Kekalahan telak 1-4 dari Norwegia pada Kualifikasi Piala Dunia 2026 bukan sekadar hasil buruk bagi Timnas Italia. Sebaliknya, kekalahan itu menjadi sinyal keras bahwa krisis Azzurri berada pada titik yang semakin mengkhawatirkan. Pertandingan yang digelar di San Siro, Senin (17/11/2025) dini hari WIB, justru menghadirkan pukulan pahit lain di stadion yang seharusnya menjadi benteng bagi Gli Azzurri. Karena itu, publik Italia mulai bertanya-tanya apakah San Siro memang masih layak menjadi markas utama untuk laga-laga penting.
Pada babak pertama, Italia sebenarnya tampil cukup percaya diri. Pergerakan cepat para gelandang, kombinasi umpan pendek, serta tekanan tinggi membuat Norwegia kerepotan. Most importantly, gol dari Pio Esposito membuat pendukung tuan rumah optimistis. Mereka menutup babak pertama dengan keunggulan 1-0, sebuah modal yang seharusnya menjadi titik awal untuk menekan lawan dengan lebih agresif.
Namun, kenyataan berkata lain. Setelah memasuki menit ke-60, performa Italia runtuh secara drastis. Norwegia memanfaatkan setiap celah yang tersedia. Antonio Nusa membuka keran gol, lalu Erling Haaland menambah dua gol melalui serangan balik mematikan. Besides that, Jorgen Strand Larsen turut menyumbang satu gol yang akhirnya menggenapkan penderitaan tuan rumah. Oleh karena itu, Italia harus menerima kekalahan kandang terburuk mereka dalam 70 tahun terakhir.
San Siro, Kandang yang Tak Lagi Bersahabat
Jika melihat catatan selama dua dekade terakhir, San Siro justru lebih sering menghadirkan kekecewaan dibanding kebanggaan. Dalam 13 laga terakhir yang dimainkan di stadion itu, Italia hanya mampu meraih tiga kemenangan. Jumlah tersebut setara tingkat kemenangan sekitar 23 persen saja, angka yang sangat rendah untuk tim sekelas Azzurri.
Selain itu, rentetan laga tersebut memperlihatkan tren yang terus menurun. Dalam beberapa tahun terakhir, tiga pertandingan terakhir di San Siro semuanya berakhir dengan kekalahan. Karena itu, muncul pertanyaan besar di kalangan pendukung: apakah stadion bersejarah tersebut masih memberikan aura positif bagi para pemain?
Faktanya, kemenangan Italia di San Siro dalam 19 tahun terakhir hanya terjadi melawan Denmark (2012), Inggris (2022), dan Ukraina (2023). Sisanya, empat laga berakhir dengan kekalahan dan enam pertandingan berakhir imbang. Tren ini memperlihatkan bahwa mental para pemain sering kali goyah ketika bermain di stadion yang memiliki atmosfer tinggi, tekanan besar, dan ekspektasi yang tidak pernah surut.
Rangkaian Hasil yang Menggambarkan Krisis
Daftar pertandingan Italia di San Siro selama dua dekade juga menunjukkan pola yang sama. Hasil imbang tanpa gol melawan Prancis pada 2007, skor 1-1 melawan Jerman (2013), Kroasia (2014), hingga Swedia (2017), menjadi bukti betapa sulitnya Italia tampil dominan di tempat itu. Setelah itu, kekalahan demi kekalahan hadir, termasuk dari Spanyol (2021), Prancis (2024), serta Jerman (2025). Kekalahan dari Norwegia kini melengkapinya dengan cara paling menyakitkan.
Therefore, krisis yang terjadi bukan hanya soal taktik atau kualitas individu. Ada faktor mental yang terus menghantui. Bahkan Gianluigi Donnarumma, salah satu pilar utama Italia, mengaku bingung dengan hilangnya fokus tim setelah turun minum. Ia menyebut bahwa Italia “hanya bermain selama 45 menit,” sebuah kritik tajam yang menggambarkan betapa rapuhnya mentalitas skuad saat tekanan meningkat.
Masa Depan Markas Azzurri Masih Tanda Tanya
Dengan hasil buruk tersebut, Federasi Sepak Bola Italia mulai mempertimbangkan alternatif stadion untuk laga semifinal play-off. San Siro memang masih menjadi opsi, tetapi Stadio Olimpico di Roma serta Allianz Stadium di Turin juga masuk pertimbangan. Karena itu, pilihan venue akan sangat menentukan suasana dan fokus tim dalam menghadapi laga yang penuh tekanan.
Selain menentukan stadion, Italia juga harus menjaga peluang di jalur play-off. Mereka finis sebagai runner-up Grup I dengan enam kemenangan dan dua kekalahan. This means Italia harus kembali melewati jalur penuh risiko untuk ketiga kalinya secara beruntun.
Di tengah tekanan publik, sejarah kelam beberapa tahun terakhir, dan tuntutan besar para pendukung, Italia menghadapi ujian yang lebih berat dari sekadar pertandingan. Mereka harus menemukan kembali identitas, memperkuat mental, dan memutus kutukan yang kini melekat pada nama besar Azzurri.
Pada akhirnya, hanya perubahan nyata yang mampu membawa Italia kembali ke jalur yang seharusnya. Jika tidak, tren buruk ini akan terus menjadi bayang-bayang yang sulit dihapus.






