Lima laga tanpa kemenangan kini menjadi bayang-bayang serius bagi Juventus setelah kekalahan 0-2 dari Como pada pekan ke-26 Serie A, Sabtu (21/2) malam WIB. Hasil tersebut memperpanjang tren negatif yang membuat situasi di Turin semakin panas.
Kekalahan itu membuat Juventus FC gagal menang dalam lima laga terakhir di semua ajang. Lebih mengkhawatirkan, tiga pertandingan terakhir berakhir dengan kekalahan beruntun.
Kondisi ini jelas jauh dari ekspektasi awal musim. Padahal, Juventus sempat stabil di zona Liga Champions sebelum performa menurun drastis.
Rentetan Hasil Buruk yang Mengkhawatirkan
Krisis tidak muncul secara tiba-tiba. Sejak awal musim, Juventus sudah menunjukkan inkonsistensi performa.
Manajemen bahkan mengambil langkah tegas dengan mengganti Igor Tudor dan menunjuk Luciano Spalletti sebagai pelatih baru. Pergantian tersebut sempat memberi harapan.
Namun, lima laga terakhir justru menghancurkan optimisme itu. Juventus kalah 0-2 dari Como, dibantai 2-5 oleh Galatasaray, takluk 2-3 dari Inter, imbang 2-2 melawan Lazio, dan menyerah 0-3 dari Atalanta.
Catatan itu menunjukkan tren negatif yang jelas. Dalam lima pertandingan, mereka kebobolan 15 gol dan hanya mencetak enam.
Angka tersebut menyoroti masalah besar di lini belakang. Untuk klub dengan sejarah kuat di Serie A, statistik ini sulit diterima.
Lini Belakang Rapuh dan Transisi Bermasalah
Masalah utama terlihat pada organisasi pertahanan. Juventus sering kehilangan fokus saat menghadapi serangan balik cepat.
Selain itu, koordinasi antarbek belum solid. Beberapa gol tercipta akibat kesalahan individu dan lambatnya reaksi di area penalti.
Transisi dari menyerang ke bertahan juga belum berjalan baik. Gelandang kerap terlambat menutup ruang, sehingga lawan mudah menembus lini kedua.
Spalletti mencoba melakukan rotasi dan perubahan taktik. Akan tetapi, hasilnya belum konsisten.
Yang terpenting, kepercayaan diri pemain terlihat menurun. Situasi ini memengaruhi konsentrasi saat menghadapi tekanan tinggi.
Tekanan Suporter di Allianz Stadium
Kekalahan dari Como di kandang sendiri memicu reaksi keras suporter. Atmosfer Allianz Stadium berubah tegang.
Tribune tidak lagi memberikan dukungan penuh. Beberapa pemain, termasuk Kenan Yildiz, mendapat sorotan tajam.
Tekanan publik meningkat dalam dua pekan terakhir. Ekspektasi tinggi membuat setiap kesalahan langsung disorot.
Dalam situasi seperti ini, mental tim diuji. Jika tidak segera bangkit, tekanan bisa semakin besar.
Tantangan Berat di Liga Champions
Masalah Juventus belum berhenti di Serie A. Mereka akan menghadapi laga penting di Liga Champions.
Juventus dijadwalkan menjamu Galatasaray SK pada leg kedua play-off. Pada pertemuan pertama, mereka kalah dengan skor besar.
Untuk lolos, Juventus harus menang dengan selisih minimal tiga gol. Misi tersebut terasa berat melihat kondisi terkini.
Pertahanan yang bocor menjadi ancaman utama. Selain itu, efektivitas serangan belum maksimal dalam beberapa laga terakhir.
Jika gagal membalikkan keadaan, tekanan terhadap Spalletti akan semakin kuat. Masa depan proyek musim ini bisa dipertanyakan.
Faktor Mental dan Strategi
Selain aspek teknis, faktor mental memainkan peran penting. Kekalahan beruntun memengaruhi rasa percaya diri pemain.
Spalletti perlu membangun kembali solidaritas tim. Pendekatan taktik harus disertai motivasi dan komunikasi intensif.
Juventus masih memiliki kualitas individu. Namun, kualitas tersebut belum terintegrasi dalam permainan kolektif.
Oleh karena itu, konsistensi menjadi kunci utama. Tanpa perbaikan cepat, tren negatif bisa terus berlanjut.
Apakah Juventus Bisa Bangkit?
Musim 2025/2026 belum berakhir. Peluang memperbaiki posisi masih terbuka.
Namun, waktu tidak banyak. Setiap pertandingan kini menjadi penentu arah musim.
Juventus harus segera menemukan keseimbangan antara menyerang dan bertahan. Stabilitas di lini belakang menjadi prioritas utama.
Jika mampu meraih hasil positif di laga berikutnya, kepercayaan diri dapat pulih. Sebaliknya, kekalahan lain akan memperdalam krisis.
Situasi di Turin kini penuh tekanan. Lima laga tanpa kemenangan menjadi alarm serius bagi klub sebesar Juventus.






