Opini Sir Alex Ferguson tentang manajer Manchester United kembali relevan ketika Ruben Amorim menghadapi tekanan besar di awal musim Liga Inggris 2025/2026. Dua kekalahan beruntun yang dialami Setan Merah membuat posisinya di kursi manajer semakin goyah. Dengan jadwal melawan Burnley di Old Trafford akhir pekan ini, masa depan Amorim bisa ditentukan hanya dalam satu pertandingan.
Situasi yang menekan ini mengingatkan publik pada komentar legendaris Ferguson. Dalam sebuah wawancara pada 2012, ia menegaskan bahwa seorang pelatih bisa kehilangan pekerjaannya hanya karena tiga kekalahan beruntun. Ucapan itu kini terasa relevan ketika United menelan dua kekalahan awal dan berpotensi menambah catatan buruk melawan Burnley.
Manchester United sendiri sejak era pasca-Ferguson memang kesulitan menemukan pengganti yang mampu memberikan stabilitas jangka panjang. Krisis performa, masalah di ruang ganti, hingga inkonsistensi dalam perekrutan pemain membuat klub ini kerap berada dalam sorotan. Tekanan kepada Amorim semakin besar karena United juga gagal bersaing di Eropa dan tersingkir cepat dari Piala Liga. Banyak pihak menilai, andai Ferguson masih aktif, Amorim mungkin sudah menghadapi risiko nyata kehilangan jabatan.
Aturan Keras Ferguson dan Tekanan yang Sama pada Amorim
Sir Alex Ferguson dikenal bukan hanya karena koleksi trofinya, tetapi juga ketegasan dalam mengelola tim. Dalam wawancara dengan Harvard Business School tahun 2012, ia menyampaikan gambaran singkat mengenai realitas dunia manajerial modern. Menurutnya, “kalah tiga kali beruntun bisa membuat seorang manajer dipecat.”
Ucapan tersebut kini terasa hidup kembali di Old Trafford. Amorim sudah menelan dua kekalahan beruntun, yakni dari Arsenal pada laga pembuka Premier League dan dari Grimsby Town di ajang Piala Liga. Kekalahan terakhir bahkan disebut-sebut sebagai salah satu hasil paling memalukan United dalam satu dekade terakhir.
Dengan atmosfer negatif yang mulai muncul, pertandingan melawan Burnley menjadi titik krusial. Jika United kembali kalah, maka prediksi Ferguson bisa menjadi kenyataan. Bukan hanya suporter yang kecewa, manajemen klub juga diyakini tidak ingin mengambil risiko lebih lama jika tren buruk berlanjut.
Kehilangan Identitas Sejak Pensiunnya Ferguson
Ferguson bukan sekadar manajer dengan banyak gelar, melainkan simbol dari konsistensi dan identitas Manchester United. Selama 26 tahun memimpin, ia menghadirkan 13 trofi Premier League, dua Liga Champions, serta banyak piala domestik lainnya. Lebih dari itu, Ferguson menanamkan kultur kerja keras, mental juara, dan disiplin yang menjadi fondasi kejayaan klub.
Namun sejak ia pensiun pada 2013, United mengalami kesulitan besar. Dalam 12 tahun terakhir, klub hanya mampu meraih lima trofi. Pergantian manajer yang cepat, strategi transfer yang tidak konsisten, dan hilangnya pola permainan khas membuat Setan Merah kesulitan kembali ke papan atas.
Ruben Amorim datang dengan harapan bisa membawa filosofi baru. Sayangnya, musim lalu justru menjadi salah satu yang terburuk. United finis di peringkat ke-15 Premier League, kalah di final Liga Europa, serta gagal bersaing di kompetisi domestik. Catatan buruk itu membuat awal musim 2025/2026 semakin menegangkan.
Amorim dan Krisis Awal Musim
Awal musim ini seharusnya menjadi kesempatan Amorim membuktikan bahwa ia masih layak memimpin United. Akan tetapi, dua hasil negatif langsung mengikis optimisme suporter. Kekalahan dari Arsenal masih dianggap wajar karena lawan merupakan tim besar. Namun, tumbang dari Grimsby Town di Piala Liga menambah daftar panjang kekecewaan.
Tekanan datang bukan hanya dari luar, tetapi juga dari dalam ruang ganti. Sejumlah laporan menyebut beberapa pemain kunci merasa ragu dengan metode kepelatihan Amorim. Suasana ini memperburuk moral tim yang sebenarnya butuh konsolidasi setelah musim lalu. Pertandingan kontra Burnley pun dianggap sebagai ujian terakhir bagi manajer asal Portugal itu.
Jika mampu menang, Amorim bisa sedikit meredakan kritik. Namun jika kalah, desakan untuk segera mencari pengganti akan semakin kuat. Nama-nama seperti Jose Mourinho hingga Ole Gunnar Solskjaer bahkan mulai disebut-sebut dalam rumor untuk kembali ke Old Trafford.
Apa yang Bisa Dipelajari United dari Pesan Ferguson
Pesan Ferguson tentang “tiga kekalahan beruntun” sesungguhnya bukan hanya peringatan, tetapi juga gambaran tentang standar tinggi yang harus dijaga klub sebesar Manchester United. Kekalahan beruntun bukan hanya soal angka, tetapi juga soal hilangnya kepercayaan diri tim, menurunnya dukungan suporter, serta dampak finansial yang bisa terjadi.
Dalam kasus Amorim, kekalahan beruntun memperlihatkan bahwa tim belum menemukan identitas permainan. Hal ini berbahaya bagi klub sebesar United, yang setiap musim dituntut bersaing di papan atas Liga Inggris dan Eropa.
Ferguson dulu mampu menjaga momentum bahkan setelah satu atau dua hasil buruk. Ia memastikan skuad tetap fokus, menjaga mental pemain, dan meramu strategi yang membuat tim cepat bangkit. Inilah aspek yang tampaknya masih sulit dilakukan Amorim dalam periode singkatnya di Old Trafford.