Kekalahan Sriwijaya FC 0-15 menjadi sorotan besar pada pekan ke-18 Pegadaian Championship musim 2025/2026. Tim berjuluk Laskar Wong Kito itu menelan hasil memalukan saat menghadapi Adhyaksa FC di Stadion Banten Internasional, Kamis (29/1) malam WIB. Skor telak tersebut tidak hanya mencerminkan perbedaan kualitas di lapangan, tetapi juga menegaskan kondisi krisis yang sedang melanda Sriwijaya FC.
Hasil ini menjadi alarm keras bagi Sriwijaya FC yang belum mampu menunjukkan perbaikan signifikan sepanjang musim. Selain itu, kekalahan tersebut semakin memperkuat ancaman degradasi ke Liga 3. Situasi ini jelas memprihatinkan, mengingat status Sriwijaya FC sebagai salah satu mantan raksasa sepak bola nasional.
Dominasi Total Adhyaksa FC Sejak Awal Laga
Sejak peluit awal dibunyikan, Adhyaksa FC langsung mengambil kendali permainan. Intensitas serangan mereka membuat Sriwijaya FC kesulitan mengembangkan permainan. Bahkan, Makan Konate sudah mencetak dua gol ketika laga baru berjalan enam menit. Keunggulan cepat ini langsung mengubah arah pertandingan.
Setelah gol-gol awal tersebut, dominasi Adhyaksa FC semakin terlihat. Aliran bola mereka berjalan lancar, sementara pertahanan Sriwijaya FC tampak rapuh. Oleh karena itu, tekanan terus berlanjut hingga babak pertama berakhir dengan skor mencolok 0-7. Situasi ini menunjukkan ketimpangan yang sangat jelas di atas lapangan.
Memasuki babak kedua, kondisi pertandingan tidak banyak berubah. Adhyaksa FC tetap tampil agresif dan disiplin. Sebaliknya, Sriwijaya FC gagal merespons dengan perbaikan berarti. Delapan gol tambahan pun tercipta hingga laga berakhir dengan skor 15-0.
Pesta Gol dan Performa Tajam Lini Serang Adhyaksa FC
Kemenangan besar Adhyaksa FC tidak lepas dari performa impresif para penyerangnya. Makan Konate tampil menonjol dengan torehan tiga gol. Kontribusinya menjadi kunci dalam membuka keran gol sejak awal pertandingan. Selain itu, pergerakan dan akurasinya kerap merepotkan lini belakang lawan.
Tidak hanya Konate, Ramiro Fergonzi juga menyumbang dua gol penting. Adison Silva bahkan menjadi pencetak gol terbanyak dalam laga ini dengan lima gol. Sementara itu, Miftahul Hamdi turut melengkapi pesta gol lewat dua gol tambahan. Produktivitas tersebut menunjukkan betapa efektifnya lini serang Adhyaksa FC sepanjang pertandingan.
Sebaliknya, Sriwijaya FC terlihat kehilangan koordinasi antar lini. Jarak antarpemain terlalu renggang, sehingga lawan dengan mudah memanfaatkan ruang. Karena itu, kebobolan demi kebobolan terjadi tanpa perlawanan berarti.
Kekalahan Telak Jadi Pola Buruk Sriwijaya FC
Apa yang terjadi dalam laga ini bukanlah insiden tunggal bagi Sriwijaya FC. Sepanjang musim 2025/2026, mereka kerap menjadi sasaran kemenangan besar lawan. Sebelumnya, Sriwijaya FC pernah kalah 0-5 dari Sumsel United, 0-7 dari FC Bekasi City, serta 2-7 saat menghadapi Garudayaksa.
Rangkaian hasil tersebut menggambarkan masalah mendasar yang belum terselesaikan. Selain rapuhnya pertahanan, efektivitas serangan juga menjadi persoalan serius. Oleh karena itu, Sriwijaya FC sering tertinggal jauh sejak awal pertandingan dan gagal bangkit.
Kondisi ini membuat kepercayaan diri pemain semakin menurun. Tanpa perubahan signifikan, pola kekalahan telak berpotensi terus berulang hingga akhir musim.
Posisi Klasemen Kian Memperburuk Situasi
Hingga pekan ke-18, Sriwijaya FC masih terpuruk di dasar klasemen Grup 1. Mereka belum meraih satu pun kemenangan dari 18 laga yang telah dimainkan. Total poin yang dikumpulkan hanya dua, hasil dari dua kali imbang dan 16 kekalahan.
Catatan kebobolan Sriwijaya FC juga menjadi yang terburuk di liga. Mereka telah kemasukan 69 gol dan hanya mampu mencetak 13 gol. Statistik ini menegaskan betapa timpangnya keseimbangan permainan tim sepanjang musim.
Dengan posisi klasemen seperti ini, peluang Sriwijaya FC untuk bertahan di Pegadaian Championship semakin menipis. Selain itu, jarak poin dengan tim di atasnya sulit dikejar dalam sisa pertandingan.
Ancaman Nyata Turun ke Liga 3
Melihat performa terkini, situasi Sriwijaya FC tergolong sangat kritis. Tidak hanya hasil pertandingan yang buruk, kondisi tim juga dinilai jauh dari ideal. Oleh karena itu, kebangkitan dalam waktu singkat menjadi tantangan besar.
Ancaman degradasi ke Liga 3 kini semakin nyata. Bagi klub yang pernah meraih gelar Liga Indonesia dan Copa Indonesia, situasi ini tentu sangat menyakitkan. Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa Sriwijaya FC harus menghadapi risiko tersebut.
Jika tidak ada perubahan drastis, musim depan Laskar Wong Kito berpotensi tampil di kasta ketiga. Kekalahan 0-15 dari Adhyaksa FC menjadi simbol krisis yang belum menemukan jalan keluar.






