Pemecatan Ruben Amorim oleh Manchester United (MU) pada 5 Januari 2026 kembali menegaskan satu realitas pahit sejak era emas Sir Alex Ferguson berakhir. Hingga saat ini, Setan Merah belum menemukan figur yang mampu mengembalikan stabilitas dan dominasi jangka panjang. Amorim menjadi nama terbaru dalam daftar panjang manajer yang gagal menjawab ekspektasi besar di Old Trafford.
Awal Transisi yang Penuh Tekanan
Manchester United memasuki era pasca-Sir Alex dengan beban sejarah yang sangat berat. Klub terbiasa menang, konsisten, dan ditakuti di Eropa. Oleh karena itu, setiap manajer baru selalu datang dengan ekspektasi instan.
Keputusan pertama jatuh kepada David Moyes pada 2013. Namun, transisi berjalan buruk. Performa tim menurun drastis dan Moyes hanya bertahan kurang dari satu musim.
Setelah Moyes, klub mulai terbiasa dengan siklus pergantian pelatih. Stabilitas yang dulu menjadi kekuatan utama perlahan menghilang.
Upaya Sementara yang Tak Berlanjut
Legenda klub Ryan Giggs sempat dipercaya sebagai pelatih sementara. Ia memberi dampak positif dalam waktu singkat. Namun, perannya hanya bersifat transisional.
Manchester United lalu menunjuk Louis van Gaal sebagai manajer permanen. Van Gaal membawa pengalaman dan satu trofi Piala FA. Akan tetapi, gaya bermain yang kaku memicu kritik berkepanjangan.
Meski ada gelar, United tetap terasa jauh dari identitas agresif era Sir Alex. Oleh karena itu, perubahan kembali terjadi.
Era Trofi Mourinho yang Tak Bertahan Lama
Penunjukan Jose Mourinho pada 2016 sempat memberi harapan besar. Ia mempersembahkan tiga trofi, termasuk Liga Europa, serta finis sebagai runner-up Premier League.
Namun, pendekatan pragmatis Mourinho memicu konflik internal. Hubungan dengan pemain dan manajemen memburuk. Akhirnya, ia dipecat pada 2018 meski catatan prestasinya relatif baik.
Situasi ini memperlihatkan pola yang mulai berulang. Prestasi jangka pendek tidak cukup tanpa harmoni dan visi jangka panjang.
Atmosfer Positif Tanpa Gelar Besar
Manchester United lalu menunjuk Ole Gunnar Solskjaer. Sosok ini membawa suasana lebih cair dan gaya bermain menyerang. United kembali bersaing di papan atas liga.
Namun, kegagalan meraih trofi besar menjadi titik lemah utama. Meski konsisten di liga, Solskjaer tidak mampu melangkah lebih jauh. Akhirnya, ia juga harus angkat kaki.
Dalam fase ini, United mulai sering menggunakan pelatih interim. Michael Carrick sempat memberi hasil menjanjikan, tetapi tetap bersifat sementara.
Eksperimen Filosofi yang Gagal
Kedatangan Ralf Rangnick sebagai manajer interim membawa filosofi gegenpressing. Harapannya, identitas baru bisa terbentuk cepat.
Namun, implementasi tidak berjalan mulus. United tampil inkonsisten dan gagal menyerap ide permainan secara utuh. Masa jabatan Rangnick pun berakhir tanpa fondasi jelas.
Klub kemudian menunjuk Erik ten Hag. Ia sempat membawa trofi domestik dan struktur permainan lebih rapi. Meski begitu, performa naik turun membuat posisinya terus tertekan hingga akhirnya berpisah pada 2024.
Dampak Singkat dan Harapan Baru yang Kandas
Nama Ruud van Nistelrooy muncul sebagai interim dengan dampak instan. United tampil tajam dalam periode singkat. Namun, perannya kembali bersifat sementara.
Harapan baru kemudian disematkan kepada Ruben Amorim pada November 2024. Ia sukses membawa United ke final Liga Europa. Akan tetapi, performa liga yang stagnan dan konflik struktural mempercepat kejatuhannya.
Dalam 63 laga, rasio kemenangan Amorim hanya 38,1 persen. Angka ini dinilai tidak sepadan dengan ambisi klub.
Pola Masalah yang Berulang
Dari Moyes hingga Amorim, pola kegagalan terlihat jelas. Manchester United kerap berganti arah tanpa memberi waktu cukup. Selain itu, perbedaan struktur manajemen dan peran pelatih sering memicu konflik.
Tekanan instan dari publik dan media juga memperparah situasi. Setiap hasil buruk langsung memicu spekulasi pemecatan. Oleh karena itu, stabilitas sulit tercapai.
Masalah lain terletak pada ekspektasi era Sir Alex yang masih membayangi. Standar lama terus dijadikan tolok ukur, meski konteks sepak bola telah berubah.
Tantangan Mencari Identitas Baru
Manchester United kini kembali berada di titik awal. Kepergian Amorim menambah daftar panjang manajer yang gagal bertahan. Klub harus kembali mencari sosok yang tepat.
Yang terpenting, United perlu menyelaraskan struktur, visi, dan waktu. Tanpa kesabaran dan konsistensi, siklus kegagalan berpotensi terus berulang.






