Berakhirnya masa jabatan Ruben Amorim di Manchester United menyisakan beberapa nama pemain yang menjadi rekrutan sang manajer. Selama 14 bulan menangani Setan Merah, Amorim merekrut enam pemain untuk menopang skema 3-4-2-1. Oleh karena itu, evaluasi terhadap kontribusi mereka menjadi krusial untuk menentukan arah tim selanjutnya.
Pilar Serangan yang Langsung Memberi Dampak
Nama Bryan Mbeumo menempati posisi teratas dalam daftar rekrutan paling berhasil. Ia hampir selalu mengisi peran nomor 10 dan menjadi pusat kreativitas serangan. Hingga Amorim pergi, Mbeumo tercatat sebagai top skor tim dengan tujuh gol di semua kompetisi.
Selain produktivitas, pergerakannya membuka ruang bagi rekan setim. Ketika ia absen karena Piala Afrika, daya gedor United langsung menurun. Kondisi tersebut menegaskan betapa sentralnya peran Mbeumo dalam rencana Amorim.
Sementara itu, Matheus Cunha juga menunjukkan adaptasi cepat. Meski tidak selalu tercermin lewat angka gol, keberanian menggiring bola dan kemampuannya menekan lawan memberi dimensi berbeda. Amorim bahkan beberapa kali membelanya dari kritik publik, karena kontribusinya dinilai lebih luas dari statistik dasar.
Kejutan Positif dari Rekrutmen Berbasis Data
Di sektor penjaga gawang, Senne Lammens menjadi contoh sukses pendekatan rekrutmen berbasis data. Datang dengan ekspektasi rendah, kiper 23 tahun itu justru tampil stabil. United hanya menelan dua kekalahan dari 13 laga saat Lammens menjadi starter.
Selain minim kesalahan fatal, kehadirannya meningkatkan rasa aman di lini belakang. Investasi sekitar £18 juta kini terlihat sangat efisien. Oleh karena itu, Lammens dipandang sebagai fondasi jangka menengah yang bisa dipertahankan.
Di lini pertahanan, Ayden Heaven mengalami transformasi signifikan. Setelah sempat terpuruk di awal musim, performanya melonjak pada Desember. Ia bahkan terpilih sebagai pemain terbaik klub bulan tersebut, berkat konsistensi di laga-laga sulit.
Rekrutan Mahal yang Belum Sesuai Harapan
Tidak semua pembelian Amorim berbuah manis. Benjamin Sesko datang dengan banderol tinggi dan ekspektasi besar. Namun, dua gol dari 17 pertandingan jelas belum memadai untuk striker utama.
Meski etos kerja dan kontribusi build-up cukup terlihat, efektivitas di kotak penalti masih menjadi masalah. Beberapa peluang emas terbuang, yang berdampak langsung pada hasil imbang penting. Oleh karena itu, statusnya sebagai investasi besar mulai dipertanyakan.
Situasi serupa dialami Patrick Dorgu. Direkrut untuk peran spesifik sebagai bek sayap, ia belum menunjukkan konsistensi. Keputusan yang terburu-buru dan kualitas akhir yang rendah kerap membuatnya menjadi titik lemah.
Dampak Kritik dan Dinamika Internal
Hubungan Amorim dengan beberapa rekrutan juga memengaruhi performa. Kritik terbuka kepada Dorgu pada November lalu memicu ketegangan internal. Sejak saat itu, kepercayaan diri sang pemain terlihat menurun.
Sebaliknya, pendekatan protektif Amorim terhadap Cunha dan Heaven justru membantu perkembangan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa manajemen pemain memiliki peran besar dalam keberhasilan rekrutmen. Karena itu, evaluasi tidak bisa hanya berfokus pada kualitas teknis.
Selain itu, skema 3-4-2-1 menuntut adaptasi tinggi. Pemain yang cocok dengan sistem ini berkembang pesat, sementara yang kesulitan tampak tertinggal. Faktor ini perlu diperhitungkan oleh pelatih berikutnya.
Warisan Transfer yang Campuran
Secara keseluruhan, enam rekrutan Amorim menghasilkan dampak yang beragam. Beberapa tampil sebagai pilar utama, sementara lainnya justru membebani tim. Meski demikian, tidak semua kegagalan bisa dilekatkan sepenuhnya pada pemain.
Konteks adaptasi, tekanan harga, dan perubahan manajerial turut memengaruhi performa. Oleh karena itu, penilaian akhir seharusnya mempertimbangkan situasi secara menyeluruh, bukan sekadar angka di papan skor.
Penutup
Warisan transfer Ruben Amorim di Manchester United mencerminkan gambaran campuran. Ada pemain yang langsung bersinar dan layak dipertahankan, tetapi ada pula rekrutan mahal yang belum memenuhi ekspektasi. Tantangan berikutnya bagi manajemen adalah memaksimalkan aset yang ada, sambil belajar dari kekurangan agar kesalahan serupa tidak terulang.






