Dua faktor penentu PSIM Yogyakarta menjadi pembahasan menarik seiring performa konsisten tim promosi tersebut di BRI Super League 2025/2026. Hingga pekan ke-17, PSIM mampu bersaing di papan atas klasemen dan membuktikan diri sebagai tim yang solid di tengah ketatnya persaingan liga.
PSIM Yogyakarta Tampil Stabil di Musim Perdana
PSIM Yogyakarta menjalani musim 2025/2026 dengan performa yang relatif stabil. Tim berjuluk Laskar Mataram itu kini menempati peringkat keenam klasemen sementara dengan koleksi 33 poin. Capaian tersebut berasal dari delapan kemenangan, enam hasil imbang, dan tiga kekalahan.
Posisi ini menempatkan PSIM dalam jalur persaingan papan atas. Mengingat status mereka sebagai tim promosi, pencapaian ini tergolong impresif. Oleh karena itu, konsistensi PSIM menjadi sorotan di tengah dominasi klub-klub mapan.
Manajemen klub menilai hasil tersebut bukan kebetulan. Ada keputusan strategis yang diambil sejak awal musim. Dua faktor utama disebut menjadi fondasi performa PSIM hingga paruh kompetisi.
Peran Manajemen dalam Menentukan Arah Tim
Manajer tim PSIM Yogyakarta, Razzi Taruna, menegaskan bahwa klub menjalankan perencanaan dengan pendekatan realistis. Manajemen tidak terburu-buru mengejar target besar tanpa fondasi yang kuat. Fokus utama diarahkan pada stabilitas tim.
Pendekatan tersebut membuat PSIM mampu berkembang secara bertahap. Klub lebih menekankan keseimbangan antara aspek teknis dan non-teknis. Oleh karena itu, setiap keputusan diambil dengan pertimbangan jangka panjang.
Menurut Razzi, konsistensi performa tidak lepas dari kerja kolektif seluruh elemen klub. Mulai dari pelatih, pemain, hingga staf pendukung memiliki peran yang saling melengkapi.
Pemilihan Pelatih Jadi Fondasi Utama
Faktor pertama yang dianggap paling krusial adalah keputusan menunjuk Jean-Paul van Gastel sebagai pelatih kepala. Pengalaman pelatih asal Belanda tersebut dinilai memberi arah kerja yang jelas bagi tim.
Razzi mengakui bahwa kehadiran Van Gastel membawa standar profesional yang tinggi. Setiap sesi latihan dijalani dengan disiplin dan tuntutan yang konsisten. Situasi ini membuat seluruh elemen tim terdorong untuk terus berkembang.
Selain itu, pendekatan Van Gastel membantu PSIM membangun struktur permainan yang rapi. Tim tampil lebih terorganisasi dan mampu menjaga fokus di berbagai situasi pertandingan. Oleh karena itu, PSIM jarang tampil inkonsisten dalam satu rangkaian laga.
Dampak Kepemimpinan Jean-Paul van Gastel
Kepemimpinan Van Gastel tidak hanya terlihat dari sisi taktik. Ia juga berperan besar dalam membangun mental bertanding para pemain. Pendekatan komunikatif membuat pemain memahami peran masing-masing di lapangan.
Di sisi lain, manajemen mengaku banyak belajar dari pengalaman sang pelatih. Proses evaluasi berjalan setiap hari, sehingga klub tidak terjebak pada zona nyaman. Pola kerja ini mendorong PSIM tumbuh secara struktural.
Melihat dampak positif tersebut, manajemen mulai mempertimbangkan kerja sama jangka panjang. Langkah ini ditempuh untuk menjaga kesinambungan prestasi. Oleh karena itu, PSIM berharap Van Gastel mendapat ruang bekerja secara optimal.
Pemain Asing Berpengalaman Jadi Faktor Kedua
Selain pelatih, faktor kedua yang menopang performa PSIM adalah kontribusi pemain asing. Klub memilih legiun impor dengan pendekatan pengalaman, khususnya yang sudah mengenal atmosfer sepak bola Indonesia.
Mayoritas pemain asing PSIM pernah tampil di kompetisi nasional. Kondisi ini membuat proses adaptasi berjalan lebih cepat. Oleh karena itu, mereka bisa langsung memberi dampak sejak awal musim.
Razzi menilai pemilihan pemain asing dilakukan dengan prinsip kecocokan peran. Klub tidak hanya melihat nama besar, tetapi juga kebutuhan tim. Pendekatan ini membuat keseimbangan skuad tetap terjaga.
Stabilitas dari Legiun Impor
Dari sembilan pemain asing PSIM, enam di antaranya memiliki pengalaman bermain di Indonesia. Mereka adalah Ezequiel Vidal, Deri Corfe, Ze Valente, Rakhmatsho Rakhmatzoda, Nermin Haljeta, dan Yusaku Yamadera. Keenam pemain ini menjadi tulang punggung di berbagai lini.
Kehadiran mereka memberi stabilitas di tengah jadwal kompetisi yang padat. Selain itu, komunikasi di lapangan berjalan lebih efektif karena pemahaman terhadap gaya liga sudah terbentuk. Hal ini mengurangi risiko adaptasi yang terlalu lama.
Kontribusi pemain asing juga membantu pemain lokal berkembang. Kolaborasi ini membuat PSIM memiliki kedalaman skuad yang cukup kompetitif.
Tantangan Menjaga Konsistensi hingga Akhir Musim
Meski berada di jalur positif, PSIM menyadari bahwa tantangan masih panjang. Persaingan di papan atas BRI Super League sangat ketat. Setiap tim memiliki kualitas yang relatif merata.
Oleh karena itu, konsistensi menjadi pekerjaan utama PSIM pada putaran kedua. Klub harus menjaga fokus dan disiplin agar performa tidak menurun. Rotasi pemain dan manajemen kebugaran juga menjadi aspek penting.
Manajemen menegaskan bahwa target realistis tetap menjadi prioritas. PSIM ingin terus berkembang tanpa kehilangan identitas permainan. Pendekatan ini diharapkan menjaga stabilitas hingga akhir musim.






