Kasus Prestianni dan Vinicius Jr kembali memanaskan panggung Liga Champions setelah muncul dugaan ujaran rasis dalam laga play-off 16 besar. Insiden tersebut tidak hanya memicu ketegangan di lapangan, tetapi juga menyeret nama Jose Mourinho ke pusat perdebatan.
Dalam pertandingan itu, Vinicius Jr mencetak gol kemenangan Real Madrid. Seusai menjebol gawang lawan, ia merayakan dengan tarian di dekat tiang sudut. Selebrasi tersebut memicu reaksi dari pemain Benfica dan membuat suasana memanas.
Tak lama kemudian, Vinicius mengklaim menerima ujaran rasis dari gelandang Benfica, Gianluca Prestianni. Ia bahkan sempat keluar lapangan sebagai bentuk protes sebelum akhirnya kembali melanjutkan pertandingan.
Namun, sorotan justru tertuju pada komentar Mourinho selepas laga. Pelatih Benfica itu menyebut selebrasi Vinicius memancing reaksi penonton dan menyatakan dirinya tidak yakin terjadi pelecehan rasial.
Seedorf: Tidak Ada Pembenaran untuk Rasisme
Komentar Mourinho langsung menuai kritik tajam. Clarence Seedorf menjadi salah satu tokoh yang paling vokal menentang pernyataan tersebut.
Mantan gelandang Real Madrid itu menilai Mourinho keliru karena terkesan membenarkan perlakuan rasis. Menurutnya, tidak ada alasan apa pun yang bisa dijadikan pembenaran.
Seedorf menyebut selebrasi, seprovokatif apa pun, tetap tidak dapat dijadikan alasan untuk tindakan diskriminatif. Ia menekankan bahwa rasisme harus ditolak tanpa syarat.
Selain itu, ia menilai Mourinho mungkin menyampaikan pesan dengan cara yang kurang tepat. Meski begitu, Seedorf menegaskan dampak pernyataan tersebut tetap bermasalah.
Pernyataan itu menjadi penting karena datang dari sosok yang pernah membela Real Madrid. Dengan demikian, kritik Seedorf memiliki bobot moral dan pengalaman langsung di level tertinggi.
Walcott dan Carragher Ikut Bersuara
Theo Walcott juga menyampaikan kekecewaannya. Mantan pemain Arsenal tersebut menyatakan bahwa pelatih sekelas Mourinho seharusnya lebih berhati-hati dalam situasi sensitif.
Ia mengakui menghormati karier Mourinho di sepak bola. Namun, menurutnya, ada momen ketika seorang pelatih tidak perlu tampil di depan kamera.
Walcott menilai pernyataan Mourinho berpotensi memperkeruh suasana. Oleh karena itu, ia menyayangkan keputusan sang pelatih untuk memberikan komentar terbuka.
Sementara itu, Jamie Carragher melontarkan kritik yang lebih tajam. Analis Sky Sports itu menyebut Mourinho bersikap munafik.
Carragher mengingatkan publik pada sejumlah selebrasi provokatif yang pernah dilakukan Mourinho di masa lalu. Ia mencontohkan momen lari di pinggir lapangan saat melatih Porto dan gestur menaruh tangan di telinga kepada suporter lawan.
Menurut Carragher, seorang pelatih yang pernah melakukan selebrasi emosional tidak seharusnya mengkritik pemain yang merayakan gol. Yang terpenting, ia menegaskan bahwa rasisme tidak bisa dibenarkan dalam kondisi apa pun.
Sikap Mourinho dan Bantahan Prestianni
Di tengah kritik yang berkembang, Mourinho menolak berpihak. Ia menyatakan menerima dua versi cerita berbeda dari Vinicius dan Prestianni.
Pelatih asal Portugal itu mengaku sulit mengambil kesimpulan karena laporan kedua pemain saling bertentangan. Dengan demikian, ia memilih bersikap netral.
Sementara itu, Gianluca Prestianni membantah tudingan rasisme. Melalui media sosial, ia menegaskan tidak pernah melontarkan kata-kata bernada rasial kepada Vinicius.
Bantahan tersebut menambah kompleksitas kasus. Hingga kini, belum ada keputusan resmi yang menjelaskan detail insiden tersebut.
Meski demikian, kontroversi ini kembali mengangkat isu lama di sepak bola Eropa. Rasisme masih menjadi persoalan serius yang kerap muncul di berbagai kompetisi.
Dampak Lebih Luas bagi Sepak Bola
Insiden yang melibatkan Vinicius Jr bukanlah yang pertama. Pemain asal Brasil itu sebelumnya juga pernah menjadi korban dugaan tindakan diskriminatif.
Karena itu, banyak pengamat menilai kasus ini tidak bisa dipandang sebagai peristiwa biasa. Isu rasisme menyentuh aspek fundamental tentang nilai dan etika olahraga.
Selain persoalan di lapangan, pernyataan figur publik memiliki pengaruh besar. Komentar yang dinilai ambigu dapat membentuk opini dan memperkeruh situasi.
Oleh karena itu, sebagian besar mantan pemain sepakat bahwa pesan tegas diperlukan. Tidak ada toleransi terhadap tindakan rasis, terlepas dari konteks provokasi atau selebrasi.
Di sisi lain, perdebatan tentang selebrasi dan provokasi tetap menjadi bagian dinamika sepak bola modern. Namun, batas etika tidak boleh dilanggar.
Kasus ini juga mengingatkan pentingnya mekanisme investigasi yang transparan. Tanpa kejelasan, kontroversi akan terus berkembang dan memicu spekulasi.
Ke depan, semua pihak diharapkan menjaga sikap profesional. Klub, pemain, dan pelatih memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang aman dan adil.
Dengan sorotan tajam dari berbagai pihak, isu ini kemungkinan besar tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Liga Champions kembali dihadapkan pada tantangan besar untuk memastikan integritas kompetisi.






