Manchester United kembali mencuri perhatian dalam laga melawan Nottingham Forest di Premier League 2024/2025. Bukan karena performa gemilang atau kemenangan besar, melainkan keputusan tak biasa yang diambil oleh manajer mereka, Ruben Amorim. Sang pelatih memilih untuk memainkan Harry Maguire sebagai striker di laga ini, sesuatu yang jarang atau bahkan belum pernah terlihat sebelumnya.
Laga yang digelar di City Ground itu awalnya berjalan seperti biasa. Maguire, yang baru pulih dari cedera, memulai pertandingan dari bangku cadangan. Namun, keputusan yang mengundang tanda tanya terjadi pada menit ke-88 ketika Amorim memasukkan Maguire untuk menggantikan Leny Yoro. Yang mengejutkan, alih-alih menempati posisi aslinya di jantung pertahanan, ia justru dipasang sebagai ujung tombak serangan. Bahkan, sang bek hampir mencetak gol di menit-menit akhir pertandingan jika saja Murilo tidak berhasil menghalau sepakannya.
Keputusan ini tentu memicu banyak pertanyaan. Mengapa Amorim menempatkan Maguire di lini depan? Apa strategi yang ada di balik langkah tak biasa ini? Sang pelatih pun memberikan penjelasannya seusai laga.
Strategi Melawan Pertahanan Rapat Nottingham Forest
Saat diwawancarai oleh MUTV, Amorim menjelaskan bahwa keputusan menaruh Maguire di lini depan bukanlah tindakan spontan. Ia menyebut bahwa Nottingham Forest menerapkan strategi bertahan yang sangat rapat, terutama di 15 menit terakhir pertandingan. Hal ini membuat United kesulitan menembus kotak penalti dengan kombinasi permainan bola pendek.
“Jika Anda perhatikan, di menit-menit akhir, Forest bertahan dengan enam pemain sekaligus. Mereka menutup setiap celah dan ruang yang bisa kami manfaatkan,” ujar Amorim.
Menurutnya, dalam kondisi seperti itu, MU membutuhkan pemain tambahan di dalam kotak penalti yang bisa memberikan ancaman melalui duel udara serta bola-bola mati. Itulah mengapa Maguire dipilih untuk naik ke lini depan. Dengan tinggi badan dan kekuatan fisiknya, ia dianggap sebagai opsi terbaik untuk menghadapi pertahanan ketat lawan.
Manfaatkan Keunggulan Bola Mati
Salah satu alasan utama mengapa Amorim memainkan Maguire sebagai striker adalah kemampuannya dalam duel udara dan bola mati. Sang pelatih menyadari bahwa dengan pertahanan lawan yang begitu solid, peluang terbaik untuk mencetak gol adalah melalui situasi set-piece atau bola lambung ke dalam kotak penalti.
“Harry Maguire sangat kuat dalam duel udara dan bola mati. Kami melihat bahwa ini adalah kesempatan terbaik untuk bisa mencetak gol melawan Forest,” jelas Amorim.
Keputusan ini nyaris membuahkan hasil ketika Maguire mendapatkan peluang emas di menit injury time. Sayangnya, sepakan akhirnya berhasil disapu oleh Murilo sebelum bola melewati garis gawang. Jika sedikit lebih beruntung, strategi unik Amorim ini bisa saja menjadi bahan perbincangan yang lebih positif.
Manchester United Harus Menelan Kekalahan
Meski strategi ini menarik perhatian, kenyataan pahit tetap harus diterima oleh Manchester United. Setan Merah harus pulang dari City Ground dengan tangan hampa setelah takluk 1-0 dari Nottingham Forest. Gol tunggal dalam laga ini dicetak oleh pemain yang dulunya merupakan bagian dari akademi Manchester United, Anthony Elanga.
Gol tersebut tercipta hanya lima menit setelah pertandingan dimulai. Elanga memanfaatkan kelengahan lini belakang MU dan sukses menaklukkan kiper dengan penyelesaian klinis. Gol cepat itu menjadi pukulan telak bagi tim asuhan Amorim, yang sejak saat itu harus berjuang keras untuk mengejar ketertinggalan.
Meskipun United memiliki banyak peluang sepanjang pertandingan, mereka gagal mengonversi peluang menjadi gol. Bahkan, statistik menunjukkan bahwa Setan Merah melakukan 24 percobaan tembakan tanpa hasil, sebuah rekor buruk yang menyamai catatan kurang impresif mereka di Premier League sebelumnya.
Kontroversi di Balik Keputusan Amorim
Keputusan Amorim untuk menjadikan Maguire sebagai striker tentu mengundang pro dan kontra. Beberapa pihak menganggap langkah ini sebagai keputusan cerdas yang menunjukkan fleksibilitas taktik dan pemanfaatan maksimal dari skuad yang ada. Namun, sebagian lainnya justru menilai ini sebagai langkah putus asa yang mencerminkan kurangnya opsi striker dalam skuad Manchester United saat ini.
Beberapa analis sepak bola menyoroti bahwa MU seharusnya memiliki alternatif yang lebih baik untuk menembus pertahanan lawan. Mengandalkan seorang bek tengah sebagai striker dalam situasi darurat bisa dipahami, tetapi jika ini menjadi pola yang berulang, maka ada indikasi bahwa lini serang tim kurang efektif.
Di sisi lain, performa Harry Maguire dalam peran barunya ini cukup menarik. Meski bukan seorang penyerang alami, ia tetap mampu memberikan ancaman nyata di area lawan. Ini membuktikan bahwa sang bek memiliki kemampuan ofensif yang bisa dimanfaatkan dalam skenario tertentu.