Kasus Gianluca Prestianni dan Vinicius Junior di Liga Champions memicu polemik besar usai laga panas antara Real Madrid dan Benfica. Insiden tersebut terjadi pada leg pertama play-off ketika Real Madrid menang 1-0, namun sorotan justru tertuju pada dugaan pelecehan verbal di lapangan.
Dalam pertandingan itu, Vinicius Jr sempat meninggalkan lapangan selama sekitar 10 menit. Ia melaporkan dugaan ucapan rasis kepada wasit setelah terlibat adu argumen dengan Prestianni.
UEFA kemudian mengambil langkah cepat dengan menjatuhkan skorsing sementara kepada gelandang muda Benfica tersebut. Investigasi resmi kini berjalan dan hasilnya akan menentukan sanksi lanjutan.
Kronologi Insiden di Lapangan
Laga berlangsung dengan tensi tinggi sejak awal. Ketegangan meningkat ketika terjadi perselisihan antara Vinicius dan Prestianni di tengah pertandingan.
Dalam rekaman siaran, Prestianni terlihat menutup mulutnya dengan jersey saat berbicara. Tak lama kemudian, Vinicius tampak emosional dan berbicara langsung kepada pengadil.
Situasi tersebut memicu penghentian permainan sementara. Vinicius melaporkan dugaan ucapan rasis yang ia dengar selama perdebatan itu.
Baik Vinicius maupun Kylian Mbappe menyatakan bahwa Prestianni menyebut kata “monyet”. Tuduhan itu menjadi dasar investigasi UEFA.
Jika terbukti bersalah, Prestianni terancam hukuman berat. Regulasi disiplin UEFA memungkinkan sanksi larangan bermain hingga 10 pertandingan.
Klaim Bantahan dari Kubu Prestianni
Di tengah tekanan publik, kubu Prestianni menyiapkan pembelaan resmi. Ia dikabarkan akan membantah penggunaan kata bernada rasial tersebut.
Menurut laporan yang beredar, Prestianni mengklaim menggunakan istilah “maricon”. Kata itu memiliki konotasi homofobik dalam bahasa Spanyol.
Ia disebut mengucapkannya sebagai respons setelah disebut “kerdil” oleh Vinicius. Tinggi badan Prestianni yang sekitar 165 cm menjadi bahan ejekan dalam argumen tersebut.
Meski demikian, pembelaan ini tetap berisiko. Regulasi UEFA secara tegas melarang ujaran rasial maupun homofobik.
Pasal 14 Regulasi Disiplin UEFA mencakup kedua bentuk pelanggaran tersebut. Oleh karena itu, hasil investigasi tetap menjadi penentu utama.
Sementara itu, ejekan terkait fisik tidak secara spesifik masuk dalam kategori pelanggaran berat dalam pasal tersebut. Perbedaan inilah yang menjadi fokus pembelaan pihak Benfica.
Reaksi Kylian Mbappe dan Tekanan Publik
Kylian Mbappe turut angkat suara seusai pertandingan. Ia menyatakan bahwa Prestianni menyebut kata “monyet” hingga lima kali.
Menurut Mbappe, ekspresi wajah lawan menunjukkan keseriusan ucapan tersebut. Ia menilai tindakan seperti itu tidak dapat dibenarkan.
Pernyataan Mbappe memperbesar tekanan publik terhadap UEFA. Banyak pihak menuntut investigasi transparan dan keputusan tegas.
Insiden ini juga kembali menyoroti isu rasisme di sepak bola Eropa. Dalam beberapa tahun terakhir, kampanye anti-diskriminasi terus digencarkan.
Terpenting, otoritas sepak bola berusaha menjaga integritas kompetisi. Setiap kasus pelecehan harus ditangani dengan jelas dan adil.
Sikap Benfica dan Absennya Prestianni
Prestianni dipastikan absen pada leg kedua di Santiago Bernabeu. Meskipun demikian, ia tetap ikut terbang bersama skuad ke Spanyol.
Presiden Benfica, Rui Costa, memberikan dukungan terbuka kepada pemain mudanya. Ia menegaskan bahwa tudingan rasisme belum terbukti.
Costa menyatakan bahwa label rasis tidak adil sebelum keputusan resmi keluar. Ia juga menjamin bahwa karakter Prestianni tidak mencerminkan tuduhan tersebut.
Keputusan UEFA selanjutnya akan sangat menentukan. Jika bukti kuat ditemukan, sanksi berat hampir pasti dijatuhkan.
Sebaliknya, jika tuduhan tidak terbukti, kasus ini dapat membuka perdebatan baru tentang interpretasi ucapan di lapangan.
Dampak terhadap Laga dan Reputasi Klub
Insiden ini memengaruhi atmosfer menjelang leg kedua. Real Madrid dan Benfica kini berada dalam sorotan tajam.
Selain faktor teknis pertandingan, isu disiplin menjadi perhatian utama. Konsentrasi pemain berpotensi terganggu oleh situasi tersebut.
Bagi Real Madrid, kemenangan tipis di leg pertama memberi modal positif. Namun, tensi tinggi tetap membayangi duel penentuan.
Bagi Benfica, absennya Prestianni menjadi kerugian. Meski demikian, tim harus menjaga fokus demi peluang lolos ke babak 16 besar.
Kasus ini menunjukkan pentingnya komunikasi dan kontrol emosi di lapangan. Sepak bola modern menuntut profesionalisme dalam setiap situasi.
UEFA kini memegang peran sentral dalam menyelesaikan perkara ini. Keputusan akhir akan menjadi preseden penting bagi penegakan disiplin di Liga Champions.






