Rapor pemain Liverpool vs Sunderland menyoroti kontribusi dua bek tengah yang tampil dominan di Stadium of Light. Liverpool menang tipis 1-0 pada Kamis, 12 Februari 2026, berkat sundulan Virgil van Dijk di babak kedua.
Kemenangan ini menjaga asa The Reds dalam perburuan empat besar Liga Inggris. Selain itu, hasil tersebut memutus rekor kandang impresif Sunderland musim ini. Tim asuhan Arne Slot juga memanfaatkan kegagalan pesaing seperti Chelsea dan Manchester United meraih poin penuh.
Sejak menit awal, Liverpool tampil lebih dominan. Florian Wirtz menciptakan sejumlah peluang, namun Robin Roefs tampil sigap di bawah mistar tuan rumah. Meski begitu, tekanan konsisten akhirnya membuahkan hasil lewat situasi bola mati.
Kiper dan Lini Belakang Tampil Solid dan Cukup Tangguh
Alisson Becker mendapat nilai 6 dari 10. Ia jarang menghadapi ancaman serius sepanjang laga. Ketika diuji, Alisson menunjukkan ketenangan dan kontrol yang baik.
Wataru Endo yang dimainkan sebagai bek kanan memperoleh nilai 5. Posisi tersebut bukan peran alaminya sehingga terlihat kurang nyaman. Kontribusi ofensifnya juga minim sebelum akhirnya keluar karena cedera.
Ibrahima Konate menjadi salah satu pemain terbaik dengan nilai 9. Ia memenangi duel fisik dan tampil hampir tanpa cela. Satu blok penting di babak pertama dan tekel krusial di babak kedua menjaga gawang tetap aman.
Virgil van Dijk mendapat nilai 8. Ia mengomando lini belakang dengan tegas dan disiplin. Sundulan terarahnya dari sepak pojok Mohamed Salah memastikan tiga poin bagi Liverpool.
Andrew Robertson mencatat nilai 6. Ia aktif membantu serangan terutama di babak pertama. Namun umpan akhirnya belum cukup tajam untuk menciptakan banyak peluang bersih.
Kreativitas Lini Tengah Dipimpin Wirtz dengan Cukup Baik
Ryan Gravenberch meraih nilai 6. Ia menjaga keseimbangan permainan dengan cukup baik. Meski demikian, kreativitasnya saat menguasai bola masih terbatas.
Alexis Mac Allister memperoleh nilai 5. Gelandang Argentina itu belum kembali ke performa terbaiknya. Beberapa salah umpan sederhana membuat ritme permainan sempat terhambat.
Florian Wirtz tampil menonjol dengan nilai 8. Ia menjadi pusat kreativitas serangan Liverpool. Pergerakan dan visinya membuka ruang bagi rekan setimnya.
Wirtz hampir mencetak gol pada babak pertama. Dua tembakannya ditepis Roefs, sementara satu lainnya membentur tiang. Kontribusinya tetap vital meski tak mencatatkan gol.
Dominasi lini tengah membuat Liverpool mengontrol tempo. Sunderland mencoba menutup ruang, tetapi tekanan The Reds tetap konsisten hingga akhir laga.
Lini Depan Kurang Tajam
Mohamed Salah mendapat nilai 4. Performa winger Mesir itu belum konsisten sepanjang pertandingan. Banyak percobaan dan umpan silangnya terhenti di kaki lawan.
Namun satu sepak pojoknya berbuah assist untuk gol Van Dijk. Peran tersebut menjadi kontribusi penting di tengah performa yang kurang maksimal.
Cody Gakpo juga memperoleh nilai 4. Ia sering memotong ke dalam dari sisi kiri, tetapi pergerakannya mudah dibaca. Beberapa kali ia justru mengganggu ruang gerak rekan setim.
Hugo Ekitike mendapat nilai 5. Pergerakan tanpa bolanya cukup merepotkan lini belakang tuan rumah. Akan tetapi, penyelesaian akhirnya belum klinis.
Striker muda itu sempat mendapat peluang emas lewat sundulan. Sayangnya, bola melenceng dan gagal menggandakan keunggulan Liverpool.
Kontribusi Pemain Pengganti Cukup Solid
Joe Gomez masuk menggantikan Endo yang cedera dan mendapat nilai 6. Ia tampil solid menghadapi tekanan akhir Sunderland. Kehadirannya membantu menjaga stabilitas pertahanan.
Curtis Jones memperoleh nilai 5. Ia bermain melebar di sisi kiri dan kurang konsisten terlibat dalam permainan. Meski begitu, ia sempat menunjukkan teknik individu yang baik.
Federico Chiesa masuk di menit akhir menggantikan Ekitike. Waktu bermain yang singkat membuatnya belum memberi dampak signifikan.
Kemenangan ini menunjukkan ketahanan mental Liverpool. Lini belakang menjadi fondasi utama keberhasilan tim. Van Dijk dan Konate tampil sebagai pilar yang menjaga konsistensi.
Yang terpenting, Liverpool mampu memaksimalkan momen krusial melalui bola mati. Meski lini depan belum tajam, efektivitas pertahanan menjadi pembeda.
Hasil ini membuat Liverpool terus menekan papan atas klasemen. Persaingan menuju zona Liga Champions semakin ketat. Oleh karena itu, konsistensi performa akan sangat menentukan langkah mereka pada sisa musim.






