Chelsea tampil dengan performa buruk di babak pertama sebelum akhirnya membalikkan keadaan dan menang dramatis atas West Ham di Stamford Bridge. Dalam laga Premier League tersebut, The Blues sempat tertinggal dua gol dan menghadapi reaksi keras dari publik sendiri. Namun, respons kuat di babak kedua mengubah arah pertandingan dan mengamankan tiga poin penting.
Kemenangan ini tidak hadir tanpa kontroversi dan tekanan emosional. Sorakan bernada cemoohan mengiringi para pemain saat turun minum. Oleh karena itu, laga ini menjadi ujian mental sekaligus momen penting bagi pelatih baru Chelsea, Liam Rosenior.
Babak Pertama Mengecewakan dan Reaksi Publik
Chelsea mengawali pertandingan dengan performa yang jauh dari harapan. Pertahanan mereka lengah saat umpan silang Jarod Bowen lolos dari pengawalan dan berujung gol pembuka West Ham. Situasi tersebut membuat Chelsea kehilangan kendali permainan sejak awal.
Tekanan semakin besar ketika Crysencio Summerville menggandakan keunggulan tim tamu. Sepakan terukurnya dari tepi kotak penalti memperdaya kiper Chelsea. Gol kedua itu membuat suasana Stamford Bridge memanas.
Peluit akhir babak pertama disambut gelombang ketidakpuasan dari tribun. Publik tuan rumah meluapkan frustrasi melalui sorakan cemoohan. Reaksi tersebut mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap performa tim.
Usai laga, Rosenior mengaku memahami respons tersebut. Ia menilai penampilan Chelsea di 45 menit awal memang tidak berada di level yang seharusnya. Menurutnya, kritik dari suporter adalah hal yang wajar.
Respons Terbuka Rosenior terhadap Cemoohan
Rosenior tidak menutup mata terhadap kenyataan pahit di babak pertama. Ia bahkan menyatakan dirinya sendiri akan mencemooh tim jika berada di tribun. Pernyataan ini menunjukkan sikap jujur dan tanggung jawab sang pelatih.
Menurut Rosenior, para suporter justru luar biasa di babak kedua. Dukungan mereka berubah menjadi energi positif setelah melihat reaksi tim di lapangan. Karena itu, ia mengapresiasi peran publik Stamford Bridge dalam kebangkitan Chelsea.
Ia menegaskan bahwa standar di klub sebesar Chelsea sangat tinggi. Ketika tim tampil di bawah ekspektasi, kritik menjadi konsekuensi yang tidak terhindarkan. Sikap ini mencerminkan pemahaman Rosenior terhadap kultur klub.
Selain itu, Rosenior menekankan pentingnya kejujuran dalam evaluasi. Ia tidak mencari pembenaran atas performa buruk. Fokus utamanya adalah bagaimana tim merespons tekanan dengan cara yang tepat.
Kebangkitan Chelsea di Babak Kedua
Selepas jeda, Chelsea tampil dengan intensitas yang jauh berbeda. Mereka bermain lebih agresif dan berani menekan sejak menit awal babak kedua. Perubahan ini langsung memberi dampak nyata.
Joao Pedro memperkecil ketertinggalan melalui sundulan jarak dekat. Gol ini membangkitkan kepercayaan diri tim dan mengubah atmosfer stadion. Chelsea mulai mendominasi penguasaan bola.
Tidak lama berselang, Marc Cucurella menyamakan kedudukan. Ia memanfaatkan kemelut di kotak penalti dan mencetak gol dari jarak dekat. Skor imbang membuat momentum sepenuhnya berpihak kepada tuan rumah.
Kebangkitan tersebut disempurnakan oleh Enzo Fernandez. Gelandang Argentina itu mengecoh kiper Alphonse Areola untuk mencetak gol penentu. Chelsea pun memastikan comeback dramatis dan meraih kemenangan.
Ketegangan dan Kartu Merah
Laga tidak lepas dari tensi tinggi. Insiden terjadi ketika Cucurella didorong Adam Traore, yang memicu keributan massal di lapangan. Wasit menghentikan pertandingan untuk menenangkan situasi.
Setelah peninjauan VAR, Jean-Clair Todibo diganjar kartu merah. Ia dinilai melakukan pelanggaran berat terhadap Joao Pedro. Keputusan ini membuat West Ham harus menyelesaikan laga dengan sepuluh pemain.
Meski demikian, Chelsea tetap fokus menjaga keunggulan. Mereka mengontrol tempo permainan hingga peluit akhir. Kemenangan ini menutup malam penuh emosi di Stamford Bridge.
Tekanan untuk Rosenior dan Tantangan Selanjutnya
Sebagai pelatih baru, Rosenior menyadari tekanan besar berada di pundaknya. Ia bertanggung jawab memenangkan kepercayaan suporter. Menurutnya, hasil dan trofi menjadi tolok ukur utama di Chelsea.
Rosenior menilai awal perjalanannya cukup positif. Enam kemenangan dari tujuh laga di semua kompetisi menjadi catatan penting. Namun, ia menegaskan belum ingin berpuas diri.
Chelsea masih bertahan di seluruh kompetisi musim ini. Meski posisi di perburuan gelar liga belum ideal, peluang tetap terbuka. Oleh karena itu, konsistensi menjadi fokus utama ke depan.
Dalam waktu dekat, Chelsea akan menghadapi tantangan berat. Mereka dijadwalkan bertandang ke markas Arsenal untuk leg kedua Carabao Cup. Tugas ini akan menguji kestabilan performa tim.
Kemenangan atas West Ham memberi dorongan moral penting. Namun, Rosenior memahami bahwa standar Chelsea menuntut lebih dari sekadar comeback. Perjalanan musim masih panjang dan penuh ujian.






