Mbappe cegah guard of honour menjadi topik hangat usai final Piala Super Spanyol 2026 yang sarat tensi. Kekalahan Real Madrid dari Barcelona dengan skor 2-3 pada laga El Clasico di Jeddah, Senin (12/1/2026) dini hari WIB, tidak hanya meninggalkan cerita di atas lapangan. Oleh karena itu, sikap para pemain Los Blancos setelah pertandingan ikut menyedot perhatian publik.
Final tersebut memastikan Barcelona meraih trofi pertama mereka pada 2026. Dua gol Raphinha menjadi pembeda dalam laga yang berlangsung ketat dan penuh momentum. Selain itu, kemenangan ini menegaskan dominasi Blaugrana dalam duel bergengsi melawan rival abadi.
Namun, sorotan utama justru muncul setelah peluit panjang berbunyi. Real Madrid memilih tidak memberikan guard of honour kepada para pemain Barcelona. Keputusan tersebut memunculkan spekulasi luas, terutama karena dikaitkan langsung dengan peran Kylian Mbappe.
Peran Mbappe dalam Keputusan Kontroversial
Menurut laporan jurnalis Alfredo Martinez, Kylian Mbappe disebut berperan penting di balik keputusan Real Madrid. Penyerang asal Prancis itu terlihat mengarahkan rekan-rekannya untuk menjauh dari area lapangan saat prosesi selebrasi Barcelona dimulai. Karena itu, tidak ada penghormatan simbolis yang diberikan kepada sang juara.
Sikap tersebut langsung memantik perdebatan. Di satu sisi, sebagian pihak menilai keputusan itu mencerminkan rivalitas klasik El Clasico yang kental. Namun, ada pula yang menganggapnya kurang mencerminkan sportivitas dalam sepak bola modern.
Menariknya, Mbappe sendiri tidak tampil sejak awal pertandingan. Ia baru masuk sebagai pemain pengganti di menit-menit akhir. Meski demikian, kehadirannya setelah laga justru lebih banyak dibicarakan dibanding kontribusinya di lapangan.
Kontras dengan Sikap Florentino Perez
Di tengah kontroversi tersebut, Presiden Real Madrid, Florentino Perez, menunjukkan sikap berbeda. Ia terlihat menyambut para pemain Barcelona satu per satu. Perez bahkan memberikan ucapan selamat secara langsung kepada skuad Blaugrana.
Kontras ini memperlihatkan perbedaan pendekatan antara manajemen dan pemain. Perez memilih jalur formal dan diplomatis. Sebaliknya, para pemain Madrid, dengan pengaruh Mbappe, memilih menjaga jarak.
Perbedaan sikap tersebut menambah lapisan cerita di balik final Supercopa. Selain soal hasil pertandingan, dinamika emosional dan psikologis antarpemain menjadi sorotan tambahan.
Jalannya Laga Penuh Drama
Pertandingan final berjalan sengit sejak menit awal. Barcelona membuka keunggulan pada menit ke-36 lewat Raphinha. Gol tersebut lahir dari assist cerdas Fermin Lopez yang memanfaatkan celah di lini belakang Madrid.
Real Madrid merespons jelang turun minum. Vinicius Junior menyamakan kedudukan pada menit 45+2 setelah memaksimalkan rangkaian serangan cepat. Namun, keunggulan itu tidak bertahan lama.
Dua menit berselang, Robert Lewandowski kembali membawa Barcelona unggul. Striker Polandia tersebut menyelesaikan umpan terobosan Pedri dengan penyelesaian berkelas. Bola sempat membentur tiang sebelum masuk ke gawang.
Drama babak pertama belum usai. Gonzalo Garcia mencetak gol penyeimbang pada menit 45+6. Skor 2-2 pun menutup paruh pertama laga yang berlangsung intens.
Gol Penentu dan Ketegangan Akhir Laga
Memasuki babak kedua, tempo pertandingan sedikit menurun. Meski demikian, kedua tim tetap agresif mencari gol kemenangan. Barcelona akhirnya menemukan momen krusial pada menit ke-73.
Raphinha kembali mencatatkan namanya di papan skor. Gol keduanya memastikan keunggulan 3-2 bagi Blaugrana. Oleh karena itu, tekanan beralih sepenuhnya ke Real Madrid.
Situasi semakin dramatis ketika Frenkie de Jong menerima kartu merah pada menit ke-91. Barcelona harus bertahan dengan 10 pemain di masa injury time. Namun, skuad asuhan Hansi Flick mampu menjaga keunggulan hingga laga usai.
Makna Kekalahan bagi Real Madrid
Kekalahan ini menjadi pukulan bagi Real Madrid. Selain gagal meraih trofi perdana pada 2026, mereka juga harus menghadapi sorotan atas sikap pascalaga. Keputusan tidak memberikan guard of honour mempertegas betapa emosionalnya rivalitas El Clasico.
Bagi Barcelona, kemenangan ini membawa kepercayaan diri tinggi. Trofi Supercopa menjadi modal penting menghadapi fase berikutnya musim ini. Selain itu, performa kolektif tim menunjukkan efektivitas strategi Hansi Flick.
Penutup
Final Piala Super Spanyol 2026 menyajikan drama lengkap, baik di dalam maupun di luar lapangan. Kylian Mbappe menjadi figur sentral dalam keputusan Real Madrid menolak guard of honour. Oleh karena itu, laga ini tidak hanya dikenang karena skor 3-2, tetapi juga karena simbol rivalitas, emosi, dan makna sportivitas dalam sepak bola modern.






