Wednesday, February 4, 2026
No menu items!
asia9QQ  width=
HomeLiga Indonesia8 Pemain Diaspora Liga 1 Jadi Senjata Garuda di Piala AFF 2026,...

8 Pemain Diaspora Liga 1 Jadi Senjata Garuda di Piala AFF 2026, Peluang Juara Terbuka

Delapan pemain diaspora Timnas Indonesia berpotensi menjadi faktor penentu pada Piala AFF 2026. Perpindahan sejumlah pemain berdarah Indonesia dari luar negeri ke BRI Super League 2025/2026 membuka peluang besar bagi tim nasional tampil dengan kekuatan penuh. Oleh karena itu, situasi ini dinilai sangat menguntungkan dalam persaingan turnamen regional Asia Tenggara.

Dalam beberapa bulan terakhir, tren kembalinya pemain diaspora semakin jelas. Nama terbaru adalah Mauro Zijlstra, striker FC Volendam di Eredivisie, yang dikabarkan segera bergabung dengan Persija Jakarta. Penyerang berdarah Bandung tersebut disebut hanya tinggal menjalani tes medis sebelum menandatangani kontrak berdurasi dua setengah tahun.

- Advertisement -
asia9QQ

Selain Zijlstra, tujuh pemain diaspora lain juga telah merapat ke kompetisi domestik. Fenomena ini menimbulkan pro dan kontra, karena sebagian pihak berharap mereka tetap berkarier di luar negeri. Namun, dari sudut pandang tim nasional, kondisi ini justru menghadirkan keuntungan strategis yang signifikan.

Gelombang Kembalinya Pemain Diaspora

Kepindahan pemain diaspora ke BRI Super League terjadi secara merata di beberapa klub papan atas. Selain Mauro Zijlstra, terdapat nama Jordi Amat dan Shayne Pattynama yang juga memperkuat Persija. Sementara itu, Persib Bandung mendatangkan Thom Haye, Eliano Reijnders, dan Dion Markx.

Di klub lain, Jens Raven memilih Bali United, sedangkan Rafael Struick bergabung dengan Dewa United. Dengan demikian, total ada delapan pemain diaspora yang kini berkompetisi di liga domestik. Jumlah ini cukup signifikan untuk membentuk tulang punggung skuad nasional.

Keputusan kembali ke Indonesia tentu membawa konsekuensi bagi perkembangan karier masing-masing pemain. Namun, secara kolektif, langkah ini memberi dampak langsung terhadap kesiapan Timnas Indonesia menghadapi turnamen non-FIFA.

Keuntungan Besar bagi Timnas Indonesia

Yang terpenting, Piala AFF 2026 tidak masuk kalender FIFA. Artinya, klub-klub luar negeri tidak memiliki kewajiban melepas pemainnya ke tim nasional. Jika para pemain diaspora tersebut masih bermain di Eropa atau liga lain, peluang mereka tampil bersama Timnas Indonesia akan sangat kecil.

Situasi berubah drastis ketika mereka berkarier di dalam negeri. Klub-klub BRI Super League cenderung lebih fleksibel dalam melepas pemain ke tim nasional. Oleh karena itu, pelatih John Herdman memiliki ruang lebih luas untuk memanggil kekuatan terbaiknya.

Keberadaan delapan pemain diaspora ini membuat kedalaman skuad Timnas Indonesia meningkat signifikan. Kombinasi pemain lokal dan diaspora berpengalaman luar negeri menciptakan keseimbangan antara fisik, teknik, dan pemahaman taktik modern.

Mauro Zijlstra dan Opsi Lini Depan

Masuknya Mauro Zijlstra menjadi sorotan tersendiri. Penyerang berusia muda ini memiliki pengalaman menghadapi sepak bola Eropa yang menuntut intensitas tinggi. Oleh karena itu, ia berpotensi menjadi solusi masalah ketajaman yang selama ini menghantui Timnas Indonesia.

Di level internasional, Zijlstra juga sudah pernah merasakan atmosfer pertandingan penting bersama Timnas Indonesia. Pengalamannya menghadapi tim kuat Asia Barat menjadi modal berharga. Jika mampu beradaptasi cepat di Liga 1, peluangnya menjadi andalan di Piala AFF 2026 sangat terbuka.

Selain itu, kehadiran Zijlstra memberi variasi opsi bagi Herdman. Timnas Indonesia tidak lagi bergantung pada satu tipe penyerang, sehingga strategi bisa lebih fleksibel sesuai lawan.

Peta Persaingan Grup A Piala AFF 2026

Pada Piala AFF 2026, Timnas Indonesia tergabung di Grup A bersama Vietnam, Singapura, Kamboja, serta pemenang play-off antara Brunei Darussalam dan Timor Leste. Secara komposisi, grup ini tergolong menantang namun realistis untuk ditaklukkan.

Indonesia dijadwalkan memainkan dua laga kandang melawan Kamboja dan Vietnam. Sementara itu, dua laga tandang akan dijalani kontra Singapura dan pemenang play-off. Dukungan suporter di laga kandang bisa menjadi pembeda penting dalam persaingan grup.

Vietnam masih dipandang sebagai rival terkuat di fase ini. Namun, dengan skuad yang lebih komplet, Indonesia memiliki peluang bersaing secara seimbang. Singapura juga tidak bisa diremehkan, meski performa mereka cenderung fluktuatif.

Misi Mengakhiri Kutukan Runner-up

Sepanjang sejarah Piala AFF, Indonesia dikenal sebagai tim dengan koleksi runner-up terbanyak. Enam kali tampil di final, Garuda selalu gagal mengangkat trofi juara. Fakta ini menjadi beban psikologis yang terus menghantui generasi pemain berikutnya.

Namun, kondisi skuad menuju Piala AFF 2026 berbeda dari edisi-edisi sebelumnya. Kedalaman pemain meningkat, pengalaman internasional bertambah, dan kontinuitas latihan lebih terjaga. Oleh karena itu, optimisme untuk mencetak sejarah pertama kali menjadi juara semakin menguat.

Meski demikian, turnamen singkat seperti Piala AFF selalu menyimpan kejutan. Konsistensi performa, manajemen fisik, dan mental bertanding akan menjadi kunci utama. Dengan persiapan matang, peluang Timnas Indonesia untuk keluar sebagai juara bukan lagi sekadar angan.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
asia9sports

Most Popular

Recent Comments