Kemenangan Persib Bandung vs Persija Jakarta pada pekan ke-17 BRI Super League 2025/2026 tidak lahir secara kebetulan. Duel klasik di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Minggu (11/1) petang WIB, memperlihatkan keunggulan Persib dalam aspek taktik. Oleh karena itu, keberhasilan ini mencerminkan kecermatan pelatih dalam membaca kekuatan lawan.
Gol cepat Beckham Putra pada menit ke-4 memang menjadi pembeda skor. Namun, di balik hasil akhir 1-0 tersebut, terdapat pendekatan strategis yang efektif. Bojan Hodak menyiapkan skema yang fokus meredam sumber serangan utama Persija sejak awal laga.
Man to Man Ketat Redam Kreativitas Persija
Sejak menit awal, Persib langsung menerapkan man to man marking pada pemain kunci lawan. Persija Jakarta mengandalkan kecepatan dan kreativitas Maxwell Souza serta Allano. Untuk itu, Hodak menugaskan Kakang Rudianto dan Alfeandra Dewangga melakukan penjagaan ketat.
Kakang menjalankan tugasnya dengan disiplin tinggi. Ia jarang naik membantu serangan dan fokus membatasi ruang gerak Maxwell Souza. Tekanan konsisten tersebut membuat Maxwell kesulitan mengembangkan permainan hingga akhirnya ditarik keluar.
Pendekatan serupa diterapkan pada Allano. Dewangga mengikuti pergerakan sang winger, bahkan hingga keluar dari zona bek kiri. Meski Dewangga diganti pada awal babak kedua, dampak man to man tetap terasa karena ritme Allano sudah teredam sejak babak pertama.
Adaptasi Peran Beckham Putra di Sisi Kiri
Penerapan man to man membawa konsekuensi perubahan struktur di sisi kiri Persib. Dewangga kerap meninggalkan pos awalnya untuk mengawal Allano yang bergerak ke tengah. Situasi ini menciptakan ruang kosong yang berpotensi dieksploitasi lawan.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Hodak menggeser peran Beckham Putra. Saat bertahan, Beckham turun lebih dalam dan sejajar dengan bek tengah. Pergerakan ini menjaga keseimbangan lini belakang Persib.
Meski memiliki beban defensif tambahan, kontribusi Beckham saat menyerang tetap optimal. Dalam fase transisi, ia cepat naik membantu serangan. Gol cepat yang dicetaknya menjadi bukti efektivitas peran adaptif tersebut.
Selain itu, pergerakan Beckham dari lini kedua membuat Persija kesulitan membaca pola serangan Persib. Variasi posisi ini memberi keuntungan taktis bagi tuan rumah. Oleh karena itu, Beckham tampil sebagai pemain kunci dalam dua fase permainan.
Fleksibilitas Eliano Reijnders Jaga Intensitas Pressing
Peran penting lainnya datang dari Eliano Reijnders. Saat Beckham fokus menutup ruang, Eliano mengambil tanggung jawab pressing awal. Ia kerap menjadi pemain pertama yang menekan ketika Persija membangun serangan dari belakang.
Eliano tampil agresif dan konsisten sepanjang laga. Ia beberapa kali memotong jalur progresi bola Persija dan memaksa lawan bermain lebih direct. Tekanan ini membuat penguasaan bola Persija tidak berkembang menjadi peluang bersih.
Selain pressing, Eliano juga rajin menutup ruang yang ditinggalkan Thom Haye dan pemain ofensif lain. Peran ini sangat penting untuk menjaga jarak antarlini tetap rapat. Dengan demikian, Persib mampu mempertahankan struktur bertahan yang solid.
Fleksibilitas Eliano semakin terlihat ketika Kakang Rudianto ditarik keluar. Ia digeser ke posisi bek kanan tanpa mengurangi kualitas permainan. Penyesuaian ini menjaga keseimbangan taktik Persib hingga peluit akhir.
Persib Dominan Tanpa Harus Menguasai Bola
Menariknya, Persib tidak mendominasi penguasaan bola dalam laga ini. Persija lebih banyak memegang bola, namun kesulitan menembus blok pertahanan tuan rumah. Hal ini menunjukkan efektivitas pendekatan taktik Hodak.
Persib memilih bermain efisien dan disiplin. Setiap pemain memahami perannya dengan jelas. Koordinasi antar lini membuat Persija jarang mendapatkan ruang ideal untuk menembak.
Selain itu, transisi cepat menjadi senjata utama Persib. Saat merebut bola, mereka langsung mengalirkannya ke area depan. Pola ini memaksimalkan kualitas individu pemain sayap dan gelandang serang.
Taktis dan Dampaknya bagi Persib
Kemenangan Persib atas Persija menegaskan bahwa aspek taktik memegang peran vital dalam laga berintensitas tinggi. Penerapan man to man marking yang disiplin mampu mematikan sumber kreativitas lawan sejak awal. Selain itu, adaptasi peran Beckham Putra serta fleksibilitas Eliano Reijnders menjaga keseimbangan permainan di berbagai fase. Pendekatan ini menunjukkan kesiapan Persib menghadapi tekanan laga besar.
Lebih jauh, keberhasilan menjalankan rencana pertandingan secara konsisten mencerminkan kematangan tim secara kolektif. Oleh karena itu, Persib tidak hanya layak menutup paruh musim sebagai pemuncak klasemen, tetapi juga tampil sebagai kandidat kuat juara dengan struktur permainan yang semakin solid dan terorganisasi.






