Ronaldo tolak bermain kembali menjadi sorotan setelah sang mega bintang absen dalam laga Al Nassr meski dinyatakan bugar. Keputusan tersebut memunculkan diskusi luas karena bukan kali pertama sang megabintang menunjukkan sikap tegas. Oleh karena itu, perjalanan karier Ronaldo mencatat beberapa momen penting ketika ia memilih menolak tampil sebagai bentuk protes.
Cristiano Ronaldo dikenal sebagai pesepak bola dengan standar tinggi terhadap profesionalisme dan ambisi klub. Namun, di balik prestasi gemilangnya, terdapat sejumlah episode kontroversial. Selain itu, setiap aksi penolakan selalu membawa dampak besar, baik bagi klub maupun kariernya sendiri.
Februari 2026: Protes Terbuka Bersama Al Nassr
Aksi terbaru terjadi pada Februari 2026 saat Ronaldo memilih tidak tampil membela Al Nassr melawan Al Riyadh. Absennya CR7 dikonfirmasi oleh jurnalis transfer ternama Fabrizio Romano. Menariknya, keputusan ini tidak berkaitan dengan kondisi fisik.
Ronaldo dilaporkan kecewa dengan arah kebijakan manajemen klub. Ia menilai Al Nassr tidak mendapat dukungan finansial setara dengan klub lain di Saudi Pro League. Klub seperti Al Hilal, Al Ahli, dan Al Ittihad dinilai lebih agresif di bursa transfer.
Kekecewaan Ronaldo memuncak setelah Al Hilal merekrut Karim Benzema. Situasi tersebut membuat CR7 merasa peluang Al Nassr meraih gelar liga semakin kecil. Oleh karena itu, keputusannya absen dipandang sebagai pesan protes terbuka kepada manajemen.
Meski Al Nassr diprediksi mampu mengalahkan Al Riyadh, keputusan Ronaldo tetap menjadi sorotan. Publik kini menanti apakah aksi ini akan memicu perubahan kebijakan internal klub.
Oktober 2022: Konflik Terbuka di Manchester United
Sebelum insiden di Arab Saudi, Ronaldo pernah melakukan aksi serupa di Eropa. Pada Oktober 2022, hubungannya dengan Erik ten Hag di Manchester United mencapai titik terendah. Konflik tersebut terjadi dalam laga Premier League melawan Tottenham Hotspur.
Ronaldo menolak masuk sebagai pemain pengganti di menit akhir. Ia kemudian meninggalkan stadion sebelum pertandingan usai. Aksi tersebut langsung menyita perhatian dunia sepak bola.
Ten Hag menilai sikap tersebut melanggar disiplin tim. Klub pun menjatuhkan sanksi internal kepada Ronaldo. Selain itu, hubungan keduanya semakin sulit dipulihkan.
Dalam wawancara kontroversial bersama Piers Morgan, Ronaldo mengakui penyesalannya. Namun, ia tetap merasa diperlakukan tidak adil. Ia menilai keputusan memainkan dirinya hanya beberapa menit sebagai bentuk ketidakrespekkan.
Tak lama setelah insiden itu, Ronaldo hanya tampil dua kali lagi di liga. Pada November 2022, ia resmi berpisah dengan Manchester United melalui kesepakatan bersama.
Agustus 2021: Awal Perpisahan dengan Juventus
Aksi penolakan Ronaldo juga tercatat saat masih membela Juventus. Pada awal musim 2021/2022, ia secara terbuka meminta tidak dimainkan. Permintaan itu terjadi di tengah keinginannya hengkang dari Turin.
Ronaldo absen pada laga kandang pertama Juventus melawan Empoli. Keputusan tersebut berujung pahit karena Juventus kalah 0-1. Beberapa hari kemudian, Ronaldo resmi kembali ke Manchester United.
Pelatih Juventus saat itu, Massimiliano Allegri, mengonfirmasi bahwa Ronaldo memang tidak berniat melanjutkan karier. Meski demikian, Allegri tetap menghargai kontribusi sang bintang.
Selama tiga musim bersama Juventus, Ronaldo mencatat 101 gol dari 134 pertandingan. Ia juga mempersembahkan lima trofi domestik. Namun, ambisi menjuarai Liga Champions tidak pernah terwujud.
Benang Merah dari Tiga Insiden
Ketiga peristiwa tersebut menunjukkan pola yang konsisten. Ronaldo selalu bersuara ketika merasa ambisi dan prinsipnya tidak sejalan dengan klub. Ia tidak ragu mengambil sikap ekstrem demi menyampaikan pesan.
Bagi sebagian pihak, tindakan ini dianggap egois. Namun, pendukung Ronaldo menilai sikap tersebut mencerminkan mental juara. Ia menuntut standar tinggi, baik dari dirinya sendiri maupun dari lingkungan klub.
Selain itu, setiap aksi protes selalu berkaitan dengan ambisi meraih gelar. Ronaldo tidak ingin sekadar menjadi simbol. Ia menuntut proyek yang benar-benar kompetitif.
Dampak bagi Klub dan Karier Ronaldo
Setiap penolakan bermain selalu membawa konsekuensi. Di Manchester United dan Juventus, aksi tersebut berujung perpisahan. Kini, situasi serupa berpotensi terjadi di Al Nassr.
Bagi klub, kehilangan Ronaldo berarti kehilangan figur sentral. Namun, bagi Ronaldo, konsistensi prinsip tampaknya lebih penting. Oleh karena itu, ia rela menghadapi kritik demi mempertahankan standar pribadi.
Di usia hampir 41 tahun, Ronaldo masih menjadi pusat perhatian. Bukan hanya karena gol-golnya, tetapi juga karena sikapnya yang terus memantik perdebatan.
Sikap Tegas yang Terus Diperdebatkan
Aksi-aksi ini mempertegas karakter Cristiano Ronaldo. Ia bukan tipe pemain yang diam saat merasa tidak puas. Selain itu, sikapnya selalu mengundang respons luas dari publik dan media.
Apakah sikap tersebut akan kembali memicu perubahan di Al Nassr, masih harus ditunggu. Yang jelas, Ronaldo tetap menjadi figur yang memengaruhi arah klub di mana pun ia berada.






