Tuesday, January 13, 2026
No menu items!
asia9QQ  width=
HomeLiga IndonesiaDisiplin Jadi Sorotan: Enam Klub dengan Kartu Merah Terbanyak di BRI Super...

Disiplin Jadi Sorotan: Enam Klub dengan Kartu Merah Terbanyak di BRI Super League 2025/2026

Kartu merah BRI Super League kembali menjadi topik hangat seiring ketatnya persaingan musim 2025/2026. Hingga pekan ke-17, jumlah pemain yang diusir wasit tergolong tinggi dan berdampak langsung pada hasil pertandingan. Situasi ini menunjukkan bahwa disiplin masih menjadi pekerjaan rumah serius bagi sejumlah klub papan atas maupun tim yang berjuang di zona bawah.

Sepanjang paruh musim, kartu merah kerap muncul dalam laga-laga krusial. Oleh karena itu, kehilangan pemain tidak hanya merugikan secara taktis, tetapi juga memengaruhi stabilitas tim dalam jangka panjang. Selain itu, catatan ini memperlihatkan tekanan kompetisi yang semakin meningkat di BRI Super League.

- Advertisement -
asia9QQ

Enam klub tercatat sebagai penerima kartu merah terbanyak hingga pekan ke-17. Menariknya, daftar tersebut diisi oleh tim besar seperti Persib Bandung dan Persija Jakarta, serta klub yang sedang berjuang menjauh dari papan bawah. Kondisi ini menegaskan bahwa masalah disiplin tidak mengenal status tim.

Persija Jakarta dan Masalah Disiplin Berulang

Persija Jakarta menjadi salah satu tim yang paling disorot dalam urusan kartu merah musim ini. Hingga pekan ke-17, Macan Kemayoran sudah mengoleksi enam kartu merah, dua di antaranya berasal dari kartu merah langsung. Angka tersebut menempatkan Persija sejajar dengan Arema FC dan Persebaya Surabaya.

Kartu merah terbaru Persija datang saat menghadapi Persib Bandung. Bruno Tubarao harus meninggalkan lapangan lebih cepat setelah menerima kartu merah langsung. Insiden ini tidak hanya memengaruhi hasil pertandingan, tetapi juga menambah daftar panjang persoalan disiplin Persija.

Pelatih Persija, Mauricio Souza, menilai timnya tidak bermain terlalu agresif. Namun, ia mengakui bahwa kartu merah tersebut memang layak diberikan. Meski begitu, Souza menyoroti konsistensi wasit dalam mengambil keputusan di lapangan, terutama terkait pelanggaran serupa yang tidak selalu berujung hukuman sama.

Selain faktor wasit, Persija juga perlu mengevaluasi kontrol emosi pemain. Karena tekanan laga besar sering memicu reaksi berlebihan, pengelolaan mental menjadi aspek penting agar kesalahan serupa tidak terus berulang di putaran kedua.

Persijap Jepara Paling Banyak Kehilangan Pemain

Persijap Jepara memimpin daftar klub dengan kartu merah terbanyak di BRI Super League 2025/2026. Hingga pekan ke-17, Laskar Kalinyamat sudah menerima tujuh kartu merah. Dari jumlah tersebut, lima di antaranya berasal dari kartu merah langsung.

Catatan ini menunjukkan bahwa Persijap kerap terjebak dalam situasi sulit saat pertandingan berlangsung. Oleh karena itu, kehilangan pemain sering membuat mereka kesulitan menjaga konsistensi permainan hingga laga berakhir. Dampaknya terasa signifikan pada perolehan poin mereka di klasemen.

Pelatih Persijap menyadari bahwa masalah disiplin menjadi salah satu penyebab tim sulit keluar dari tekanan. Selain itu, intensitas bertahan yang tinggi tanpa kontrol emosi sering berujung pelanggaran keras. Situasi ini menuntut perbaikan cepat agar Persijap tidak terus dirugikan oleh kartu merah.

Jika tidak segera dibenahi, tren ini berpotensi menghambat upaya Persijap bertahan di kasta tertinggi. Karena itu, evaluasi internal menjadi agenda wajib menjelang paruh kedua kompetisi.

Persib, Arema, dan Persebaya Tak Luput dari Catatan

Persib Bandung juga masuk dalam daftar dengan lima kartu merah hingga pekan ke-17. Meski jumlahnya lebih sedikit dibanding Persija dan Persijap, catatan ini tetap menjadi perhatian. Terlebih, Persib dikenal sebagai tim dengan organisasi permainan yang relatif rapi.

Arema FC dan Persebaya Surabaya masing-masing mencatat enam kartu merah. Kedua tim ini kerap bermain dengan intensitas tinggi, terutama dalam duel fisik di lini tengah. Akibatnya, risiko pelanggaran keras sulit dihindari jika tidak diimbangi disiplin posisi yang baik.

Madura United melengkapi daftar enam besar dengan lima kartu merah. Bagi Madura United, kartu merah sering muncul pada momen krusial, sehingga memengaruhi peluang mereka mencuri poin penting. Oleh karena itu, pengelolaan tempo dan emosi pemain menjadi kunci perbaikan.

Secara keseluruhan, tingginya angka kartu merah mencerminkan kerasnya persaingan BRI Super League. Namun, disiplin tetap menjadi faktor pembeda antara tim yang konsisten dan tim yang mudah kehilangan momentum.

Dampak Kartu Merah terhadap Persaingan Liga

Kartu merah bukan sekadar statistik, tetapi memiliki dampak nyata pada jalannya kompetisi. Bermain dengan sepuluh pemain memaksa tim mengubah strategi, menguras fisik, dan membuka celah bagi lawan. Karena itu, satu kartu merah dapat menentukan hasil pertandingan.

Selain itu, akumulasi kartu merah berpengaruh pada rotasi pemain. Pelatih harus memutar otak mencari pengganti, sementara stabilitas tim terganggu. Kondisi ini sangat terasa pada jadwal padat di paruh kedua musim.

Oleh karena itu, pengendalian emosi, pemahaman situasi pertandingan, dan komunikasi dengan wasit menjadi elemen penting. Tim yang mampu menjaga disiplin memiliki peluang lebih besar bersaing secara konsisten hingga akhir musim.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
asia9sports

Most Popular

Recent Comments