Hasil imbang Tottenham vs Manchester City memberi dampak besar pada persaingan gelar Premier League musim ini. Laga yang berakhir 2-2 pada Minggu (1/2/2026) malam WIB tersebut membuat Manchester City kembali kehilangan poin krusial. Situasi ini membuka peluang lebih lebar bagi Arsenal untuk menjauh di puncak klasemen.
Manchester City sempat berada di jalur kemenangan setelah unggul dua gol lebih dulu. Namun, kebangkitan Tottenham di babak kedua mengubah segalanya. Oleh karena itu, pertandingan ini meninggalkan sejumlah pelajaran penting bagi kedua tim.
Awal Dominan Manchester City
Manchester City memulai laga dengan pendekatan agresif. Penguasaan bola langsung dikuasai sejak menit awal. Tekanan tinggi membuat Tottenham kesulitan keluar dari area sendiri.
Gol pembuka lahir pada menit ke-11 melalui Rayan Cherki. Ia memanfaatkan ruang di sisi kanan sebelum melepaskan tembakan akurat. Bola meluncur mulus tanpa mampu dijangkau kiper Guglielmo Vicario.
Keunggulan tersebut memperkuat dominasi tim tamu. Manchester City terus mengontrol tempo permainan. Tottenham tampak kesulitan merespons secara efektif.
Menjelang turun minum, tekanan City kembali membuahkan hasil. Antoine Semenyo mencetak gol kedua lewat penyelesaian sederhana. Umpan terobosan Bernardo Silva membelah pertahanan tuan rumah.
Gol itu membuat City unggul dua gol dan terlihat nyaman. Pada fase ini, The Citizens tampak berada di jalur aman. Namun, cerita laga berubah drastis selepas jeda.
Respons Tottenham di Babak Kedua
Tottenham tampil dengan pendekatan berbeda di babak kedua. Intensitas meningkat dan garis pertahanan didorong lebih tinggi. Tekanan ini mulai mengganggu ritme Manchester City.
Gol balasan hadir pada menit ke-53. Dominic Solanke memanfaatkan situasi di kotak penalti dan memperkecil ketertinggalan. Gol ini memberi dorongan moral besar bagi tuan rumah.
Setelah gol tersebut, atmosfer stadion berubah. Tottenham bermain lebih percaya diri dan berani mengambil risiko. Manchester City mulai kehilangan kontrol permainan.
Perubahan momentum semakin terasa ketika lini tengah Tottenham lebih agresif. Aliran bola City kerap terputus sebelum memasuki area berbahaya. Oleh karena itu, tekanan berbalik mengarah ke pertahanan tim tamu.
Gol Akrobatik yang Mengubah Segalanya
Puncak kebangkitan Tottenham terjadi sekitar 20 menit jelang akhir laga. Dominic Solanke kembali mencatatkan namanya di papan skor. Kali ini, caranya sangat spektakuler.
Umpan silang dari sisi kanan disambut dengan tendangan kalajengking. Bola melambung melewati kiper dan bersarang di gawang. Gol tersebut langsung mengubah arah pertandingan.
Aksi akrobatik itu bukan sekadar gol indah. Momen tersebut mengguncang kepercayaan diri Manchester City. Tottenham pun semakin agresif setelah kedudukan imbang.
Gol penyama ini menegaskan dua wajah Tottenham dalam satu pertandingan. Babak pertama yang pasif berbanding terbalik dengan kebangkitan di paruh kedua. Solanke menjadi simbol perubahan tersebut.
Kekhawatiran di Lini Belakang Tottenham
Meski berhasil bangkit, Tottenham menyisakan kekhawatiran. Bek andalan Cristian Romero tidak kembali bermain di babak kedua. Absennya Romero memunculkan tanda tanya besar.
Tidak terlihat tanda cedera jelas sebelumnya. Pergantian ini membuat spekulasi berkembang soal kondisi fisiknya. Kehilangan Romero bisa berdampak serius ke depan.
Perannya sangat vital dalam organisasi pertahanan. Selain itu, Romero kerap menjadi ancaman dalam situasi bola mati. Tottenham berharap absennya tidak berkepanjangan.
Arsenal Paling Diuntungkan
Hasil imbang ini membawa konsekuensi langsung di papan atas klasemen. Manchester City kehilangan dua poin penting. Situasi tersebut menguntungkan Arsenal.
Sehari sebelumnya, Arsenal meraih kemenangan atas Leeds United. Tambahan tiga poin itu memperlebar jarak di puncak klasemen. Kini, The Gunners unggul enam poin.
Dalam konteks perburuan gelar, hasil di Tottenham Hotspur Stadium terasa signifikan. City gagal memaksimalkan keunggulan dua gol. Oleh karena itu, tekanan semakin besar di kubu The Citizens.
Arsenal menjadi pemenang tidak langsung dari laga ini. Konsistensi mereka mulai membuahkan hasil nyata. Setiap hasil imbang pesaing menjadi keuntungan tersendiri.
Dampak Jangka Pendek bagi City
Bagi Manchester City, hasil ini menambah daftar poin yang terbuang. Keunggulan dua gol seharusnya cukup untuk mengamankan kemenangan. Namun, kelemahan di babak kedua kembali muncul.
Pep Guardiola tentu harus melakukan evaluasi. Stabilitas pertahanan dan manajemen momentum menjadi perhatian utama. Selain itu, respons terhadap tekanan lawan perlu diperbaiki.
Tottenham menunjukkan bahwa City masih bisa disulitkan. Gol Solanke menjadi bukti bahwa satu momen bisa mengubah segalanya. Dalam persaingan ketat, detail kecil sangat menentukan.
Hasil imbang 2-2 ini mempertegas bahwa perebutan gelar belum selesai. Namun, Arsenal kini berada di posisi paling menguntungkan. Manchester City harus merespons cepat jika tidak ingin tertinggal lebih jauh.






