Friday, January 9, 2026
No menu items!
asia9QQ  width=
HomeLiga InggrisTiga Penyesuaian Taktik Manchester United Era Fletcher, Sesko Jadi Poros Serangan

Tiga Penyesuaian Taktik Manchester United Era Fletcher, Sesko Jadi Poros Serangan

Penyesuaian taktik Manchester United kembali menjadi sorotan setelah hasil imbang 2-2 melawan Burnley pada pekan ke-21 Premier League. Bertanding di Turf Moor, Kamis (8/1) dini hari WIB, Setan Merah gagal membawa pulang tiga poin meski Benjamin Sesko mencetak dua gol penting. Oleh karena itu, laga ini tetap menarik perhatian karena menampilkan pendekatan berbeda di bawah kendali manajer karteker, Darren Fletcher.

Hasil tersebut memang tidak ideal bagi Manchester United. Namun, di balik skor akhir, terdapat indikasi perubahan arah permainan. Fletcher mulai meninggalkan pola lama peninggalan Ruben Amorim yang selama ini menuai kritik karena dianggap terlalu kaku. Yang terpenting, sejumlah penyesuaian ini langsung berdampak pada peran pemain kunci di lapangan.

- Advertisement -
asia9QQ

Selain dua gol Sesko, pertandingan juga diwarnai kesalahan individu Ayden Heaven serta gol balasan Burnley melalui Anthony. Meski begitu, fokus utama tertuju pada bagaimana Manchester United membangun serangan dan mengatur struktur permainan secara keseluruhan.

Pendekatan Distribusi Bola Lebih Variatif

Pada era Ruben Amorim, Manchester United sangat mengandalkan umpan jauh sebagai jalur progresi utama. Bek seperti Lisandro Martinez dan Leny Yoro kerap melepas bola panjang vertikal, bahkan kiper ikut terlibat dalam skema tersebut. Pola ini membuat permainan MU sering mudah ditebak lawan.

Sebaliknya, Darren Fletcher mengambil arah berbeda. Ia mengurangi intensitas umpan jauh dan lebih mendorong distribusi diagonal untuk menggeser blok pertahanan Burnley. Karena itu, aliran bola terlihat lebih sabar dan terstruktur dari fase awal.

Perubahan ini berdampak langsung pada area sayap. Wingback dan winger Manchester United lebih aktif membuka lebar lapangan. Selain itu, intensitas crossing meningkat signifikan dibandingkan laga-laga sebelumnya.

Gol kedua Benjamin Sesko menjadi contoh paling jelas. Umpan silang dari sisi lapangan disambut penyelesaian klinis di kotak penalti. Situasi seperti ini jarang muncul pada era Amorim yang lebih mengandalkan dribel menusuk ke tengah.

Benjamin Sesko Jadi Target Man Utama

Peran Benjamin Sesko mengalami perubahan paling mencolok di bawah Fletcher. Striker asal Slovenia itu mencatatkan delapan tembakan sepanjang laga, rekor pribadinya sejak bergabung dengan Manchester United. Angka tersebut menunjukkan fokus serangan kini benar-benar diarahkan kepadanya.

Fletcher menempatkan Sesko sebagai target man murni. Ia menjadi titik akhir dari berbagai skema crossing dan cut-back. Karena itu, kehadirannya di kotak penalti terlihat lebih dominan dan konsisten.

Kondisi ini sangat kontras dengan peran Sesko pada masa Amorim. Sebelumnya, ia sering berfungsi sebagai pemantul bola. Winger atau wingback justru lebih sering mengambil alih eksekusi akhir, sehingga kontribusi gol Sesko relatif terbatas.

Dengan pendekatan baru ini, Manchester United memiliki referensi serangan yang lebih jelas. Selain itu, beban kreatif pemain lain menjadi lebih seimbang karena tugas utama penyelesaian berada di tangan satu sosok sentral.

Perubahan Formasi dan Aktivasi Playmaker

Perbedaan lain yang tidak kalah penting terlihat pada struktur formasi. Ruben Amorim konsisten memakai skema 3-4-3, meski hasilnya kerap mengecewakan. Formasi tersebut membuat jarak antarlini sering terlalu renggang.

Darren Fletcher langsung mengubah pendekatan dengan menerapkan formasi 4-2-3-1. Empat bek sejajar memberi stabilitas tambahan, sementara dua gelandang bertahan berfungsi melindungi lini belakang. Luke Shaw kembali memainkan peran natural sebagai bek kiri.

Yang terpenting, perubahan ini menghidupkan kembali peran Bruno Fernandes. Ia kembali ditempatkan sebagai playmaker murni di belakang striker. Pada era Amorim, Bruno sering dimainkan lebih dalam sebagai gelandang nomor delapan.

Dengan posisi baru tersebut, Bruno lebih dekat dengan area berbahaya. Ia mampu mengatur tempo, melepas umpan terobosan, dan menghubungkan lini tengah dengan Sesko secara lebih efektif. Alhasil, kreativitas Manchester United terlihat meningkat meski hasil akhir belum maksimal.

Sinyal Perubahan Sudah Tampak

Hasil imbang di Turf Moor memang belum mengakhiri masalah Manchester United. Namun, sinyal perubahan di bawah Darren Fletcher terlihat jelas dan terukur. Pengurangan umpan jauh, sentralisasi peran Benjamin Sesko, serta penyesuaian formasi memberi fondasi baru yang lebih fleksibel. Jika pendekatan ini terus disempurnakan, Manchester United berpeluang menemukan kembali identitas permainan yang selama ini hilang.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
asia9sports

Most Popular

Recent Comments