Kekalahan 3-1 yang dialami Inter saat menghadapi Bodo/Glimt menjadi sorotan utama pada leg pertama play-off fase gugur Liga Champions 2025/2026. Dalam laga Bodo/Glimt vs Inter yang digelar di Aspmyra Stadion, Kamis 19 Februari 2026 dini hari WIB, wakil Norwegia tampil lebih efektif dan memanfaatkan setiap celah yang ada.
Inter sebenarnya datang dengan status tim berpengalaman di kompetisi Eropa. Namun tuan rumah menunjukkan disiplin tinggi dan serangan balik cepat yang sulit dibendung. Oleh karena itu, hasil ini menempatkan Nerazzurri dalam posisi tertekan jelang leg kedua di Giuseppe Meazza.
Babak Pertama: Gol Fet dan Respons Cepat Inter
Sejak peluit awal berbunyi, Inter langsung mengambil inisiatif serangan. Lautaro Martinez memperoleh peluang pertama pada menit kelima, tetapi lini belakang Bodo/Glimt mampu memblok tembakannya.
Tuan rumah tidak tinggal diam. Perlahan mereka keluar dari tekanan dan mulai berani menekan lewat transisi cepat. Peluang melalui bola mati sempat hadir pada menit kesembilan, meski sundulan Odin Bjortuft belum tepat sasaran.
Tekanan tersebut akhirnya berbuah hasil pada menit ke-20. Sondre Brunstad Fet memanfaatkan rangkaian umpan cepat di kotak penalti dan melepaskan tembakan keras ke sudut atas gawang Yann Sommer.
Gol itu membuat Inter meningkatkan intensitas permainan. Matteo Darmian hampir menyamakan kedudukan enam menit kemudian, namun sepakan kerasnya hanya membentur tiang gawang.
Upaya keras Inter akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-30. Dalam situasi kemelut di kotak penalti, Francesco Pio Esposito memutar badan dan menembak rendah ke pojok gawang. Skor berubah menjadi 1-1.
Menjelang jeda, Inter terus menekan melalui umpan silang dan bola mati. Akan tetapi, pertahanan rapat Bodo/Glimt membuat skor imbang bertahan hingga turun minum.
Babak Kedua: Efektivitas Serangan Balik Jadi Penentu
Memasuki babak kedua, Inter mencoba mempertahankan momentum. Esposito dan Martinez memperoleh peluang beruntun, tetapi penyelesaian akhir belum maksimal.
Sebaliknya, Bodo/Glimt tampil lebih tajam ketika tekanan awal mereda. Pada menit ke-49, Yann Sommer harus bekerja keras menggagalkan tembakan jarak dekat Kasper Hogh.
Kesalahan distribusi bola Inter menjadi titik balik pertandingan. Jens Petter Hauge memanfaatkan situasi tersebut pada menit ke-61 dengan tembakan kaki kiri ke pojok atas gawang.
Tiga menit kemudian, tuan rumah kembali mencetak gol. Serangan balik cepat diakhiri tap-in Kasper Hogh setelah menerima umpan matang dari Ole Didrik Blomberg.
Dua gol dalam rentang waktu singkat itu mengubah arah laga. Inter mencoba merespons lewat pergantian pemain yang dilakukan Cristian Chivu, termasuk memasukkan Marcus Thuram dan Piotr Zielinski.
Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil. Inter menciptakan sejumlah peluang melalui crossing dan tembakan jarak jauh, tetapi Nikita Haikin tampil solid di bawah mistar.
Statistik Tunjukkan Dominasi Inter yang Tak Efektif
Secara statistik, Inter sebenarnya unggul dalam penguasaan bola. Mereka mencatat 58 persen penguasaan dengan total 528 operan dan akurasi 87 persen.
Selain itu, Inter melepaskan 15 tembakan, lebih banyak dibanding delapan milik Bodo/Glimt. Akan tetapi, efektivitas menjadi pembeda utama.
Bodo/Glimt mencatat enam tembakan tepat sasaran dari delapan percobaan. Sementara Inter hanya menghasilkan empat tembakan tepat sasaran.
Data tersebut menunjukkan bahwa tuan rumah lebih efisien dalam memanfaatkan peluang. Serangan balik cepat dan keputusan akhir yang tepat menjadi kunci kemenangan.
Tantangan Berat Menanti di Giuseppe Meazza
Hasil Bodo/Glimt vs Inter 3-1 membuat Nerazzurri harus bekerja ekstra keras pada leg kedua. Defisit dua gol bukan tugas ringan, terutama setelah melihat efektivitas lawan.
Meski demikian, Inter masih memiliki peluang. Bermain di Giuseppe Meazza akan memberi keuntungan dukungan penuh dari suporter.
Yang terpenting, Inter perlu meningkatkan konsentrasi dalam transisi bertahan. Kesalahan distribusi bola seperti di Aspmyra tidak boleh terulang.
Selain itu, lini depan harus lebih klinis dalam memanfaatkan peluang. Banyaknya tembakan tidak berarti tanpa penyelesaian akhir yang tajam.
Bodo/Glimt kini membawa modal besar ke Italia. Namun mereka tetap harus menjaga disiplin, karena Inter dikenal mampu bangkit dalam situasi sulit.
Susunan Pemain dan Performa Individu
Bodo/Glimt tampil dengan formasi 4-3-3. Nikita Haikin menjaga gawang, sementara lini depan diisi Hauge, Hogh, dan Blomberg.
Inter menggunakan skema 3-5-2. Yann Sommer berdiri di bawah mistar, didukung Acerbi, Bastoni, dan Akanji di lini belakang.
Performa Sondre Fet dan Hauge patut mendapat perhatian. Keduanya tampil efektif dan menentukan jalannya pertandingan.
Di sisi Inter, Esposito menunjukkan ketajaman lewat gol penyeimbang. Namun kontribusi tersebut belum cukup menyelamatkan tim dari kekalahan.
Aspmyra kini menjadi ujian berat bagi Nerazzurri. Kekalahan 3-1 memberi tekanan besar menjelang pertemuan kedua pekan depan.
Liga Champions kembali menghadirkan kejutan. Inter harus segera bangkit jika ingin menjaga peluang melaju ke babak 16 besar.






