Thursday, January 8, 2026
No menu items!
asia9QQ  width=
HomeLiga InggrisLima Alasan Pemecatan Ruben Amorim Dinilai Blunder, Manchester United Buat Keputusan Tepat?

Lima Alasan Pemecatan Ruben Amorim Dinilai Blunder, Manchester United Buat Keputusan Tepat?

Keputusan Manchester United memecat Ruben Amorim kembali memantik perdebatan luas. Meski performa tim belum stabil di Premier League, langkah tersebut dinilai berisiko karena mengulang pola lama yang kerap berujung buntu. Oleh karena itu, pemecatan ini disebut berpotensi menjadi blunder baru bagi Setan Merah, alih-alih solusi jangka pendek.


Mengulang Pola Lama Tanpa Arah Jelas

Manchester United kembali terjebak dalam kebiasaan lama: mengganti pelatih di tengah musim dengan harapan efek instan. Pola ini terdengar familiar karena sebelumnya kerap terjadi pasca era Sir Alex Ferguson. Namun, hasilnya jarang konsisten dan sering menimbulkan masalah lanjutan.

- Advertisement -
asia9QQ

Catatan Amorim memang tidak impresif, dengan rata-rata 1,24 poin per laga liga. Meski begitu, angka tersebut sejatinya selevel dengan beberapa manajer lain yang pernah bertahan lebih lama. Oleh karena itu, pemecatan dini justru memperkuat kesan bahwa klub belum belajar dari pengalaman.

Selain itu, pergantian pelatih tanpa pramusim membuat adaptasi menjadi sulit. Skuad yang dibangun untuk filosofi sebelumnya sering tidak sinkron dengan pendekatan pengganti. Akibatnya, masalah lama kembali muncul dan menghambat progres tim.


Minim Opsi Pengganti yang Benar-Benar Ideal

Pemecatan manajer umumnya dibenarkan jika klub telah menyiapkan pengganti yang jelas lebih baik. Namun, situasi tersebut tidak terlihat di Manchester United saat ini. Pasar pelatih elite sedang tidak bersahabat.

Tidak ada nama sekelas Jurgen Klopp atau Pep Guardiola yang siap direkrut dalam waktu dekat. Karena itu, United berisiko kembali bertaruh pada opsi interim atau pelatih dengan profil serupa. Selain itu, langkah ini membuka peluang terulangnya siklus kegagalan.

Di sisi lain, penunjukan caretaker sering hanya bersifat sementara. Tanpa arah jangka panjang yang tegas, stabilitas ruang ganti berpotensi terganggu. Kondisi ini membuat pemecatan Amorim tampak tergesa-gesa.


Target Musim Masih Realistis untuk Dikejar

Terlepas dari inkonsistensi performa, posisi Manchester United di klasemen sebenarnya masih kompetitif. Setan Merah hanya tertinggal selisih gol dari zona lima besar dan berjarak tiga poin dari peringkat empat. Dengan separuh musim tersisa, target kembali ke Eropa masih dalam jangkauan.

Karena persaingan liga sangat ketat, inkonsistensi tidak hanya dialami United. Klub-klub besar lain juga mengalami fluktuasi performa. Oleh karena itu, kesabaran seharusnya menjadi opsi rasional ketimbang pergantian mendadak.

Selain itu, jadwal sisa musim memberi peluang perbaikan. Dengan penyesuaian taktik dan rotasi pemain, peluang mengamankan tiket Eropa masih terbuka lebar.


Data Statistik Menunjukkan Fondasi Positif

Jika menilik data dasar, performa United di bawah Amorim tidak sepenuhnya buruk. Berdasarkan expected goals (xG), hanya dua tim yang berada di atas mereka. Bahkan, selisih xG United termasuk yang terbaik di liga.

Dalam 13 dari 20 laga, United menciptakan xG lebih tinggi dibanding lawan. Fakta ini menunjukkan bahwa kualitas permainan sering kali lebih baik daripada hasil akhir. Oleh karena itu, hasil minor tidak selalu mencerminkan performa sesungguhnya.

Lebih lanjut, klasemen expected points menempatkan United di posisi empat besar. Data ini mengindikasikan bahwa dengan sedikit perbaikan, tren positif bisa berlanjut tanpa perlu pergantian pelatih.


Citra Manajemen Terlihat Tidak Konsisten

Alasan paling krusial terletak pada citra manajemen klub. Sebelumnya, United menyatakan komitmen terhadap proses jangka panjang. Amorim bahkan mendapat dukungan penuh meski hasil musim lalu mengecewakan.

Manajemen juga membekali Amorim dana signifikan untuk membangun tim sesuai filosofi yang diyakini. Namun, perubahan arah di tengah jalan justru bertolak belakang dengan narasi kesabaran tersebut. Akibatnya, kepercayaan publik terhadap kebijakan klub kembali dipertanyakan.

Selain itu, inkonsistensi ini berisiko memengaruhi reputasi United di mata pelatih dan pemain potensial. Ketidakpastian arah membuat proyek jangka panjang sulit berkembang.

Beresiko dalam Jangka Panjang?

Pemecatan Ruben Amorim memang terlihat logis dalam jangka pendek, tetapi menyimpan risiko besar dalam konteks jangka panjang. Dengan target musim yang masih realistis, data statistik yang menjanjikan, serta minimnya opsi pengganti ideal, keputusan ini dinilai terlalu tergesa. Jika pola lama terus diulang, Manchester United berpotensi kembali terjebak dalam siklus ketidakstabilan yang sama. Apakah hal ini akan segera berubah dengan pelatih baru? Mari kita saksikan.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
asia9sports

Most Popular

Recent Comments