Vinicius Junior menghadapi periode sulit hampir 500 hari setelah gagal meraih Ballon d’Or 2024. Penyerang andalan Real Madrid itu menunjukkan penurunan performa yang cukup signifikan. Setelah finis di posisi kedua ajang Ballon d’Or, ekspektasi terhadap Vinicius sangat tinggi. Oleh karena itu, perubahan statistik dan pengaruhnya di lapangan kini menjadi perhatian utama Madrid.
Momen Ballon d’Or yang Mengubah Narasi
Pada 24 Oktober 2024, Vinicius menyaksikan Rodri mengangkat trofi Ballon d’Or. Momen tersebut terasa pahit karena Vinicius yakin peluangnya sangat besar. Musim sebelumnya, ia tampil luar biasa dan menjadi pilar utama Madrid.
Pada periode itu, Vinicius berkontribusi besar dalam gelar La Liga dan Liga Champions. Catatan 24 gol dan sembilan assist di semua kompetisi menegaskan dominasinya. Selain itu, performanya di final Eropa memperkuat statusnya sebagai salah satu pemain terbaik dunia.
Namun, sejak malam Ballon d’Or tersebut, grafik performanya mulai menurun. Perubahan ini perlahan terlihat dalam statistik dan dampak langsung di lapangan. Karena itu, Madrid kini menghadapi tantangan untuk memulihkan performa sang pemain.
Penurunan Produktivitas Gol dan Dribel
Masalah paling nyata terlihat dari produktivitas gol Vinicius. Jika sebelumnya ia mencetak satu gol setiap dua pertandingan, kini rasio tersebut turun drastis. Saat ini, Vinicius hanya mampu mencetak satu gol dalam empat laga.
Penurunan ini jelas memengaruhi daya gedor Real Madrid. Serangan yang dulu mengandalkan kecepatan dan ketajaman Vinicius kini terasa kurang efektif. Oleh karena itu, beban mencetak gol lebih sering berpindah ke pemain lain.
Dribel, yang menjadi ciri khas Vinicius, juga mengalami penurunan. Ia kini mencoba sekitar 25 persen lebih sedikit dribel dibandingkan periode puncaknya. Meski tingkat keberhasilan tetap di kisaran 50 persen, jumlah yang berkurang membuat ancamannya menurun.
Crossing Menurun, Assist Tetap Stabil
Selain dribel, jumlah percobaan crossing Vinicius juga menurun sekitar 20 persen. Hal ini mengurangi variasi serangan dari sisi sayap. Madrid kehilangan salah satu sumber utama umpan berbahaya ke kotak penalti.
Namun demikian, catatan assist Vinicius relatif stabil. Ia masih mencatat rata-rata satu assist setiap tiga pertandingan. Statistik ini menunjukkan bahwa visi bermainnya belum sepenuhnya hilang.
Meski begitu, kontribusi assist saja belum cukup menggantikan penurunan produktivitas gol. Oleh karena itu, Madrid membutuhkan Vinicius kembali tajam sebagai pencetak gol utama dari sisi sayap.
Dampak Langsung pada Perolehan Poin Madrid
Penurunan performa Vinicius berdampak langsung pada perolehan poin Real Madrid. Sebelum malam Ballon d’Or 2024, gol-golnya menyumbang sekitar 20 poin bagi tim. Kini, kontribusi tersebut turun drastis menjadi hanya delapan poin.
Selisih ini sangat signifikan dalam persaingan ketat di La Liga dan kompetisi Eropa. Madrid kehilangan faktor pembeda yang sebelumnya sering muncul dari Vinicius. Selain itu, ketergantungan pada momen individu menjadi lebih besar.
Situasi ini memaksa pelatih mencari alternatif taktik. Beberapa pemain muda mendapat menit bermain lebih banyak. Namun, solusi tersebut belum sepenuhnya menutup celah yang ditinggalkan penurunan Vinicius.
Rumor Transfer dan Tekanan Mental
Di tengah penurunan performa, rumor kepindahan Vinicius ke Arab Saudi terus beredar. Meski demikian, hingga kini ia tetap bertahan di Madrid. Klub belum menunjukkan sinyal melepas pemain berusia 25 tahun tersebut.
Tekanan mental juga menjadi faktor yang sulit diabaikan. Gagal meraih Ballon d’Or setelah musim gemilang berpotensi memengaruhi kepercayaan diri. Selain itu, sorotan media yang konstan menambah beban psikologis.
Madrid menyadari aspek mental ini perlu perhatian khusus. Oleh karena itu, pendekatan manajemen dan staf pelatih menjadi krusial dalam fase ini.
Tantangan Memulihkan Performa
Dengan jadwal padat La Liga dan Liga Champions, waktu untuk evaluasi sangat terbatas. Madrid harus menemukan cara mengembalikan ketajaman Vinicius secepat mungkin. Peran pemain sayap tersebut tetap vital dalam sistem permainan tim.
Pendekatan taktik yang lebih fleksibel menjadi salah satu opsi. Selain itu, rotasi dan pengelolaan menit bermain dapat membantu menjaga kondisi fisik dan mental Vinicius. Fokus utama tetap pada mengembalikan kepercayaan diri.
Penutup
Periode hampir 500 hari setelah Ballon d’Or menjadi fase sulit bagi Vinicius Junior. Penurunan gol, dribel, dan dampak langsung pada poin Madrid menunjukkan tantangan nyata. Meski assist masih stabil, Real Madrid membutuhkan versi terbaik Vinicius. Oleh karena itu, pemulihan performa sang pemain akan sangat menentukan arah musim Madrid ke depan.






