Pertandingan Arsenal vs Liverpool berakhir dengan skor tanpa gol di Emirates Stadium. Laga sengit antara dua puncak klasemen itu justru menghasilkan statistik langka. Liverpool catat rekor tanpa satu pun tembakan tepat sasaran sepanjang 90 menit. Ini adalah pertama kalinya dalam 600 pertandingan Premier League, The Reds gagal melepaskan satu shot on target.
Namun, statistik tersebut tidak mencerminkan kualitas pertandingan yang sesungguhnya. Alih-alih mendapat kritik, Liverpool justru mendapat pujian atas kedisiplinan taktiknya. Hasil imbang ini berhasil menghentikan rekor kemenangan kandang sempurna Arsenal musim ini. Poin satu ini terasa sangat berharga bagi perjalanan Arne Slot mengejar sang pemuncak.
Statistik Langka dalam Konteks Positif
Terakhir kali Liverpool mengalami hal serupa terjadi pada Maret 2010. Kala itu, mereka tak menembak tepat sasaran dalam kekalahan dari Wigan Athletic. Momen itu menjadi simbol krisis klub di era kepemilikan Tom Hicks dan George Gillett.
Kini, situasinya benar-benar berbeda. Statistik tanpa shot on target kali ini justru datang dari performa tim yang terorganisir dengan baik. Liverpool menunjukkan kemampuan bertahan yang luar biasa di kandang lawan yang tangguh. Oleh karena itu, reaksi suporter dan analis pun lebih pada apresiasi, bukan kecaman.
Selain itu, Arsenal sendiri kesulitan menciptakan peluang jernih. Mereka gagal melepaskan tembakan antara menit ke-44 hingga menit ke-91. Hal ini membuktikan efektivitas strategi yang diterapkan Arne Slot.
Rencana Taktik Arne Slot yang Efektif
Memasuki laga ini, Liverpool menghadapi tekanan besar. Mereka kehilangan beberapa penyerang kunci karena cedera. Di sisi lain, Arsenal memiliki rekor kandang yang hampir sempurna musim ini. Slot pun merancang pendekatan yang realistis dan disiplin.
Babak pertama menjadi periode bertahan yang tertata rapi. Liverpool sengaja menyerahkan penguasaan bola kepada Arsenal. Mereka memilih fokus menjaga struktur pertahanan dan menutup ruang vital. Strategi ini berhasil meredam serangan pemain-pemain cepat Arsenal seperti Bukayo Saka.
Setelah jeda, Liverpool justru mengambil inisiatif. Mereka mendominasi penguasaan bola hingga mencapai 65 persen di babak kedua. Yang terpenting, tim asuhan Slot menyelesaikan 207 operan di area final Arsenal. Angka ini merupakan rekor tertinggi untuk tim tamu di Emirates dalam lima tahun terakhir.
Dominasi yang Kurang Tajam di Area Final
Meski mendominasi penguasaan bola di babak kedua, Liverpool gagal mengubahnya menjadi peluang berbahaya. Kiper David Raya tidak melakukan satu penyelamatan pun selama pertandingan. Hal ini menjadi catatan penting untuk evaluasi tim.
Beberapa situasi sebenarnya hampir berbuah gol. Conor Bradley hampir mencetak gol spektakuler di babak pertama. Tendangannya yang memanfaatkan kesalahan komunikasi bek Arsenal membentur mistar gawang. Momen itu menjadi peluang terbaik Liverpool sepanjang laga.
Namun, kualitas umpan akhir dan keputusan di kotak penalti masih kurang tajam. Pemain seperti Jeremie Frimpong memang merepotkan pertahanan lawan dengan kecepatannya. Akan tetapi, umpan silangnya kerap belum menemukan sasaran. Slot mengakui bahwa timnya perlu meningkatkan kualitas di sepertiga akhir lapangan.
Cedera Conor Bradley dan Momen Kontroversial
Kemenangan moral Liverpool ternoda oleh insiden cedera serius di akhir pertandingan. Bek kanan Conor Bradley harus ditandu keluar lapangan. Ia menderita cedera lutut setelah sebuah tekel. Pemain asal Irlandia Utara itu meninggalkan stadion dengan menggunakan kruk.
Insiden tersebut diperburuk oleh aksi Gabriel Martinelli. Pemain pengganti Arsenal itu terlihat menjatuhkan bola ke arah Bradley yang terluka. Ia juga berusaha mendorong Bradley agar cepat keluar lapangan. Tindakan ini memicu kemarahan para pemain Liverpool.
Martinelli kemudian meminta maaf secara terbuka atas insiden tersebut. Cedera Bradley sendiri menjadi pukulan besar bagi Liverpool. Ia telah tampil konsisten dan menjadi pilihan utama di posisi bek kanan. Slot kini harus memutar otak mencari pengganti.
Soliditas Pertahanan sebagai Kunci Utama
Di balik statistik menyerang yang kurang baik, performa pertahanan Liverpool patut diacungi jempol. Virgil van Dijk dan Ibrahima Konate tampil sangat solid sebagai duo bek tengah. Mereka berhasil menetralisir ancaman dari penyerang Arsenal.
Milos Kerkez juga mencatatkan penampilan terbaiknya sejak bergabung. Bek kiri itu berhasil meredam permainan Bukayo Saka sepanjang pertandingan. Selain itu, Alexis Mac Allister tampil impresif di lini tengah. Ia membantu baik fase bertahan maupun membangun serangan.
Struktur tim secara keseluruhan tetap rapi meski kedalaman skuad diuji. Arsenal dapat memasukkan pemain-pemain berkualitas seperti Gabriel Jesus dan Eberechi Eze dari bangku cadangan. Sementara itu, Liverpool baru melakukan pergantian di menit-menit akhir. Namun, organisasi mereka tidak goyah.






