Faktor Real Madrid sulit dijagokan menjadi juara Liga Champions menjadi sorotan setelah komentar tajam dari Craig Burley. Mantan pemain Chelsea itu meragukan kapasitas Los Blancos untuk melangkah hingga final musim ini. Ia menilai performa tim belum cukup meyakinkan di fase gugur.
Real Madrid memang sudah lolos ke babak 16 besar usai menyingkirkan Benfica dengan agregat 3-1. Namun, kemenangan tersebut tidak sepenuhnya menunjukkan dominasi mutlak. Selain itu, sejumlah kelemahan masih terlihat jelas dalam permainan mereka.
Burley menyampaikan pandangannya dalam program ESPN FC. Menurutnya, ada pola yang berulang ketika Madrid menghadapi tekanan dari lawan. Berikut tiga faktor yang membuat Real Madrid dinilai belum layak dijagokan sebagai juara.
1. Mentalitas dan Tekanan di Santiago Bernabeu
Salah satu sorotan utama adalah respons mental saat lawan menguasai permainan. Burley melihat Real Madrid kesulitan ketika ritme pertandingan tidak berjalan sesuai rencana. Situasi ini terlihat saat menghadapi Benfica di leg kedua.
Ketika lawan mulai mendominasi penguasaan bola, suasana stadion berubah. Penonton menjadi gelisah dan tekanan meningkat. Kondisi tersebut dinilai memengaruhi konsentrasi pemain di lapangan.
Menurut Burley, dinamika ini bisa menjadi masalah besar saat bertemu tim elite. Fase gugur Liga Champions sering menghadirkan tekanan lebih tinggi. Oleh karena itu, stabilitas mental menjadi kunci utama.
Pada laga melawan Benfica, pertandingan tetap berada dalam situasi tipis hingga akhir. Madrid memang menang, tetapi margin kemenangan tidak terlalu lebar. Hal ini menunjukkan mereka belum sepenuhnya nyaman menghadapi tekanan intens.
Jika pola tersebut terulang saat melawan tim lebih kuat, risiko kebobolan meningkat. Karena itu, faktor mental menjadi perhatian serius menjelang babak 16 besar.
2. Terlalu Banyak Memberi Peluang pada Lawan
Faktor kedua berkaitan dengan organisasi pertahanan. Real Madrid dinilai masih memberikan terlalu banyak peluang kepada lawan. Meski Thibaut Courtois tampil gemilang, ketergantungan pada penyelamatan kiper bukan solusi jangka panjang.
Dalam beberapa pertandingan, lini belakang terlihat kurang solid. Koordinasi antarpemain belum konsisten sepanjang laga. Situasi ini membuat lawan leluasa menciptakan peluang berbahaya.
Burley menilai tim elite seperti Bayern Munich atau Paris Saint-Germain bisa mengekspos celah tersebut. Selain itu, Arsenal dan Barcelona juga memiliki kualitas untuk memanfaatkan kesalahan kecil. Lawan dengan intensitas tinggi akan memaksa Madrid bertahan lebih dalam.
Statistik peluang yang diberikan kepada Benfica menjadi contoh konkret. Meski akhirnya lolos, Madrid tidak sepenuhnya mengontrol jalannya pertandingan. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan menghadapi tim dengan efisiensi lebih tinggi.
Jika pertahanan tidak segera diperbaiki, potensi kebobolan akan semakin besar. Oleh karena itu, konsistensi lini belakang menjadi pekerjaan rumah utama.
3. Ketergantungan pada Momen Individu
Faktor ketiga adalah ketergantungan pada aksi individu. Real Madrid sering mengandalkan momen keajaiban pemain tertentu untuk memenangkan laga. Vinicius Junior dan beberapa gelandang menjadi penentu di momen krusial.
Meski efektif, pola ini tidak selalu berkelanjutan. Tim yang solid biasanya mengandalkan struktur permainan kolektif. Ketika kreativitas individu terhenti, alternatif taktik harus tersedia.
Burley menilai Madrid belum menunjukkan pola dominan yang konsisten. Mereka bisa tampil bagus dalam satu fase, lalu kehilangan kontrol di fase berikutnya. Inkonsistensi ini berpotensi merugikan di laga dua leg.
Pada fase 16 besar, detail kecil sering menentukan hasil agregat. Tim yang terlalu bergantung pada satu atau dua pemain akan lebih mudah diprediksi. Karena itu, variasi serangan menjadi kebutuhan mendesak.
Selain itu, absennya beberapa pemain kunci dalam periode tertentu bisa memengaruhi performa. Tanpa kontribusi maksimal dari seluruh lini, beban akan semakin berat bagi individu.
Ujian Besar di Babak 16 Besar
Real Madrid kini berpotensi menghadapi Manchester City atau Sporting CP. Kedua tim tersebut memiliki pendekatan taktik yang disiplin. Pertandingan nanti diprediksi menjadi ujian nyata bagi Los Blancos.
Manchester City dikenal dengan penguasaan bola yang dominan. Sementara itu, Sporting CP tampil solid dalam transisi cepat. Menghadapi salah satu dari mereka akan menguji stabilitas pertahanan Madrid.
Burley menegaskan bahwa sejauh ini ia belum melihat tanda-tanda kuat menuju gelar. Menurutnya, tim masih perlu menunjukkan peningkatan signifikan. Namun, ia juga mengakui kemungkinan dirinya keliru.
Liga Champions sering menghadirkan kejutan. Real Madrid memiliki sejarah panjang di kompetisi ini. Mental juara dan pengalaman tetap menjadi modal penting.
Meski demikian, kritik yang muncul tidak bisa diabaikan. Perbaikan pada aspek mental, organisasi pertahanan, dan variasi serangan harus segera dilakukan. Tanpa itu, peluang melangkah jauh akan semakin sulit.
Antara Keraguan dan Pembuktian
Komentar Craig Burley mencerminkan pandangan kritis terhadap performa terkini Madrid. Ia menilai tim belum menunjukkan konsistensi sebagai kandidat juara. Namun, perjalanan kompetisi masih panjang.
Real Madrid memiliki waktu untuk membuktikan diri. Setiap laga di fase gugur menjadi kesempatan menjawab keraguan. Yang terpenting, mereka harus memperlihatkan permainan kolektif yang lebih solid.
Jika mampu memperbaiki tiga faktor utama tersebut, peluang tetap terbuka. Akan tetapi, tanpa pembenahan nyata, gelar Liga Champions musim ini akan sulit diraih.






