Timnas Indonesia U-17 tengah bersiap menatap kompetisi penting: Piala Asia U-17 2025. Turnamen ini bukan hanya ajang bergengsi tingkat Asia, tetapi juga menjadi pintu masuk menuju Piala Dunia U-17 2025. Untuk memastikan kesiapan para pemain, pelatih Nova Arianto membawa tim menjalani tiga laga uji coba di Dubai, Uni Emirat Arab. Dari ketiga pertandingan tersebut, hasilnya cukup beragam: menang, imbang, dan kalah.
Meski hasilnya belum sepenuhnya konsisten, setiap laga memberikan pelajaran berharga. Ketiga pertandingan ini menjadi bahan evaluasi sebelum melangkah ke kompetisi yang sebenarnya. Apalagi, di laga pembuka grup C, Indonesia langsung menghadapi lawan kuat: Korea Selatan.
Kemenangan Tipis atas China: Awal Positif dalam Masa Persiapan
Laga pertama dalam rangkaian uji coba dijalani Timnas Indonesia U-17 menghadapi China pada 20 Maret 2025. Dalam pertandingan yang berlangsung ketat itu, Garuda Muda sukses mencuri kemenangan dengan skor 1-0. Gol semata wayang menjadi modal positif di awal pemusatan latihan.
Kemenangan ini tidak hanya memberikan kepercayaan diri bagi tim, tetapi juga menandai bahwa skema taktik yang diterapkan Nova Arianto mulai berjalan. Meskipun hanya unggul satu gol, performa pemain di atas lapangan menunjukkan peningkatan signifikan. Disiplin dalam bertahan dan kecepatan serangan balik menjadi dua kekuatan yang terlihat mencolok dalam pertandingan tersebut.
Menariknya, China juga termasuk peserta Piala Asia U-17 2025 dan tergabung di Grup A. Ini menunjukkan bahwa kemenangan tersebut tidak datang dari lawan sembarangan. Hasil ini menambah motivasi tim untuk terus memperbaiki performa, mengingat lawan-lawan di grup C juga tidak bisa dianggap remeh.
Hasil Imbang Kontra UEA: Ujian Ketahanan Mental Tim
Enam hari setelah laga kontra China, Timnas Indonesia U-17 melanjutkan uji coba menghadapi Uni Emirat Arab (UEA). Pertandingan yang digelar pada 26 Maret 2025 ini berakhir dengan skor imbang 2-2. Meski tidak meraih kemenangan, performa tim memperlihatkan perkembangan di sektor serangan.
Garuda Muda dua kali mampu mencetak gol dalam laga tersebut. Namun, mereka juga harus menerima kenyataan bahwa konsentrasi di lini belakang masih menjadi pekerjaan rumah. Dua gol balasan dari UEA menunjukkan bahwa koordinasi antarlini masih perlu diasah lebih tajam, terutama dalam situasi bertahan.
Uni Emirat Arab sendiri juga menjadi bagian dari Piala Asia U-17 2025 dan masuk ke Grup D. Laga ini menjadi simulasi nyata bagaimana kekuatan tim di Asia semakin merata. Hasil imbang bukan sesuatu yang buruk, tetapi menjadi pengingat bahwa setiap pertandingan akan menuntut fokus tinggi sepanjang 90 menit.
Kekalahan dari Iran: Evaluasi Penting Menjelang Turnamen
Pertandingan ketiga dan terakhir uji coba dijalani Indonesia melawan Iran pada 29 Maret 2025. Dalam laga ini, Garuda Muda harus mengakui keunggulan Iran dengan kekalahan dua gol tanpa balas. Hasil ini menjadi tamparan yang diperlukan, khususnya dalam mempersiapkan mental dan strategi tim sebelum memasuki turnamen resmi.
Iran tampil agresif dan memiliki organisasi permainan yang solid. Mereka berhasil memanfaatkan celah di pertahanan Indonesia dan mengontrol tempo permainan sejak menit awal. Kelelahan fisik dan rotasi pemain juga menjadi faktor yang turut memengaruhi hasil akhir pertandingan tersebut.
Kekalahan ini memang menyakitkan, namun membawa nilai strategis. Tim pelatih dapat melihat secara langsung kelemahan yang perlu diperbaiki. Selain itu, para pemain juga mendapatkan pengalaman menghadapi lawan dengan kualitas tinggi. Ini akan sangat berguna saat menghadapi tim-tim kuat seperti Korea Selatan di babak grup.
Tantangan di Grup C: Korea Selatan Jadi Ujian Terberat
Piala Asia U-17 2025 mempertemukan Timnas Indonesia U-17 dengan tiga tim lain di Grup C: Yaman, Afghanistan, dan Korea Selatan. Dari ketiga lawan tersebut, pelatih Nova Arianto secara terbuka mengakui bahwa Korea Selatan adalah tim paling kuat di grup ini.
Bukan tanpa alasan. Korea Selatan adalah finalis Piala Asia U-17 edisi sebelumnya pada 2023. Mereka hanya kalah dari Jepang di partai final. Pengalaman dan kualitas yang dimiliki Korea Selatan menjadikan mereka sebagai favorit untuk melangkah jauh dalam turnamen.
Nova Arianto menyatakan bahwa meskipun tantangan ini berat, dirinya melihat kesiapan dari para pemain. “Mental, taktik, dan strategi terus kami matangkan. Semoga di laga perdana nanti, pemain bisa tampil maksimal dan fokus sejak menit pertama,” ujarnya.
Fokus Penuh Menuju Laga Pembuka: Waktu untuk Membuktikan Diri
Laga pertama Indonesia akan digelar pada Jumat malam, 4 April 2025, waktu Indonesia Barat. Bertempat di Stadion Prince Abdullah Al Faisal, Garuda Muda akan menghadapi Korea Selatan. Ini akan menjadi pembuktian sejauh mana proses persiapan selama pemusatan latihan dan uji coba membentuk karakter tim.
Meskipun hasil tiga laga uji coba belum sempurna, ada kemajuan signifikan yang terlihat. Tim menunjukkan potensi untuk bersaing, asal mampu menjaga konsistensi permainan dan mengatasi tekanan pertandingan. Semua mata kini tertuju pada bagaimana Fadly Alberto dan rekan-rekannya tampil dalam laga pembuka krusial tersebut.