Rivalitas abadi antara Arsenal dan Manchester United selalu menjadi bahasan menarik jelang duel klasik Premier League. Pertemuan Arsenal dan Manchester United pada pekan ke-23 musim 2025/2026 di Emirates Stadium kembali menghidupkan memori rivalitas panjang dua kekuatan besar sepak bola Inggris.
Rivalitas tersebut tidak hanya tercermin dari persaingan di lapangan. Sejarah juga mencatat sejumlah pemain yang pernah mengenakan seragam kedua klub. Oleh karena itu, kisah mereka selalu relevan setiap kali Arsenal dan Manchester United saling berhadapan.
Mikael Silvestre, Dari Old Trafford ke London Utara
Nama pertama dalam daftar ini adalah Mikael Silvestre. Bek asal Prancis itu menghabiskan hampir satu dekade bersama Manchester United dan menjadi bagian penting era kejayaan klub.
Selama membela United, Silvestre meraih empat gelar Premier League dan satu trofi Liga Champions. Namun, persaingan ketat di lini belakang membuat perannya mulai berkurang menjelang akhir masa baktinya.
Pada 2008, Silvestre memilih pindah ke Arsenal. Sayangnya, kariernya di London Utara tidak berjalan mulus. Ia hanya bertahan dua musim sebelum dilepas ke Werder Bremen karena gagal memberi dampak besar.
Robin van Persie dan Transfer Sarat Kontroversi
Sosok paling ikonik dalam daftar ini tentu Robin van Persie. Ia dikenal sebagai kapten Arsenal dan simbol lini serang The Gunners selama bertahun-tahun.
Pada 2012, Van Persie membuat keputusan besar dengan bergabung ke Manchester United. Kepindahan tersebut memicu reaksi keras dari suporter Arsenal karena statusnya sebagai figur sentral klub.
Namun, langkah itu terbukti tepat secara prestasi. Di musim perdananya, Van Persie membawa United menjuarai Premier League dan keluar sebagai top skor. Oleh karena itu, transfer ini dikenang sebagai salah satu yang paling menentukan dalam sejarah liga.
Danny Welbeck, Produk Akademi yang Menyeberang
Pemain berikutnya adalah Danny Welbeck, lulusan akademi Manchester United. Ia sempat menjadi bagian reguler tim utama dan menunjukkan potensi besar di usia muda.
Cedera dan inkonsistensi kemudian menghambat perkembangannya. Karena sulit mendapat menit bermain stabil, Welbeck memutuskan pindah ke Arsenal pada 2014 untuk mencari tantangan baru.
Di Arsenal, ia bertahan selama lima musim. Namun, masalah cedera kembali muncul. Welbeck hanya mencetak 32 gol dan tidak pernah benar-benar menjadi andalan utama, meski kontribusinya tetap dihargai.
Alexis Sanchez dan Julukan “Mr Piano”
Nama Alexis Sanchez menjadi salah satu transfer paling heboh dalam rivalitas ini. Pada Januari 2018, Manchester United sukses merekrut penyerang terbaik Arsenal saat itu.
Perkenalannya berlangsung dramatis. Sanchez memainkan piano sambil menyanyikan lagu klub, yang kemudian melahirkan julukan “Mr Piano” di kalangan publik Inggris.
Namun, performanya di lapangan tidak sebanding dengan ekspektasi. Ia kesulitan mencetak gol dan gagal menjadi pembeda. Akhirnya, United melepas Sanchez ke Inter Milan setelah periode yang mengecewakan.
Henrikh Mkhitaryan, Bagian dari Kesepakatan Besar
Transfer Sanchez juga melibatkan Henrikh Mkhitaryan. Gelandang asal Armenia itu menjadi bagian dari kesepakatan barter antara kedua klub.
Sebelum pindah ke Arsenal, Mkhitaryan sempat membawa Manchester United menjuarai Liga Europa. Namun, hubungannya dengan Jose Mourinho memburuk, sehingga masa depannya di Old Trafford berakhir.
Di Arsenal, Mkhitaryan bermain selama dua musim. Meski tampil cukup solid, ia tidak berkembang menjadi pemain kunci jangka panjang. Setelah itu, ia melanjutkan karier ke AS Roma dan kemudian Inter Milan.
Rivalitas yang Terus Melahirkan Cerita
Hubungan Arsenal dan Manchester United selalu sarat emosi dan sejarah. Rivalitas yang dahulu dipimpin Arsene Wenger dan Sir Alex Ferguson tetap terasa kuat hingga kini, meski kedua manajer telah lama pergi.
Keberadaan pemain yang pernah membela kedua klub menambah dimensi unik dalam persaingan ini. Mereka menjadi bukti bahwa sepak bola modern dipenuhi dinamika karier dan keputusan profesional.
Oleh karena itu, setiap pertemuan Arsenal dan Manchester United selalu lebih dari sekadar pertandingan. Sejarah, memori, dan kisah para pemain membuat duel klasik ini terus dinantikan penggemar Premier League.
Selain itu, duel di Emirates Stadium selalu menghadirkan konteks baru setiap musim. Perubahan komposisi skuad, pendekatan taktik, serta tekanan target kompetisi membuat rivalitas ini terus berkembang. Meski era Arsene Wenger dan Sir Alex Ferguson telah berlalu, intensitas persaingan tetap terjaga. Karena itu, pertemuan Arsenal dan Manchester United masih menjadi tolok ukur kekuatan, mentalitas, dan ambisi kedua klub di Premier League.






