Luka Modric kembali membagikan kisah menarik dari perjalanan panjangnya bersama Real Madrid. Gelandang Kroasia itu mengungkap momen emosional ketika Cristiano Ronaldo pernah dibuat menangis oleh Jose Mourinho. Cerita tersebut terjadi saat Madrid berada dalam periode panas persaingan dengan Barcelona dan tengah membangun mental juara.
Selama 13 tahun membela Los Blancos, Modric bekerja dengan banyak pelatih besar. Oleh karena itu, pengalamannya menyimpan banyak cerita di balik layar. Salah satu yang paling jarang terdengar adalah ketegasan Mourinho yang bahkan menyentuh sisi emosional pemain bintang seperti Ronaldo.
Awal Modric di Tengah Era Panas El Clasico
Modric bergabung dengan Real Madrid pada 2012. Saat itu, klub berada di tengah tekanan besar karena dominasi Barcelona asuhan Pep Guardiola. Jose Mourinho bertugas membangun tim yang sanggup menyaingi rival abadi tersebut.
Pada fase awal, Modric sempat kesulitan beradaptasi. Namun, perlahan ia menemukan perannya di lini tengah. Karena kerja keras dan kepercayaan pelatih, Modric berkembang menjadi pemain kunci.
Dalam wawancara dengan media Italia, Luka Modric mengakui peran penting Mourinho. Ia menyebut sang pelatih sebagai sosok spesial yang berpengaruh besar dalam kariernya. Tanpa kehadiran Mourinho, Modric menilai langkahnya di Madrid bisa berbeda.
Ketegasan Mourinho di Ruang Ganti
Saat ditanya tentang pelatih paling keras, Modric langsung menyebut Jose Mourinho. Menurutnya, Mourinho selalu bersikap langsung dan jujur kepada pemain. Sikap tersebut berlaku tanpa memandang status.
Modric kemudian mengungkap satu momen langka. Ia pernah melihat Mourinho membuat Cristiano Ronaldo menangis di ruang ganti. Kejadian itu terjadi setelah Ronaldo dinilai kurang maksimal mengejar bek lawan.
Meski terdengar keras, Modric menilai pendekatan Mourinho sangat adil. Semua pemain diperlakukan sama, termasuk nama besar seperti Sergio Ramos. Karena itu, pesan yang disampaikan selalu jelas dan tegas.
Menurut Modric, kejujuran Mourinho menjadi kunci. Ia menyamakan karakter pelatih Portugal tersebut dengan Massimiliano Allegri. Keduanya dikenal berani berbicara langsung demi kepentingan tim.
Ancelotti, Pelatih Nomor Satu di Hati Modric
Meski Mourinho dianggap paling tegas, Modric memiliki pilihan lain untuk pelatih terbaik. Ia menempatkan Carlo Ancelotti sebagai nomor satu dalam kariernya. Penilaian itu bukan hanya soal taktik.
Modric mengenang hubungan personal yang hangat dengan Ancelotti. Keduanya sering berdiskusi tentang kehidupan, bukan sekadar sepak bola. Karena itu, kepercayaan menjadi fondasi kerja sama mereka.
Menurut Modric, Ancelotti berbeda dari kebanyakan pelatih. Ia memberi kepercayaan penuh kepada pemain. Pendekatan tersebut membuat pemain tampil lebih tenang dan konsisten di lapangan.
Kepercayaan itu terbukti membawa kesuksesan besar. Bersama Ancelotti, Modric meraih banyak gelar penting. Oleh karena itu, sosok pelatih Italia tersebut meninggalkan kesan mendalam.
Pelatih Paling Berpengaruh dalam Hidupnya
Selain pelatih kelas dunia, Modric juga menyebut sosok penting dari masa kecilnya. Ia adalah Tomo Basic, pelatih yang membentuk mental Modric di Kroasia. Peran Basic sangat krusial dalam perjalanan awal kariernya.
Basic mengajarkan cara menghadapi ketidakadilan. Ia menanamkan mental kuat sejak dini. Nasihat itu membantu Modric menghadapi kritik soal fisiknya yang dianggap lemah.
Menurut Modric, kata-kata Basic memberi keyakinan besar. Ia didorong untuk percaya pada kemampuannya sendiri. Karena itu, fondasi mental tersebut terus terbawa hingga level tertinggi.
Babak Baru Bersama AC Milan
Kini, Modric memasuki fase baru kariernya. Di usia 40 tahun, ia bergabung dengan AC Milan secara gratis. Langkah ini menandai babak baru setelah era panjang di Madrid.
Meski demikian, ambisi Modric belum padam. Ia masih menargetkan peran penting bersama tim nasional Kroasia. Bahkan, peluang tampil di Piala Dunia mendatang tetap terbuka.
Perjalanan Modric menunjukkan konsistensi dan ketangguhan mental. Dari Zagreb hingga Madrid, lalu Milan, kisahnya dipenuhi pelajaran berharga. Cerita tentang Mourinho dan Ronaldo menjadi bagian kecil dari perjalanan besar tersebut.
Penutup
Pengakuan Luka Modric membuka sisi lain kehidupan ruang ganti Real Madrid. Ketegasan Jose Mourinho, bahkan terhadap Cristiano Ronaldo, menunjukkan standar tinggi yang diterapkan. Di sisi lain, kehangatan Carlo Ancelotti memberi keseimbangan emosional. Kini, Modric melanjutkan karier di AC Milan dengan pengalaman penuh makna. Kisah panjangnya menegaskan bahwa mental, kejujuran, dan kepercayaan selalu menjadi kunci sukses di level tertinggi sepak bola.






