Potensi pemain naturalisasi menjadi faktor utama di balik keputusan John Herdman menerima tawaran melatih Timnas Indonesia. Meski berada di luar 100 besar ranking FIFA, skuad Garuda dinilai memiliki sumber daya pemain yang unik dan menjanjikan. Oleh karena itu, pelatih berpengalaman Piala Dunia tersebut memilih Indonesia dibanding tawaran lain dari Jamaika dan Honduras.
Keputusan Herdman memicu perhatian publik sepak bola nasional. Pasalnya, Indonesia belum lama ini aktif membangun tim melalui jalur diaspora dan naturalisasi. Pendekatan tersebut dianggap selaras dengan visi jangka menengah yang ingin dibangun sang pelatih.
Anggota Exco PSSI, Arya Sinulingga, menegaskan bahwa Herdman melihat tantangan besar yang justru terasa menggairahkan. Kombinasi tantangan dan potensi inilah yang menjadi nilai jual utama Timnas Indonesia.
Ranking Rendah, Potensi Tinggi
Secara peringkat FIFA, Timnas Indonesia memang masih berada di posisi ke-122 dunia. Namun, angka tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kualitas sumber daya pemain yang tersedia. Karena itu, Herdman menilai ranking bukan satu-satunya parameter dalam membangun tim kompetitif.
Banyak pemain Indonesia kini berkarier di liga Eropa yang kompetitif. Fakta tersebut memberi gambaran bahwa kualitas individu pemain terus meningkat. Selain itu, pengalaman bermain di luar negeri menjadi modal penting untuk meningkatkan level tim nasional.
Menurut Arya Sinulingga, Herdman melihat tantangan menaikkan level Indonesia sebagai proyek menarik. Ia tidak sekadar melihat posisi klasemen, melainkan potensi perkembangan yang bisa dicapai dalam beberapa tahun ke depan.
Kekuatan Diaspora Jadi Magnet Utama
Salah satu daya tarik terbesar Timnas Indonesia terletak pada pemain diaspora. Nama-nama seperti Jay Idzes dan Emil Audero tampil reguler di Serie A. Sementara itu, Kevin Diks bermain di Bundesliga dan Calvin Verdonk merumput di Ligue 1.
Selain itu, Dean James dan Justin Hubner berkiprah di Eredivisie. Keberadaan pemain dengan latar kompetisi Eropa memberi variasi kualitas yang jarang dimiliki negara dengan ranking serupa Indonesia. Oleh karena itu, Herdman melihat Indonesia memiliki resource yang tidak biasa.
Arya menjelaskan bahwa banyak pelatih hanya menilai tim nasional dari liga domestik. Namun, dalam kasus Indonesia, potensi justru tersebar di berbagai negara. Kondisi ini membuka ruang eksplorasi lebih luas bagi pelatih berpengalaman seperti Herdman.
Tantangan yang Dianggap Menggairahkan
Bagi Herdman, melatih tim dengan ranking rendah namun potensi tinggi menghadirkan tantangan tersendiri. Tantangan tersebut tidak hanya soal hasil jangka pendek, tetapi juga pembangunan fondasi tim. Karena itu, proyek Indonesia dinilai relevan dengan pengalamannya sebelumnya.
Herdman dikenal sukses membawa Kanada ke Piala Dunia 2022. Ia terbiasa membangun tim dengan sumber daya terbatas menjadi kompetitif. Pendekatan serupa dinilai bisa diterapkan di Indonesia, meski dengan konteks yang berbeda.
Menurut Arya, Herdman melihat peluang menaikkan level Indonesia cukup besar. Di satu sisi tantangannya tinggi, namun di sisi lain kualitas pemain tersedia. Kombinasi tersebut dianggap ideal untuk proyek pengembangan tim nasional.
Naturalisasi sebagai Strategi Terbuka
Keberadaan jalur naturalisasi juga menjadi faktor penting. Herdman melihat Indonesia tidak memiliki keterbatasan sumber pemain. Selama memiliki darah Indonesia dan memenuhi regulasi, opsi pemain tetap terbuka.
Pendekatan ini berbeda dengan banyak negara lain yang hanya mengandalkan liga domestik. Dengan basis diaspora yang luas, Indonesia memiliki fleksibilitas dalam membangun skuad. Hal ini memberi ruang kreativitas lebih besar bagi pelatih.
Arya menegaskan bahwa Herdman tertarik karena peluang eksplorasi pemain masih luas. Proses naturalisasi bukan sekadar solusi instan, tetapi bagian dari strategi jangka menengah untuk memperkuat tim nasional.
Visi Jangka Menengah Timnas Indonesia
Penunjukan Herdman juga sejalan dengan visi PSSI membangun tim secara bertahap. Target realistis menjadi fokus utama, bukan sekadar hasil instan. Oleh karena itu, potensi pemain dan sistem pengembangan menjadi prioritas.
Dengan pengalaman internasional yang dimiliki Herdman, Timnas Indonesia diharapkan memiliki arah permainan yang lebih jelas. Selain itu, mentalitas kompetitif di level global menjadi nilai tambah penting.
Ke depan, Herdman diharapkan mampu memaksimalkan kombinasi pemain lokal dan diaspora. Sinergi tersebut menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing Indonesia di Asia.
Ketertarikan John Herdman melatih Timnas Indonesia tidak lepas dari potensi besar pemain naturalisasi dan diaspora. Meski ranking FIFA masih rendah, kualitas individu dan sumber daya pemain dinilai menjanjikan. Dengan tantangan yang menggairahkan serta visi pengembangan jangka menengah, Indonesia menjadi proyek menarik bagi pelatih berpengalaman Piala Dunia tersebut. Kini, publik menanti bagaimana Herdman mengubah potensi menjadi prestasi nyata bersama skuad Garuda.






