Era Xabi Alonso bersama Real Madrid resmi berakhir setelah manajemen Los Blancos memutuskan memutus kerja sama pada pertengahan musim 2025/2026. Keputusan ini diambil menyusul kekalahan dari Barcelona pada final Piala Super Spanyol, yang dinilai menjadi puncak dari performa tim yang belum stabil sejak awal musim.
Kepergian Xabi Alonso terjadi hanya tujuh bulan setelah ia ditunjuk sebagai penerus Carlo Ancelotti. Oleh karena itu, langkah ini langsung memicu sorotan besar karena Real Madrid dikenal jarang mengambil keputusan drastis di tengah musim. Namun, standar tinggi klub membuat toleransi terhadap hasil selalu sangat terbatas.
Akhir Singkat Proyek Xabi Alonso di Bernabeu
Xabi Alonso datang ke Santiago Bernabeu pada musim panas dengan reputasi mentereng. Keberhasilannya membawa Bayer Leverkusen tampil dominan di Jerman membuat ekspektasi publik dan manajemen melonjak tajam. Akan tetapi, adaptasi di Real Madrid berjalan lebih rumit dari perkiraan.
Sepanjang paruh musim, performa permainan Los Blancos belum menunjukkan identitas yang benar-benar solid. Madrid memang masih bersaing di papan atas La Liga, tetapi konsistensi permainan kerap menjadi masalah. Selain itu, sejumlah laga besar gagal dimenangkan dengan cara meyakinkan.
Di ajang Piala Dunia Antarklub, langkah Madrid terhenti di semifinal. Hasil tersebut dinilai belum sejalan dengan ambisi klub yang selalu menargetkan gelar. Sementara itu, posisi ketujuh di klasemen sementara Liga Champions dengan dua laga tersisa turut memperkuat evaluasi negatif manajemen.
Kekalahan dari Barcelona di final Piala Super Spanyol akhirnya menjadi titik balik. Pertandingan tersebut memperlihatkan jarak performa yang dinilai terlalu jelas, terutama dalam aspek organisasi permainan dan respons taktis. Oleh karena itu, manajemen memilih menghentikan proyek lebih cepat.
Pertimbangan Manajemen dan Pernyataan Resmi Klub
Keputusan pemecatan Xabi Alonso diumumkan secara resmi kurang dari 12 jam setelah skuad tiba kembali di Madrid. Kecepatan pengumuman ini menegaskan bahwa evaluasi sudah dilakukan sebelumnya dan hasil final hanya menjadi pemicu akhir.
Dalam pernyataan resminya, Real Madrid menekankan bahwa keputusan diambil berdasarkan kesepakatan bersama. Klub juga menyampaikan apresiasi atas dedikasi Alonso dan stafnya selama masa tugas yang singkat. Namun, nada pernyataan tersebut tetap menunjukkan ketegasan arah kebijakan klub.
Manajemen menilai bahwa performa tim belum mencerminkan potensi skuad yang dimiliki. Selain itu, perkembangan permainan dianggap tidak cukup progresif untuk menjawab tuntutan kompetisi domestik dan Eropa. Oleh karena itu, perubahan dinilai perlu dilakukan segera.
Situasi ini kembali menegaskan karakter Real Madrid sebagai klub dengan ambisi instan. Proyek jangka panjang tetap penting, tetapi hasil di lapangan selalu menjadi ukuran utama. Dalam konteks tersebut, posisi pelatih menjadi sangat rentan ketika target tidak tercapai.
Arbeloa dan Klopp Menguat sebagai Calon Pengganti
Kepergian Xabi Alonso langsung memunculkan spekulasi terkait sosok pengganti. Nama Alvaro Arbeloa menjadi kandidat internal terkuat karena saat ini menangani Real Madrid Castilla. Kedekatannya dengan filosofi klub dinilai bisa menjaga stabilitas ruang ganti.
Arbeloa dianggap memahami kultur Bernabeu dan tekanan yang menyertainya. Selain itu, opsi internal memungkinkan transisi berjalan lebih cepat tanpa banyak perubahan struktural. Namun, pengalaman Arbeloa di level tertinggi masih menjadi tanda tanya besar.
Di sisi lain, Jurgen Klopp kembali mencuat sebagai opsi eksternal. Mantan pelatih Liverpool tersebut dikenal memiliki karisma kuat dan pengalaman menangani tekanan besar. Karena itu, sebagian pihak menilai Klopp mampu memberikan dampak instan sekaligus membangun mental juara.
Meski demikian, pendekatan Klopp yang menuntut intensitas tinggi juga memerlukan adaptasi skuad. Real Madrid harus mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan jangka pendek dan arah proyek ke depan. Oleh karena itu, keputusan akhir diprediksi tidak akan diambil secara tergesa-gesa.
Arah Baru Real Madrid di Sisa Musim
Pemecatan Xabi Alonso menempatkan Real Madrid pada fase krusial musim ini. Dengan kompetisi La Liga dan Liga Champions masih berjalan, stabilitas menjadi faktor utama. Siapa pun pelatih berikutnya akan dituntut memberi hasil cepat tanpa mengorbankan keseimbangan tim.
Manajemen diyakini ingin sosok yang mampu mengelola tekanan ruang ganti sekaligus memaksimalkan potensi pemain bintang. Selain itu, konsistensi permainan harus segera dibenahi agar jarak dengan Barcelona tidak semakin melebar.
Keputusan ini juga menjadi pesan tegas bagi seluruh elemen klub. Real Madrid menegaskan bahwa standar prestasi tidak pernah berubah. Oleh karena itu, setiap proyek harus mampu menunjukkan hasil konkret dalam waktu singkat.






