektor sayap, Savinho baru memulai latihan ringan dan masih membutuhkan waktu untuk pulih sepenuhnya. Guardiola mengakui belum bisa memastikan kapan pemain muda tersebut siap bermain.
Di lini tengah, Mateo Kovacic masih absen, sementara kondisi Nico Gonzalez belum sepenuhnya jelas. Situasi ini membuat opsi Guardiola semakin terbatas. Meski begitu, ada sedikit kabar positif dengan ketersediaan Antoine Semenyo dan Marc Guehi.
Kembalinya Bernardo Silva dari skorsing juga memberi tambahan tenaga. Namun demikian, Guardiola menilai hal itu belum cukup menutupi absennya banyak pemain inti. Oleh karena itu, ia tetap menekankan pentingnya memahami kondisi tim saat ini.
Laga Kontra Wolves Jadi Ujian Mental
Pertandingan melawan Wolverhampton Wanderers menjadi ujian besar bagi Manchester City. Guardiola bahkan menyebut laga tersebut seperti sebuah final. Ia menilai setiap poin sangat berarti di tengah situasi sulit yang dihadapi tim.
Meski memulai laga dengan kerugian dari sisi kebugaran, Guardiola menuntut pemain yang tersedia untuk tetap tampil maksimal. Ia percaya karakter timnya masih kuat, meskipun hasil belum konsisten. Selain itu, ia meminta publik tidak asal mengkritik tanpa melihat konteks.
Guardiola juga menegaskan bahwa timnya tidak kehilangan sentuhan permainan. Menurutnya, Manchester City kehilangan pemain, bukan ide. Pernyataan ini menjadi penutup pembelaan sang pelatih terhadap skuadnya yang sedang pincang.
Dengan jadwal padat yang terus berlanjut, Guardiola berharap ada perhatian lebih terhadap kesehatan pemain. Ia menilai keberlanjutan kompetisi harus sejalan dengan perlindungan terhadap fisik pemain. Jika tidak, krisis serupa berpotensi terus berulang.






