Tuesday, February 24, 2026
No menu items!
asia9QQ  width=
HomeLiga InggrisDari Royal Rumble ke Clean Sheet: Senne Lammens Jadi Tembok Kokoh Manchester...

Dari Royal Rumble ke Clean Sheet: Senne Lammens Jadi Tembok Kokoh Manchester United di Goodison Park

Dari royal rumble ke clean sheet, Senne Lammens menjalani malam sempurna saat Manchester United menang tipis 1-0 di kandang Everton. Dalam laga Premier League yang sarat duel fisik dan tekanan bola mati, kiper muda itu tampil sebagai figur sentral kemenangan tim tamu.

Pertandingan di Goodison Park berjalan ketat sejak awal. Everton mengandalkan sepak pojok dan crossing untuk menekan pertahanan United. Namun, ketenangan Lammens di bawah mistar membuat semua ancaman itu gagal berbuah gol.

- Advertisement -
asia9QQ

Kemenangan ini bukan sekadar soal tiga poin. Yang terpenting, United menunjukkan peningkatan soliditas di lini belakang. Performa sang penjaga gawang menjadi fondasi utama keberhasilan tersebut.

Kotak Penalti Premier League yang Semakin Brutal

Sepak pojok di Premier League musim ini kerap berubah menjadi adu fisik ekstrem. Blok, tarikan, dan perebutan posisi terjadi hampir di setiap pengiriman bola. Situasi tersebut membuat ruang gerak kiper semakin sempit.

Wasit sering kesulitan mengawasi semua kontak kecil di tengah kerumunan. Oleh karena itu, organisasi pertahanan saja tidak cukup. Tim membutuhkan kiper yang berani mengambil keputusan cepat.

Manchester United memilih pendekatan sederhana namun efektif. Mereka mempercayakan area udara sepenuhnya kepada Lammens. Keberanian keluar dari garis gawang menjadi senjata utama.

Dalam konteks laga melawan Everton, pilihan itu terbukti tepat. Tekanan bola mati tuan rumah terus berdatangan. Namun, respons Lammens selalu terukur dan tegas.

Malam Sibuk Senne Lammens di Goodison Park

Everton mencatat 10 sepak pojok sepanjang laga. Sebaliknya, United hanya memperoleh satu kesempatan serupa. Selain itu, tuan rumah melepaskan 35 crossing, jauh lebih banyak dibanding enam milik tim tamu.

Tekanan demi tekanan diarahkan ke kotak penalti. Meski demikian, Lammens tampil tanpa panik. Ia menangkap dua crossing secara bersih dan memukul keluar empat bola lainnya.

Beberapa momen memperlihatkan betapa padatnya situasi di depan gawang. Tubuh lawan dan rekan setim saling berdesakan. Bahkan, Lammens sempat terdorong mendekati garis gawang.

Usai pertandingan, ia mengakui situasi tersebut sangat menantang. Dalam wawancara dengan Sky Sports, Lammens menyebut dirinya sampai harus berdiri di belakang garis untuk maju menyambut bola. Pernyataan itu menggambarkan intensitas laga.

Namun, tekanan tidak membuatnya kehilangan fokus. Ia tetap menjaga komunikasi dengan lini belakang. Koordinasi itu membantu United meredam ancaman berulang.

Statistik, Clean Sheet, dan Pujian Pelatih

Tekanan Everton akhirnya tidak membuahkan hasil. Manchester United mencatat clean sheet ketiga dalam enam laga di bawah asuhan Michael Carrick. Sebelumnya, tim hanya meraih dua clean sheet dari 16 pertandingan.

Perubahan ini menunjukkan peningkatan signifikan. Carrick menyebut performa Lammens sebagai teladan bagi tim. Ia menilai sang kiper memberi rasa aman dalam situasi sulit.

David Moyes juga melontarkan pujian. Manajer Everton itu menyebut Lammens tampil sangat brilian. Ia bahkan mengakui rencana bola mati timnya tidak berjalan sesuai harapan.

Secara statistik, Lammens memimpin kategori expected goals prevented per 90 menit musim ini. Saat melawan Everton, angkanya mencapai 0,86. Data itu menegaskan kontribusi nyata di atas lapangan.

Penyelamatan krusial terjadi pada menit ke-83. Lammens menggagalkan tembakan jarak jauh Michael Keane yang mengarah ke sudut gawang. Momen tersebut menjaga keunggulan United hingga akhir laga.

Lebih dari Sekadar Aksi Spektakuler

Meski satu penyelamatan akrobatik mencuri perhatian kamera, kekuatan utama Lammens terletak pada dasar permainan. Ia menahan free kick James Garner tanpa memantulkan bola ke area berbahaya.

Selain itu, ia mematikan peluang Tyrique George dengan teknik yang bersih. Keputusan sederhana seperti itu menghindarkan tim dari peluang rebound. Dalam laga penuh tekanan, detail kecil sangat menentukan.

Pendekatan ini menunjukkan kematangan di usia 23 tahun. Lammens tidak hanya bereaksi, tetapi juga membaca arah permainan. Keberanian keluar dari sarang duel fisik menjadi pembeda.

Carrick bahkan melihat kemiripan karakter dengan Edwin van der Sar. Sosok legendaris tersebut juga memuji Lammens sebagai pundit. Perbandingan itu tentu menjadi dorongan moral.

Pada akhirnya, kemenangan 1-0 di Goodison Park menegaskan pentingnya peran kiper modern. Di tengah brutalnya duel kotak penalti Premier League, ketenangan menjadi nilai tertinggi.

Lammens tidak sekadar mencatat clean sheet. Ia mengirim pesan kuat tentang kapasitasnya sebagai penjaga gawang utama. Jika konsistensi terjaga, posisinya di bawah mistar United akan semakin kokoh.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
asia9sports

Most Popular

Recent Comments