Como 1907 sukses naik daun pada musim 2025/2026 dan langsung mencuri perhatian publik Serie A. Klub promosi ini tampil berani, progresif, serta konsisten bersaing dengan tim papan atas. Oleh karena itu, performa mereka kerap dipuji sebagai salah satu kejutan terbesar kompetisi musim ini.
Di balik tren positif tersebut, muncul satu fakta yang memantik perdebatan. Dalam dua laga terakhir melawan Fiorentina dan Atalanta, Como menurunkan starting XI tanpa satu pun pemain Italia. Kondisi ini membuat identitas klub kembali dipertanyakan, terutama di tengah isu regenerasi pemain lokal di sepak bola Italia.
Fenomena tersebut bukan sekadar kebetulan. Situasi ini lahir dari pendekatan teknis dan filosofi permainan yang diterapkan pelatih mereka, Cesc Fabregas. Meski mengandalkan banyak pemain asing, Fabregas menilai langkah itu sebagai bagian dari proses membangun fondasi jangka panjang.
Performa Menanjak Como di Serie A
Kiprah Como 1907 pada musim ini menunjukkan karakter yang jelas. Sebagai tim promosi, Como tidak bermain bertahan semata. Mereka justru tampil proaktif dengan penguasaan bola dan intensitas tinggi sejak menit awal.
Hasilnya terlihat dari konsistensi poin yang diraih. Como mampu menahan bahkan mengalahkan beberapa tim mapan Serie A. Karena itu, posisi mereka relatif aman dari zona degradasi, sebuah pencapaian penting bagi klub yang baru naik kasta.
Keberanian tersebut juga tercermin dari pemilihan pemain. Fabregas tidak ragu menurunkan komposisi yang ia anggap paling sesuai secara taktik. Selain itu, ia lebih mengutamakan kecocokan gaya bermain ketimbang faktor kewarganegaraan.
Namun, di sinilah perdebatan muncul. Minimnya pemain Italia di lapangan dinilai kontras dengan tradisi klub-klub Serie A yang biasanya mengandalkan talenta lokal. Fakta ini pun menjadi topik hangat di kalangan pengamat dan pendukung sepak bola Italia.
Ketimpangan yang Disadari Cesc Fabregas
Fabregas sendiri tidak menutup mata terhadap kritik tersebut. Ia secara terbuka mengakui adanya ketimpangan dalam komposisi skuad. Menurutnya, kondisi ini bukan pilihan ideal, melainkan konsekuensi dari realitas sepak bola Italia saat ini.
Pelatih asal Spanyol itu menegaskan bahwa ia tetap ingin mengembangkan pemain lokal. Namun, Fabregas menilai sistem kompetisi di Italia sering kali kurang memberi ruang bagi pemain muda untuk berkembang secara berkelanjutan. Karena itu, banyak talenta Italia kesulitan memenuhi tuntutan permainan cepat dan teknis yang ia terapkan.
Ia juga menyoroti budaya instan yang masih kuat. Pemain muda sering langsung tersingkir jika tidak tampil meyakinkan dalam satu atau dua pertandingan. Oleh karena itu, Fabregas memilih pemain yang siap secara taktik, meski harus mengandalkan banyak pemain asing.
Pendekatan ini membuat Como tampil lebih stabil. Selain itu, para pemain asing tersebut relatif cepat beradaptasi dengan filosofi permainan Fabregas. Alhasil, identitas permainan Como terbentuk dengan jelas, meski komposisi skuadnya tidak mencerminkan mayoritas pemain lokal.
Dampak Minimnya Pemain Lokal di Lapangan
Minimnya pemain Italia di starting XI memicu diskusi lebih luas. Beberapa pihak menilai kondisi ini berpotensi menghambat regenerasi pemain nasional. Apalagi, Serie A selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung talenta Italia.
Namun, ada pula sudut pandang lain. Keberhasilan Como menunjukkan bahwa kualitas permainan tetap menjadi prioritas utama. Selama klub mampu bersaing dan berkembang, komposisi pemain dianggap sebagai pilihan teknis yang sah.
Selain itu, keberadaan pemain asing tidak otomatis menutup peluang pemain lokal. Dalam konteks Como, persoalannya lebih pada ketersediaan talenta yang sesuai dengan kebutuhan tim. Karena itu, kritik yang muncul sering kali diarahkan pada sistem pembinaan nasional, bukan semata kebijakan klub.
Fakta bahwa data menit bermain menunjukkan dominasi pemain asing memperkuat argumen tersebut. Como hanya memaksimalkan sumber daya yang tersedia. Oleh karena itu, perdebatan ini lebih kompleks daripada sekadar soal identitas.
Membangun Masa Depan dari Dalam Klub
Meski saat ini bergantung pada pemain asing, Como tidak menutup pintu bagi pemain Italia. Fabregas dan direktur olahraga klub terus berupaya merekrut talenta lokal muda. Namun, persaingan pasar menjadi tantangan besar.
Banyak pemain muda potensial sudah terikat kontrak panjang dengan klub elite. Kondisi ini membuat Como sulit bersaing dalam perekrutan langsung. Oleh karena itu, klub memilih jalur lain yang lebih realistis.
Sebagai solusi, Como fokus mengembangkan akademi internal. Tim Primavera dijadikan fondasi utama proyek jangka panjang. Strategi ini bertujuan menciptakan inti skuad berbasis pemain Italia dalam beberapa tahun ke depan.
Hasil awalnya cukup menjanjikan. Tim U-19 Como tampil impresif di kompetisi Primavera 2. Mereka memimpin klasemen dengan produktivitas tinggi dan pertahanan solid. Catatan tersebut menunjukkan bahwa investasi di level akar rumput mulai membuahkan hasil.






