Kasus kekerasan kembali mencoreng sepak bola nasional setelah seorang pemain Liga 4 Jawa Timur dijatuhi sanksi berat. Komite Disiplin Asprov PSSI Jawa Timur resmi memberikan sanksi larangan beraktivitas seumur hidup kepada Muhammad Hilmi Gimnastiar. Keputusan ini diambil setelah aksi brutalnya dalam laga Liga 4 Jatim dinilai melanggar prinsip sportivitas dan keselamatan pemain.
Insiden tersebut terjadi pada babak 32 besar Grup C Liga 4 Piala Gubernur Jawa Timur 2025/2026. Pertandingan antara Putra Jaya Pasuruan dan Perseta 1970 Tulungagung berlangsung di Stadion Gelora Bangkalan. Aksi kekerasan itu langsung memicu reaksi keras dari berbagai pihak.
Komdis PSSI Jatim menilai kasus ini tidak bisa disikapi dengan hukuman ringan. Oleh karena itu, sanksi terberat dijatuhkan sebagai bentuk ketegasan federasi daerah. Langkah ini diharapkan memberi pesan kuat bagi seluruh insan sepak bola.
Kronologi Aksi Kekerasan di Bangkalan
Pertandingan berjalan ketat sejak menit awal karena kedua tim sama-sama mengejar tiket ke fase berikutnya. Namun, tensi yang tinggi berujung pada insiden fatal di tengah laga. Muhammad Hilmi Gimnastiar melakukan pelanggaran keras terhadap Firman Nugraha Ardhiansyah.
Pelanggaran tersebut berupa tendangan keras ke arah dada lawan. Aksi itu dilakukan jauh dari konteks perebutan bola. Wasit langsung menghentikan pertandingan dan memberikan sanksi kartu merah.
Akibat tendangan tersebut, Firman mengalami luka serius dan harus mendapat perawatan intensif. Insiden ini pun terekam video dan menyebar luas di media sosial. Reaksi publik muncul dengan cepat, menuntut hukuman tegas.
Pelanggaran Berat Kode Disiplin PSSI
Ketua Komite Disiplin Asprov PSSI Jawa Timur, Samiadji Makin Rahmat, memastikan proses pemeriksaan berjalan menyeluruh. Komdis memeriksa laporan wasit, rekaman video, serta keterangan saksi. Hasilnya menunjukkan pelanggaran berat.
Hilmi dinyatakan melanggar Pasal 48 juncto Pasal 49 Kode Disiplin PSSI. Pasal tersebut mengatur larangan tindakan kekerasan yang membahayakan keselamatan pemain lain. Karena itu, hukuman maksimal dianggap layak.
Selain larangan seumur hidup dari seluruh aktivitas sepak bola, Hilmi juga dikenai denda administratif. Besaran denda ditetapkan sebesar Rp2,5 juta sesuai Pasal 78 Kode Disiplin. Sanksi ini bersifat akumulatif dan wajib dijalani.
Menurut Samiadji, tindakan tersebut bukan sekadar emosi sesaat. Komdis menilai ada unsur kesengajaan yang memperparah dampak pelanggaran. Oleh karena itu, keputusan diambil tanpa kompromi.
Efek Jera dan Perlindungan Pemain
Sanksi berat ini memiliki tujuan utama sebagai efek jera. PSSI Jatim ingin memastikan tidak ada toleransi terhadap kekerasan di lapangan. Sepak bola harus menjunjung tinggi keselamatan dan rasa hormat antar pemain.
Selain itu, keputusan ini juga berfungsi sebagai perlindungan bagi pemain lain. Liga 4 menjadi ruang pembinaan, bukan arena tindakan brutal. Jika dibiarkan, insiden serupa berpotensi terulang.
PSSI Jatim menekankan bahwa sepak bola berbeda dengan olahraga bela diri. Setiap pemain wajib mengendalikan emosi, meski pertandingan berlangsung keras. Regulasi ditegakkan agar nilai fair play tetap terjaga.
Langkah tegas ini juga menjadi sinyal bagi klub. Manajemen tim diminta meningkatkan edukasi disiplin kepada pemain. Pembinaan karakter dinilai sama pentingnya dengan pembinaan teknis.
Hak Banding Tetap Dibuka
Meski sanksi bersifat seumur hidup, PSSI Jatim tetap membuka jalur banding. Hak tersebut diberikan sesuai mekanisme yang diatur dalam Kode Disiplin PSSI. Hilmi masih memiliki kesempatan menempuh proses tersebut.
Namun, peluang perubahan keputusan dinilai sangat kecil. Komdis menegaskan bahwa bukti pelanggaran sangat kuat. Rekaman video dan dampak cedera menjadi faktor utama penilaian.
Proses banding nantinya akan ditangani oleh komite yang lebih tinggi. Selama proses berjalan, sanksi tetap berlaku. Hilmi tidak diperkenankan terlibat dalam aktivitas sepak bola apa pun.
Penutup
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi seluruh pelaku sepak bola nasional. Kekerasan di lapangan tidak akan ditoleransi, terutama di level pembinaan seperti Liga 4. Dengan sanksi seumur hidup ini, PSSI Jatim menegaskan komitmennya menjaga marwah sepak bola dan keselamatan pemain. Ke depan, disiplin dan sportivitas diharapkan menjadi fondasi utama setiap pertandingan.






