Para bintang Real Madrid membuat Xabi Alonso menghadapi ujian terberat sepanjang karier kepelatihannya di Santiago Bernabeu. Meski datang dengan status legenda klub dan reputasi mentereng dari Jerman, kepemimpinannya justru memicu ketegangan internal. Oleh karena itu, relasi dengan sejumlah pemain inti menjadi sorotan utama sebelum akhirnya masa jabatannya berakhir. Situasi ini menegaskan bahwa prestasi masa lalu tidak selalu menjamin keharmonisan ruang ganti.
Awal Tantangan Alonso di Bernabeu
Xabi Alonso mengambil alih kursi pelatih Real Madrid dengan ekspektasi luar biasa. Ia datang setelah menorehkan sejarah bersama Bayer Leverkusen, termasuk gelar Bundesliga yang impresif. Selain itu, pengalamannya sebagai mantan pemain Madrid membuat publik yakin ia memahami kultur klub.
Namun, tantangan Alonso bukan hanya soal taktik. Sejak awal musim, pendekatan disiplin dan detail yang ia terapkan memunculkan jarak dengan beberapa pemain senior. Karena itu, adaptasi yang diharapkan berjalan mulus justru menghadirkan friksi halus.
Situasi ini tetap terjadi meski hasil di lapangan tergolong positif. Real Madrid sempat meraih kemenangan penting, termasuk atas Barcelona. Akan tetapi, kemenangan tersebut tidak sepenuhnya menenangkan suasana ruang ganti.
Tiga Nama yang Mulai Meragukan Kepemimpinan
Menurut laporan The Athletic, tiga pemain kunci disebut paling merasakan ketidakcocokan dengan Alonso. Mereka adalah Vinicius Junior, Jude Bellingham, dan Federico Valverde.
Vinicius beberapa kali menunjukkan ekspresi frustrasi di lapangan. Salah satu momen paling disorot terjadi saat ia diganti dalam laga besar, yang memicu reaksi emosional. Selain itu, laporan menyebut negosiasi kontraknya sempat tertahan selama Alonso masih menjabat.
Bellingham dan Valverde juga mengalami ketidaknyamanan. Bellingham merasa perannya terlalu dibatasi secara struktural. Sementara itu, Valverde menyuarakan kekecewaan ketika dimainkan di posisi bek kanan, peran yang dinilainya tidak ideal.
Ketiga pemain ini tetap profesional di pertandingan. Namun, jarak komunikasi dengan pelatih perlahan melebar seiring berjalannya waktu.
Metode Intens dan Dinamika Latihan
Alonso dikenal sebagai pelatih dengan pendekatan taktik rinci. Ia menuntut disiplin tinggi, pemahaman posisi, serta eksekusi presisi. Karena itu, sesi latihan sering berlangsung intens dan penuh instruksi teknis.
Masalah muncul ketika sebagian pemain menilai metode tersebut terlalu kaku. Dibanding era Carlo Ancelotti, suasana latihan terasa lebih tegang. Beberapa pemain bahkan menilai Alonso sulit didekati secara personal.
Ketegangan memuncak pada November saat insiden latihan terjadi. Alonso dikabarkan melontarkan komentar keras karena menilai pemain kurang fokus. Ucapan tersebut meninggalkan bekas mendalam dan memengaruhi rasa hormat di dalam skuad.
Sejak saat itu, hubungan pelatih dan pemain sulit kembali normal. Meski performa tim membaik pada Desember, masalah komunikasi tetap membayangi.
Ruang Ganti yang Terbelah
Menariknya, tidak semua pemain menentang Alonso. Beberapa nama seperti Kylian Mbappe, Aurelien Tchouameni, dan Arda Guler disebut masih mendukungnya. Dukungan ini menunjukkan ruang ganti tidak sepenuhnya bersatu dalam satu sikap.
Namun, Real Madrid adalah klub dengan struktur hierarki kuat. Ketika pemain-pemain berpengaruh merasa tidak nyaman, dampaknya cepat terasa. Oleh karena itu, manajemen mulai menilai situasi sebagai risiko jangka panjang.
Kemenangan atas Barcelona justru memperjelas dilema. Alih-alih memperkuat posisi Alonso, laga tersebut memperlihatkan ketegangan emosional di lapangan. Manajemen akhirnya harus memilih antara mempertahankan proyek pelatih atau menjaga stabilitas ruang ganti.
Akhir Masa Jabatan yang Dramatis
Real Madrid mengumumkan kepergian Alonso sebagai kesepakatan bersama. Namun, laporan lanjutan menyebut keputusan itu lebih menyerupai pemecatan mendadak. Alonso dikabarkan terkejut karena merasa masih mendapat dukungan hasil.
Kekalahan di final Piala Super Spanyol menjadi titik akhir. Manajemen memilih tidak menjatuhkan sanksi kepada Vinicius, langkah yang ditafsirkan sebagai keberpihakan pada pemain. Alonso menilai keputusan itu tidak adil dan mencerminkan budaya Galactico yang sulit diubah.
Kepergian Alonso menutup bab singkat namun penuh gejolak. Ia pergi dengan reputasi manajerial tetap dihormati, tetapi gagal menaklukkan dinamika ruang ganti Madrid.
Penutup
Kisah Xabi Alonso di Real Madrid menegaskan satu pelajaran penting. Di klub sebesar Los Blancos, kepemimpinan bukan hanya soal taktik dan trofi. Yang terpenting, pelatih harus mampu mengelola ego, komunikasi, dan kepercayaan pemain bintang. Tanpa itu, proyek sebesar apa pun berisiko runtuh lebih cepat dari perkiraan.






